Sumber Gambar: Unplash 

Kesibukan mahasiswa kerap kali menjebak mereka dalam pola hidup yang melelahkan dan jauh dari kata sehat. Tuntutan akademik, keterlibatan dalam organisasi, hingga pekerjaan paruh waktu membuat banyak mahasiswa mengesampingkan kebutuhan dasar tubuh mereka. Begadang hingga dini hari demi mengejar deadline, makan makanan cepat saji karena dianggap praktis, serta minimnya waktu istirahat menjadi pemandangan sehari-hari di kalangan mahasiswa urban.

Fenomena ini seolah dianggap wajar dan bagian dari “fase berjuang” saat kuliah. Namun, bila dilihat dari kacamata kesehatan, gaya hidup ini justru sangat berbahaya. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, tingkat kejadian gangguan tidur di Indonesia mencapai sekitar 7,6%. Angka ini lebih tinggi pada kelompok usia muda, termasuk mahasiswa. Padahal, tidur malam yang berkualitas sangat penting agar organ vital seperti jantung, hati, dan otak dapat melakukan proses regenerasi sel.

Begadang secara terus-menerus dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. Ritme sirkadian adalah mekanisme pengaturan waktu dalam tubuh yang bekerja secara otomatis. Gangguan pada ritme sirkadian dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, obesitas, hingga gangguan kardiovaskular. Sebuah studi dari Harvard Medical School menyebutkan bahwa individu yang memiliki kebiasaan begadang memiliki risiko penyakit jantung 48% lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidur cukup. Selain itu, kurang tidur juga berdampak pada kesehatan mental. Menurut American Psychological Association (APA), individu dengan durasi tidur kurang dari 6 jam per malam mengalami tingkat stres 27% lebih tinggi dibandingkan yang tidur cukup.

Selain pola tidur, pola makan mahasiswa juga kerap kali terabaikan karena kesibukan. Konsumsi junk food secara berlebihan dengan kandungan lemak trans, gula, dan garam tinggi, dapat meningkatkan risiko hipertensi, diabetes tipe 2, serta menurunkan kemampuan kognitif. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2021, pola makan tidak sehat menyumbang 11 juta kematian setiap tahunnya di dunia akibat penyakit tidak menular. Di Indonesia sendiri, hasil Riskesdas menunjukkan bahwa persentase penyakit tidak menular seperti diabetes melitus meningkat dari 6,9% pada tahun 2013 menjadi 8,5% pada tahun 2018. Angka ini banyak disumbang oleh gaya hidup tidak sehat sejak usia muda.

Stres akademik yang tidak ditangani dengan baik juga menjadi faktor risiko tambahan. Berdasarkan survei dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2022, sekitar 9,8% mahasiswa Indonesia dilaporkan mengalami gejala depresi ringan hingga berat. Salah satu pemicunya adalah tekanan akademik dan ketidakseimbangan antara kehidupan kampus dengan kesehatan pribadi. Kesehatan mental dan kesehatan fisik sejatinya saling berkaitan erat, ketidakseimbangan pada salah satu aspek pasti mempengaruhi aspek yang lain.

Individu sering lupa bahwa aturan tidur malam dan konsumsi makanan bergizi bukanlah sekadar formalitas, melainkan kebutuhan biologis. Organ-organ pada tubuh memiliki jam kerjanya masing-masing. Misalnya, hati yang berperan dalam detoksifikasi secara aktif melakukan regenerasi maksimal antara pukul 23.00 hingga 03.00. Selanjutnya di jam 01.00 sampai 03.00 saluran empedu mengalami regenerasi atau pemulihan sistem kerja. Saluran empedu berfungsi untuk menyaring racun dan regenerasi tubuh berlangsung lebih efektif pada jam ini. Pada waktu ini, tubuh juga bekerja untuk mengatur kadar kolesterol dan zat-zat penting lainnya.

Jika mahasiswa terjaga pada jam-jam tersebut, proses pemulihan alami tubuh akan terhambat. Akibatnya, dalam jangka panjang daya tahan tubuh akan menurun dan mempercepat penuaan sel. Tidak heran jika mahasiswa yang kerap begadang lebih mudah mengalami kelelahan kronis, rentan terhadap infeksi, serta mengalami penurunan performa akademik.

Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah wajar mahasiswa bergaya hidup tidak sehat, melainkan: sampai kapan mahasiswa mau mengabaikan sinyal yang diberikan oleh tubuhnya? Kesibukan seharusnya tidak mengorbankan hak dasar mahasiswa untuk hidup sehat dan bahagia. Tubuh dan pikiran yang sehat adalah modal utama untuk menjalani perkuliahan dan kehidupan yang lebih bermakna.

Sudah saatnya mahasiswa mulai mengambil langkah konkret dalam menjaga kesehatannya. Mulailah dengan tidur cukup, memilih makanan bergizi, meluangkan waktu untuk beristirahat, serta lebih peka terhadap kebutuhan tubuh. Budaya “lelah adalah biasa” dalam kehidupan mahasiswa perlu dikaji ulang. Kesibukan boleh silih berganti, tetapi kesehatan tetap harus menjadi prioritas. Sebab, produktivitas sejati hanya bisa lahir dari tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat.

Penulis: Rizka R. Arifah

Editor:  Priska Dwita Aulia 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *