Bagi Hasil Airlangga Try Out Akbar BEM Unair

Muhammad Amin, Founder Super Squad Academy sebagai vendor acara Airlangga Try Out (ATO) BEM Unair terkejut mengetahui Menteri Hubungan Luar Ramadhan Pambayung jarang membahas acara ATO bersama panitia. Hingga akhirnya, ia menghubungi satu per satu Kepala Divisi ATO lantaran lambannya koordinasi panitia. Amin juga menceritakan hasil pertemuan perdananya dengan Ramadhan.

Pada pertemuan itu, dirinya sempat dimintai dana bagi hasil oleh Ramadhan dari pembayaran yang dilakukan panitia. Dia menyebut, dana yang diminta bahkan jauh lebih besar  daripada omset yang masuk ke Supersquad Academy.  

Amin mengatakan, Ramadhan meminta uang itu dimasukkan ke kantong pribadi Ramadhan dan temannya.

“Saya katakan tidak dapat menjanjikan hal tersebut sebab beberapa hal, salah satunya ketidakpastian akan balik modal atau tidak,” ucapnya ketika dihubungi pada Jumat (13/8).

“Jika omzet yang masuk tidak menutupi modal, maka kami tidak bisa mencukupi biaya operasional platform. Kami tentu sangat rugi apabila membagi dana ke kantong pribadi Ramadhan dan temannya itu,” imbuh Amin.

Setelah membahas konsep kerja sama, Ramadhan kembali menghubungi Supersquad Academy perihal pengadaan pertemuan daring pada Jumat (19/3) untuk penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Penandatanganan itu dilakukan melalui Zoom Meeting yang juga dihadiri Panitia ATO.

Pada pertemuan daring itu, Supersquad Academy juga memaparkan detail pembagian omzet sebesar 80 persen. 40 persen untuk biaya operasional Supersquad Academy dan sebagiannya lagi untuk pembayaran konten Revolusi Cara Belajar.

Amin mengaku, teman yang menemani Ramadhan terkait upaya bagi hasil sering menghubunginya. Menurut pengakuan Amin, teman Ramadhan itu terus mengingatkan supaya uang hasil Try Out dimasukkan ke kantong pribadinya dan juga Ramadhan. Amin pun mengabaikan permintaannya.

Ketika masa berlaku MoU habis, bukannya membahas kelanjutan kontrak kerja sama, BEM Unair justru memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kerja sama. Supersquad Academy pun kecewa dengan keputusan itu.

SSA pun akhirnya menyebut kerugian sebesar Rp 51 juta berupa invoice tanpa nota pembayaran sah pada forum yang baru dihadiri jajaran BEM Unair dan perwakilan panitia ATO.

Pada forum perdana tersebut, panitia mengaku baru tau kerugian yang ditanggung Supersquad Academy. Mereka menyayangkan rincian sebesar Rp 51 juta tidak tertulis di dalam MoU dan tanpa ada peringatan dari SSA.  

Terkait hal itu, Amin mengklarifikasi bahwa MoU menggunakan sistem balik modal atau pembagian omzet, bukan cash pembayaran.

 “Jadi tidak ada kewajiban untuk menampilkan rincian Rp 51 juta kepada panitia, perlu diingatkan kami menyebutkan dengan istilah sewa properti website,” jelasnya sebelum menampilkan detail pada forum kedua.

Lempar batu sembunyi tangan. Bukannya menebus kesalahan, Ramadhan justru meminta pihak Supersquad Academy menuntut kerugian pada BEM Unair. Pada saat forum terakhir (11/08), awalnya Ramadhan enggan menyebut siapa nama teman “bagi hasil” itu. Sampai pada akhirnya, ia menyebut nama Zam-Zam Syahara.

Penulis: Balqis Primasari
Editor: Risma D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *