sumber : pixabay.comsumber : pixabay.com

Beberapa bulan belakangan ini kasus bunuh diri pada kalangan mahasiswa mulai bermunculan. “Depresi” menjadi kata kunci yang menempel pada setiap kasus. Ambil saja sebuah kasus yang terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu. Berdasarkan laporan dari suarajakarta.id, seorang mahasiswa ditemukan tewas bunuh diri setelah lompat dari kamar kosnya yang berada di lantai empat. Menurut laporan warga, mahasiswa tersebut diduga depresi akibat tugas akhir yang sedang dikerjakan. Melihat intensitas kejadian yang cukup sering terjadi di sekitar kampus dengan korban pada rentang umur yang cukup spesifik, menandakan bahwa hal ini bisa terjadi pada siapa saja yang sedang melewati fase hidup yang sama. Tekanan mental yang dialami bisa diperparah dengan minimnya perhatian dari publik. Kejadian bunuh diri juga seringkali terjadi di lingkungan tempat tinggal, baik kos maupun rumah. Dimana seharusnya menjadi tempat mereka tinggal dengan seluruh akses yang dimiliki malah menjadi tempat terakhir mereka menjalani kehidupan. 

Keadaan bisa diperparah dengan adanya suicidal thoughts, ketika pemikiran untuk mengakhiri hidup muncul akibat tekanan yang dialami diekspresikan melalui berbagai cara dari yang sekedar candaan belaka, menyakiti bagian tubuh diri sendiri, hingga memiliki rencana samar-samar untuk melakukan bunuh diri. Kondisi mental mungkin bukan satu-satunya faktor yang menjadi penyebab bunuh diri, tetapi hal itulah juga yang seharusnya menjadi perhatian berat di kalangan umum.

Seorang sosiologis berkebangsaan Perancis bernama Émile Durkheim berargumen bahwa semakin melekat seseorang secara sosial , semakin rendah juga kesempatan mereka untuk melakukan bunuh diri. Melekat secara sosial memiliki arti seseorang mempunyai tempat atau wadah bagi mereka untuk bersosialisasi. Dengan kata lain semua orang butuh interaksi sosial. Di zaman sekarang, kegiatan bersosialisasi memiliki banyak perkembangan bentuk. Karena sejatinya bersosialisasi tidak harus secara tatap muka, bisa melalui media atau platform daring. Bersosialisasi tidak harus dalam suatu komunitas besar, bisa di dalam kumpulan kecil atau bahkan antar individu. Bersosialisasi tidak harus dengan percakapan yang berat, bisa dengan obrolan kecil atau sekedar berjumpa sapa saling bercerita keadaan satu sama lain.

Bagi beberapa mahasiswa, hari yang baik mungkin terjadi ketika mereka sampai ke kelas tepat waktu, mengumpulkan tugas sebelum tenggat dan mendapat nilai bagus, atau ketika hari kosong mendekati akhir pekan. Sedangkan, hari yang buruk bagi mereka mungkin adalah kebalikan dari hal-hal tersebut. Lantas ketika mereka mengalami hari dimana tidak ingin bangun dari tempat tidur, tidak ingin melakukan apa-apa, emosi dan perasaan hampa, ketika ada beban yang mengganjal di benak pikiran tapi tak bisa dienyahkan, dan sementara mereka meragukan kualitas pada diri mereka sendiri, disebut hari apakah itu? Itulah kemudian disebut hari yang tepat untuk rehat sejenak dan bercerita pada orang terdekat.

Penulis : Nico Gilang

Editor   : Ina Shofiyana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *