Sumber: Freepik.comSumber: Freepik.com

Ibarat kita disuruh masuk ke hutan rimba lalu dituntut untuk bertahan dan tahu akan segala sesuatu, padahal diajarin buat bertahan di hutan rimba saja gak pernah.

Rasanya hampir semua dari kita merasakan perasaan itu. Rasa bingung akan melangkah kemana dan entah harus apa. Di usia yang menginjak dewasa, seolah rasanya kita harus tahu  tentang segalanya. Selama kita bertumbuh mulai dari kecil bahkan mungkin hingga kuliah, kita seakan merasa tahu apa yang harus dilakukan setelahnya. Ibarat terdapat struktur dan peta yang menuntun kita seperti harus menempuh SD 6 tahun, kemudian SMP 3 tahun, dan berlanjut hingga SMA dan seterusnya. Di masa itu juga ada orang tua yang membantu kita menggambar peta tersebut. Kalaupun kita tidak tahu, nantinya pasti akan ada orang lain yang tahu. Sehingga tanpa sadar membuat kita merasa nyaman karena mengetahui segala sesuatu dengan jelas.

Hingga kemudian sampai pada saat di mana kita sudah melalui banyak tahap dalam peta tersebut. Kita sudah menyelesaikan pendidikan dan mungkin juga sudah bekerja atau bahkan memiliki karir yang baik. Lalu, apa selanjutnya? Boom. Kita bingung, karena sebelumnya kita melangkah di jalan raya yang dihiasi marka jalan lengkap dengan rambu-rambunya. Namun, tiba-tiba kita harus melewati jalan yang tidak lagi mulus atau tanpa adanya marka jalan dan rambu-rambunya lagi. Siapa yang tidak bingung, coba?

Rasa nyaman yang kita rasakan karena peta yang kita pegang sebagai rambu-rambu bisa menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Ketika kita menyadari bahwa gambar di dalam peta mulai memudar karena waktu, kita mungkin merasa stres sebab tidak tahu lagi apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Sehingga muncul semacam krisis karena kita merasa kehilangan arah dan tidak bisa lagi menggantungkan segala sesuatunya kepada orang lain.

Hal ini juga sempat disinggung oleh Maudy Ayunda dalam unggahan video terbaru di kanal Youtube-nya bersama Dewi Lestari beberapa hari yang lalu. Dalam segmen berjudul “Buka Kartu” tersebut, Maudy Ayunda menceritakan pengalamannya dalam menghadapi Quarter Life Crisis.

“Aku dulu sempat struggle banget sama konsep not knowing, terutama waktu awal lulus S1. Karena menurutku selama kita tumbuh dari muda, we always feel like we know what to do,” ungkap Maudy.

Dalam video tersebut Maudy Ayunda menyampaikan bahwa pendewasaan terjadi bukan ketika kita yang awalnya tidak tahu kemudian menjadi tahu. Namun, pendewasaan adalah ketika kita yang merasa tidak nyaman dengan ketidaktahuan, kemudian being comfortable with not knowing.

Menjadi dewasa bukanlah tentang kita yang harus tahu segalanya. Bukan pula tentang kita yang harus bisa bertahan dalam segala kondisi dengan baik. Ketika dewasa, kita tetap menjadi manusia dan sebagai seorang manusia pasti banyak tidak tahu dan kesalahannya.

Oleh karena itu, berhenti berekspektasi bahwa kita harus selalu tahu bagaimana menjadi manusia yang dewasa bisa menjadi salah satu jalan keluar terbaik untuk mengatasi Quarter Life Crisis. Jika kita masih terus mempunyai ekspektasi itu, baik secara langsung maupun tidak langsung akan memberi kita banyak tekanan yang berujung seperti mempersiapkan krisis lain untuk diri kita sendiri. Kesadaran akan fakta bahwa tidak ada manusia di dunia yang mengetahui sepenuhnya tentang banyak hal, dapat menjadi obat rasa putus asa saat menjadi dewasa.

Jadi sekarang mari kita teriakkan, “Aku seorang manusia dewasa yang tidak tahu apa yang akan aku lakukan di sisa hidupku dan aku baik-baik saja dengan itu.”.

Penulis : Sharisya Kusuma Rahmanda

Editor : Ananda Putra Utama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *