Sumber Gambar: Pinterest
Setelah istilah very demure dan very mindful ramai digunakan, terbitlah istilah alter account yang melanglang buana di media sosial baru-baru ini. Bagi generasi milenial dan Gen Z yang familiar bercakap melalui jari di internet, istilah ini tentu bukan hal yang asing. Alter account dikenal sebagai akun sosial media yang menampilkan sisi lain dari seorang individu. Akun-akun ini bersifat anonim, dengan profil yang tidak secara eksplisit menggambarkan individu di dunia nyata, nama yang terkesan random, hingga minimnya pencantuman identitas di kolom bio. Berangkat dari konsep alter ego, pengguna dalam alter account secara sadar menciptakan identitas diri yang jauh berbeda dari akun utama (main account) mereka. Apabila akun utama dipenuhi dengan personal branding dan terhubung dengan kawan, alter account cenderung bersifat privat dan terbatas. Membuat orang bertanya-tanya, sejatinya siapa orang di balik alter account tersebut.
Sering kali timbul pertanyaan, terutama dari generasi yang lebih tua, mengapa alter account dibutuhkan?
Terjaganya identitas alter account dari mata publik membuat pengguna merasa lebih bebas berinteraksi dan mengekspresikan pendapatnya. Pengguna seolah menggunakan topeng yang memudahkannya berbicara tanpa takut diketahui dan dihakimi siapapun. Ada pula yang melihat alter account sebagai eskapisme dari realitas sebagai cara untuk beristirahat dari rutinitas sehari-hari. Terlebih bagi mereka yang ingin menyampaikan opini kurang populer, bahkan cenderung kontroversial di mata publik. Sederhananya, alter account adalah kesempatan berekspresi tanpa konsekuensi.
Psikologi Jung Ian di balik Alter Account
Dari perspektif psikologi Jung, setiap manusia mempunyai sisi diri yang ingin disembunyikan dari orang sekitar. “The thing a person has no wish to be,” begitu deskripsi Jung. Kerap diibaratkan sebagai sisi gelap kesadaran manusia, sisi tersebut dikenal sebagai shadow. Meski sejatinya shadow tak melulu berkonotasi negatif, menurut Jung, manusia berusaha menyembunyikan shadow karena ego manusia melihat sisi tersebut sebagai hal yang tidak bisa ditoleransi. Kecenderungan untuk menyembunyikannya juga muncul supaya manusia dapat beradaptasi lebih mudah di masyarakat, sesuai dengan nilai moral dan sosial yang berlaku.
Namun, represi akan shadow dapat berpengaruh ke kesehatan mental manusia. Bila terus menerus ditekan, potensi munculnya perilaku destruktif akan semakin meningkat. Shadow manusia dapat perlahan terproyeksi tanpa sadar ke pikiran dan perilaku sehari-hari. Secara sehat, manusia harus mampu menerima sisi gelap tersebut dan mengolahnya. Hadirnya alter account dapat diibaratkan sebagai medium pengolahan shadow supaya tak terus-menerus ditekan. Pengguna menciptakan persona baru di mana ia bisa bebas menjadi orang yang berbeda, bebas bercerita apa saja. Keluh kesahnya akan kehidupan, kritik anonim terhadap atasan, hingga menguak sisi lain realita di sekitarnya. Sayangnya, pemanfaatan medium ini sering kali dilakukan secara tak bijak. Sifat alter account yang privat justru memberikan pengguna sejumput keberanian untuk menjadi lebih toxic. Cuap-cuap yang ia keluarkan bukan sekedar sambat akan pekerjaan. Cacian, perundungan, pelecehan, hingga hal berkonotasi negatif lainnya kerap dilontarkan oleh mereka yang bersembunyi di balik alter account.
Apakah Benar Tanpa Konsekuensi?
Ada satu hal yang harus diingat oleh setiap pengguna alter account. jejak digital.
Mudah saja bagi seseorang untuk menjaga privasi alter account-nya, tetapi tidak sulit pula bagi netizen lain untuk menyelam dan mencari tahu identitas di balik akun tersebut. Bila identitas aslinya terbongkar dan terlihat jejak digital yang penuh dengan konten serta komentar problematik, yang menantinya adalah sanksi sosial dari netizen. Sebut saja sanksi berupa disebarkannya informasi bersifat sensitif serta hujatan bertubi-tubi melalui kolom komentar dan chat pribadi–bahkan bisa jadi lebih ekstrem dari kedua hal tersebut. Sanksi juga tentu diterima dari lingkungan sekitar pengguna, terlebih mereka yang memiliki personal branding apik “tanpa cela”. Identitas dan watak asli mereka mulai dipertanyakan. Tumbuh pula rasa tidak percaya juga labelling stigma negatif kepada pengguna. Mengingat tabiat masyarakat Indonesia yang gemar menyerang personal secara membabi buta, kesehatan mental pengguna dapat terganggu–yang dapat merambah pula pada ketidakstabilan kesehatan fisik.
Jejak digital yang problematik dalam jangka panjang juga akan mempersulit pengguna mendapatkan kesempatan baik di masa depan. Apalagi saat ini, pengecekan sosial media merupakan hal yang normal dilakukan HRD di tahap background checking. Ada kemungkinan bahwa alter account seseorang masih bisa ditelusuri melalui main account-nya. Meski alter account tidak merepresentasikan pengguna secara seutuhnya, hal itu cukup sebagai bahan penghakiman orang yang mengetahuinya. Pengguna harus berusaha lebih keras untuk membangun citra diri dan meningkatkan self esteem supaya diterima di masyarakat.
Lantas, apakah berarti konsep alter account harus sepenuhnya dihapuskan?
Tentu saja, penghapusan bukanlah solusi. Pada akhirnya, akan sulit melarang semua orang untuk tidak mempunyai alter account. Harus diingat kembali bahwa tidak semua alter account memiliki tujuan merugikan. Ada mereka yang menemukan kesenangan di balik anonimitas tanpa perlu berkata jahat.
Langkah yang harus dilakukan sejatinya adalah filterisasi. Apakah konten dan komentar ini pas untuk menjadi konsumsi publik, terlepas dari akun yang diprivasi? Apakah konten dan komentar ini bisa menjadi bahan gorengan masyarakat di kemudian hari? Apakah bijak mengeluarkan segala buah pikiran di kepala, terutama hal-hal negatif yang sekiranya melanggar moralitas yang dipegang teguh masyarakat?
Pada akhirnya, setiap aksi memiliki konsekuensi. Pilihan ada di tanganmu sendiri.
Penulis: AA-12
Editor: AK-20