sumber foto : instagram @badminton.inasumber foto : instagram @badminton.ina

All England merupakan salah satu gelaran turnamen badminton paling bergengsi di dunia. Pertama kali digelar pada 4 April 1899 di Guildford yang disebut-sebut sebagai cikal bakal All England dan merupakan turnamen tertua di dunia. Kompetisi ini dilaksanakan setiap tahun dan selalu menjadi ajang perebutan gelar bergengsi dan prestisius oleh atlet-atlet badminton terkemuka di seluruh dunia. Seolah kalau sudah juara All England pasti kedepan akan jauh lebih ditakuti. All England tahun ini dilaksanakan di Birmingham Stadium sejak tanggal 14 Maret hingga mamasuki laga puncak pada tanggal 19 Maret 2023. 

Ada satu hal menarik pada gelaran tahun ini yaitu All Indonesian Final pada sektor ganda putra yang mempertemukan Hendra Setiawan – Muhammad Ahsan–yang akrab dijuluki sebagai The Daddies–dengan lawan yang merupakan junior mereka yakni Fajar Alfian – Muhammad Rian Ardianto–dikenal khalayak dengan Fajri. Perjalanan Panjang yang tak mudah sudah mereka jalani hingga menuju babak puncak perebutan gelar. Fajri yang kini menduduki peringkat satu dunia pun juga masih merasa kewalahan atas lawan-lawan yang mereka hadapi di babak sebelumnya. 

Di babak 32 besar, yang berlangsung pada tanggal 15 Maret 2023, Fajri bertanding melawan pasangan Korea, Kang Min Hyuk – Seo Seung Jae sebanyak tiga set. Persaingan ketat di set pertama mengharuskan Fajri tunduk dalam kekalahan. Namun, mereka membuktikan bahwa berani bangkit dan membalaskan dendam dengan memenangi dua set berikutnya dengan skor akhir 20-22, 21-12, 21-19. Keesokan harinya, memasuki babak 18 besar, Fajri harus berhadapan dengan pasangan ganda putra asal Chinese Taipei, Lee Jhe Huei – Yang Po-Hsuan. Pada pertemuan kali ini Fajri mampu unggul dua set langsung namun harus menjalani persaingan poin yang ketat 22-20 dan 21-15. Memasuki babak quarter final yang diadakan 17 Maret, Fajri harus bertemu kawan senegara yang juga menjadi bakal penerusnya yakni Bagas Maulana – Muhammad Shohibul Fikri (Bakri). Tak sulit menjalani duel ini, namun penonton menilai ini sangat seru dengan poin 21-18 dan 21-13. Babak berikutnya memasuki semi final, Fajri berhadapan dengan pasangan muda asal Tiongkok, He Ji Ting – Zhou hao Dong. Fajri yang makin menunjukkan keganasannya di Birmingham Stadium mampu dengan mudah mengalahkan mereka dalam dua set langsung yaitu 21-19 dan  21-17 dan kemenangan itu membawanya memasuki laga puncak.

Sedangkan perjuangan dari sisi The Daddies sendiri tak semulus yang dikira. Sudah harus berhadapan dengan rekan senegaranya yaitu Pramudya Kusumawardana – Yeremia E Y Yacob Rambitan atau acak dikenal warga sebagai PraYer sejak babak 32 besar. Terjadi persaingan menegangkan namun dapat diatasi dalam dua set pertandingan dengan poin 25-23 dan 21-18. Berikutnya di babak 16 besar, Daddies bertemu lawan asal France, Lucas Corvee – Ronan Labar, tanpa merasa adanya tekanan yang berlebih, Daddies menyelesaikan pertandingan dua set langsung dengan poin 21-14 dan  21-13. Memasuki babak quarter final, The Daddies bertemu pasangan muda asal Tiongkok, Liu Yu Chen – Ou Xua Nyi. Persaingan ketat dan menegangkan serta jarak poin yang tak jauh berbeda mengharuskan Daddies menjalani rally panjang hingga tiga set. Dengan kekalahan di set pertama namun kemenangan di dua set berikutnya (16-21, 21-19, 21-19). Lagi-lagi di babak semi final mempertemukan Daddies dengan pasangan Tiongkok lagi. Kali ini Liang Wei Keng/Wang Chang sedikit menyulitkan dan menekan pergerakan The Daddies hingga tiga set dan poin penuh drama di set ketiga. Namun berakhir dengan kemenangan (21-15, 19-21, 29-17) yang membawanya ke laga puncak.

19 Maret 2023 merupakan laga puncak alias final dari gelaran All England 2023. Sebanyak lima sektor diperebutkan di laga final ini. Sektor ganda putra dipertandingkan pada urutan keempat setelah ganda putri, ganda campuran, tunggal putri kemudian ganda putra disusul tunggal putra di permainan penutup. Tepat pada pukul 20.00 WIB, dua pasangan ganda putra andalan Indonesia memasuki lapangan. Pemilihan sisi lapangan hingga uji coba dilakukan dan gim dimulai. Dipandu oleh seorang Umpire  yaitu Mr. Paul Buffman dari England dan bertugas sebagai service judges, Mr. Daniel Wofl dari Austria. 

Set pertama menunjukkan keseimbangan permainan dari kedua pihak. Jarak keunggulan poin tak beda jauh. Keduanya sama-sama menunjukkan keuletan dari permainan. Fajri sempat unggul 13-8 namun beberapa kesalahan dan penempatan bola yang apik dari The Daddies mampu menyamakan posisi menjadi 14-14. Hingga pada akhirnya set pertama dimenangkan oleh pasangan Fajri dengan poin 21-17. Setelah rehat set pertama, dilanjutkan set kedua dengan Fajri yang makin menunjukkan keganasannya. Tekanan-tekanan hingga permainan sengit mampu disajikan ke pihak The Daddies. Reaksi yang ditunjukkan juga makin cekatan, bola-bola berbahaya dan cenderung cepat dapat dilayani dengan baik. Di set ini The Daddies mulai menunjukkan kewalahannya meladeni serangan demi serangan dari Fajri dibuktikan dengan jarak poin yang cukup jauh. 

Momen dramatis terjadi ketika Fajri unggul di poin 20-14 artinya satu poin lagi mereka bisa klaim kemenangan, namun Muhammad Ahsan atau kerap disapa Babah malah cedera ketika menanggapi bola sulit dari Fajri yang menjorok keluar lapangan. Tampak Babah tergelincir dan permainan pun dihentikan untuk beberapa saat. Dari pihak Fajri menghampiri Babah yang sedang kesakitan di lututnya. Momen ini pun sontak merubah suasana menjadi haru. Sorak teriakan dari Birmingham Arena yang penuh terdengar bergemuruh menyemangati Babah Ahsan. Umpire sempat salah paham ketika Babah mengajak untuk menyelesaikan permainan. Dikira bahwa ingin mundur saja dengan status Retired. Namun disalahkan oleh Hendra dan Fajar bahwa Babah ingin menyelesaikan pertandingan di tengah jalannya yang pincang karena kesakitan. Penonton merasa trenyuh melihat perjuangan Babah Ahsan yang bertekad menyelesaikan pertandingan meskipun kemenangan Fajri sudah nyata di depan mata. Dan benar, satu poin saja membawa Fajri menjadi juara All England 2023.

Fajar dan Rian juga memberikan komentarnya dalam wawancara pasca pertandingan mengenai Babah Ahsan yang kekeh ingin menyelesaikan pertandingan meskipun cedera. “Ya pertama-tama alhamdulillah bersyukur diberikan kemenangan hari ini, meskipun Babah Ahsan cedera. Memang ada senang ada sedih, karena pertama kita bisa menjuarai All England tapi yang kedua senior kita juga ada cedera dan semoga tidak parah. Jadi, yah campur aduk rasanya” tutur Fajar. Penonton yang mendengar jawaban dari Fajar ini memberikan apresiasi berupa tepuk tangan yang sangat bergemuruh. “Ya pastinya sangat bangga sangat terharu juga akhirnya bisa menjuarai turnamen All England ini yang sangat bergengsi ini, dimana di tahun lalu juga kita sempat kalah di babak pertama ya dan alhamdulillah di tahun ini kita bisa menjadi juara” tambahan dari Rian. 

Momen haru lagi ditunjukkan ketika mereka berempat hendak menaiki tangga podium untuk prosesi pengalungan medali. Tampak Babah Ahsan dirangkul dan dibantu berjalan oleh Fajar dan Rian di kanan dan kiri Babah. Suatu pemandangan langka yang membuat publik terkesan akan solidaritas pemain Indonesia

Perjuangan yang luar biasa ditunjukkan dari kedua pasangan ini. The Daddies yang usianya tidak bisa dikatakan masih muda lagi namun semangatnya masih luar biasa hebat. Terdapat satu komentar dari netizen yang menilai mereka, “definisi OLD but GOLD sih the Daddies..” Publik juga menilai semakin tua usia The Daddies semakin menunjukkan kematangan dalam setiap permainan. Di satu sisi Fajri yang kini tengah naik pamornya juga bermain sangat apik. Mereka mampu menampilkan kualitas permainan yang menggambarkan keunggulan Indonesia. 

Penulis : Cahya Surya Laksana Gunawan

Editor : Sri Dwi Aprilia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *