FST Bergerak Terus Kawal Penggusuran Kantin Fakultas

Penertiban kantin di lingkungan Universitas Airlangga (Unair) kembali dilakukan. Usai kantin Fakultas Ilmu Budaya (FIB), kini giliran kantin Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yang diimbau untuk segera dikosongkan.

Surat pemberitahuan pembongkaran kantin telah diterbitkan fakultas sesuai arahan dari pimpinan universitas pada Senin (24/5) lalu. Meskipun pembelajaran masih daring dan kantin tidak difungsikan, protes dari mahasiswa FST tetap berdatangan. Salah satunya lantaran adanya wacana relokasi kantin FST ke sebelah Airlangga Convention Center (ACC) yang jaraknya dirasa terlalu jauh.

“Kalau kita melihat jangka panjangnya ketika udah mulai kuliah hybrid ataupun luring, pastinya mahasiswa FST ya makannya di kantin FST. Dan wacananya kan kantin ini bakalan di pindah ke sebelah ACC. Jadi, mahasiswa FST ini merasa keberatan dikarenakan jarak dan harga yang belum tentu bisa dibilang murah,” ungkap M. Raihan Nady, Kadep Adkesma BEM FST ketika dihubungi LPM Mercusuar, Kamis (24/6).

Hal itu membuat seluruh organisasi mahasiswa (Ormawa) di FST yang tergabung dalam “FST Bergerak” bersolidaritas untuk mengawal penggusuran kantin FST.

Dilansir dari akun Instagram @fstbergerak, para penjual di kantin FST diminta untuk mengosongkan kantin dalam tenggat waktu 7×24 jam sejak surat dilayangkan.

Menindaklanjuti hal tersebut, Kamis (3/6) BEM FST menemui Wakil Dekan (Wadek) II FST untuk meminta keterangan lebih lanjut terkait penggusuran kantin. Hasilnya didapatkan informasi bahwa kantin FST akan direlokasi sesuai dengan rencana strategis jangka panjang Universitas Airlangga (Unair).

Pihak dekanat sendiri sudah meminta agar lokasi kantin nantinya tidak terlalu jauh dari FST mengingat durasi pergantian kelas hanya 10 menit, tetapi pihak rektorat belum memberikan jawaban pasti.

Informasi yang minim dan belum jelas membuat aliansi FST Bergerak berencana melakukan audiensi dengan pihak rektorat. Raihan mengatakan bahwa proses untuk bisa audiensi tersebut berjalan cukup sulit.

“Pertama kali menghubungi Dirmawa, tetapi Dirmawa tidak tahu-menahu tentang isu penggusuran kantin FST ini. Kemudian dihubungkan dengan Direktorat Sarpras, kemudian oleh Direktorat Sarpras dihubungkan lagi dengan Direktorat Logistik, Keamanan, dan Ketertiban Lingkungan (Dit. Lokamtibling),” tuturnya.

Proses menghubungi Dit. Lokamtibling juga tidak berlangsung mulus. Hingga akhirnya audiensi dapat terlaksana pada Selasa (15/6) kemarin.

“Perwakilan BLM yang meminta kontak ybs. malah diblokir. Kemudian FST bergerak berkonsolidasi dengan BEM Unair untuk sounding ke pihak rektorat dan alhamdulillah bisa,” imbuh Raihan.

Audiensi pada hari Selasa (15/6) itu dihadiri oleh ketua dan wakil ketua BEM FST, wakil ketua BEM Unair, ketua BLM FST, ketua komisi B BLM FST, kementerian sinergisitas mahasiswa, serta kementerian advokasi dan jejaring masyarakat. Dari pihak rektorat sendiri hadir Direktorat Lokamtibling.

Dari hasil audiensi diketahui jika Unair berencana melakukan pembangunan kampus hijau guna menaikkan peringkat untuk kategori kampus hijau. Hal itulah yang mendasari penggusuran bangunan kantin FST yang dinilai kumuh.

Namun, Direktorat Lokamtibling dirasa belum memiliki konsep yang jelas untuk pembangunan kantin baru nantinya.

“Anda ingin seperti apa? Ayo dipikirkan bersama, nanti saya kasih gambaran seperti pujasera. Jika mahasiswa yang mengelola malah saya senang agar memiliki pengalaman dan belajar usaha sejak dini,” jawab Direktorat Lokamtibling.

Selama audiensi, pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa justru kembali dilemparkan kepada mahasiswa. Notulensi selama audiensi yang telah terlaksana itu juga dapat diakses melalui akun Instagram @fstbergerak.

Saat ini, FST Bergerak masih menunggu hasil kajian dari penjaringan aspirasi mahasiswa FST dan juga pendataan kantin FST sebagai bahan pertimbangan saat audiensi kembali.

“Hasilnya nanti akan kami diskusikan bersama untuk menjadi satu pandangan dalam membuat policy brief dan audiensi lanjutan dengan pihak rektorat nantinya,” pungkas Raihan.



Penulis: Amelia Rahima
Editor: L. Fitriani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *