Quarter Life Crisis, Tuntutan Hidup Menjelang Dewasa

Quarter Life Crisis (QLC) timbul sebagai respon atas dilema seseorang terhadap tuntutan hidupnya. Rentang usia 20 hingga 30 tahun disebut sebagai masa-masa pencarian identitas diri. Hal itu disampaikan Michelle Tania M.Pd, Psikolog Lingkar Psikologi sebagai pemateri dalam Rumpi Bareng Isu Kekinian (RUBIK) yang digelar Kastrat BEM FKM Unair pada Rabu (28/4).

Ketika seseorang memasuki rentang usia menjelang dewasa hingga pada puncaknya, muncul berbagai tuntutan hidup yang berakibat pada banyaknya beban tanggung jawab baik dalam hal pertemanan, pekerjaan, finansial, hingga masalah asmara.

“Karena di masa ini kita sedang peralihan, dari remaja ke dewasa, dari remaja yang labil ke dewasa dan banyak tuntutannya ke masyarakat. Punya tanggung jawab di dunia sosial, keluarga, dan sebagainya,” papar Michelle.

Selain itu, Quarter Life Crisis disebutnya sebagai dampak akibat seseorang dihadapkan pada berbagai macam pilihan dan keputusan.

“Tanda-tanda seseorang mengalami QLC yaitu seseorang sulit menentukan tujuan hidupnya. Ketika ditanya setelah lulus mau ngapain, kita bingung , kita tidak tau tujuan hidup kita apa. Itu adalah salah satu tanda kita menghadapi QLC,” jelasnya.

Tak hanya sulit menentukan tujuan yang hendak dicapai, tanda lain seseorang mengalami Quarter Life Crisis yaitu pencapaian yang didapatkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

“Tidak semua hal tidak bisa dicapai secara sempurna. Ketika kita QLC ekspektasi kita tidak pernah terpenuhi,”

Michelle juga menyebut, seseorang yang takut mengalami kegagalan dalam hidupnya cenderung memendam keinginan yang hendak dicapai dan berdampak pada ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

“QLC itu ada ketika kita dituntut, ketika kita meghadapi QLC kita akan takut memilih keputusan yang tepat  untuk hidup kita. Contohnya setelah kerja kita mendapatkan berbagai kemungkinan yang ditakutkan, akhirnya kita selalu meragukan keputusan kita sendiri, sebenarnya yang kita ambil betul apa ngga sih,” tuturnya.

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain pun menjadi penyebab seseorang mengalami rasa tertekan lantaran menganggap dirinya selalu kurang.

 “Sekarang kita hidup di teknologi yang canggih. Sosial media dekat dengan kita. Kita ambil hp bisa liat di situ, kita bisa melihat teman dengan kehidupan dan lifestyle segala macem, dan jelas sekali, dan tidak jarang kita membandingkan diri dengan orang lain,”

 Lebih lanjut, untuk mengatasi QLC, Michelle menyampaikan beberapa poin yang menurutnya dapat menjadi solusi, diantaranya, menghindari membandingkan diri dengan orang lain, menghilangkan kata ‘harus’ menjadi ‘akan lebih baik’, menentukan prioritas kegiatan dan pekerjaan, dan memandang bahwa segala sesuatu di dunia tidak ada yang sempurna.

“Terkadang ada hal-hal yang tidak kita sangka itu  berubah. Jadi bukannya kita memaksakan keadaan, tetapi kita belajar untuk mengira-ngira, kalau rencana A tidak berjalan maka kita tau apa yang harus kita lakukan,” tutupnya.

Penulis: Risma D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *