Fachri, Mahasiswa yang Hilang Pasca Aksi 1 Desember. (Mercusuar/Najmudin Kholish)
Reporter: Najmudin Kholish dan Syifaul Qulub
Editor: M Faisal Javier Anwar
Minggu (2/12) dini hari, dua orang mahasiswa non-Papua hilang saat aparat menggelandang ratusan mahasiswa di Asrama Papua ke Mapolrestabes Surabaya. Untungnya, keduanya telah ditemukan di kantor Mapolrestabes.
Kami pun berkesempatan mewawancarai salah satu mahasiswa yang sempat hilang, Fachri Syahrazad, mahasiswa semester 5 Teknik Sipil ITS, saat konferensi pers peringatan 1 Desember mahasiswa Papua di Surabaya yang berlangsung di kantor Kontras Surabaya. Wawancara lebih lanjut dilakukan melalui media sosial Line lantaran keterbatasan waktu.
Berikut petikan wawancara kami dengan Fachri:
Bagaimana kronologis penahanan terhadap Mas Fachri?
“Ketika polisi meminta yang di (dalam) Asrama Papua untuk keluar, saya keluar. Ketika akan ke motor, tiba-tiba saya dirangkul 3 orang, lalu dibawa ke pojokan, HP saya disita, saya ditanya-tanya, terus dibawa ke mobil. Tadinya saya sendiri, kemudian ada teman yang dari Surakarta itu dibawa juga. Arifin itu.”
Mas ‘diambil’ jam 2 malam. Sampai jam 12 siang itu diapain aja?
“Dari jam 1 dini hari itu saya diinterogasi, jam 4 subuh baru disuruh tidur, jam 7 ditanya-tanya lagi. Nah, jam 12 itu baru rilis berita acara interogasi, jam 12 baru diketik.”
Tapi sudah di kantornya (waktu) itu?
“Iya, sudah.”
Ketika interogasi pertanyaan apa saja yang ditanyakan?
“Ya seputar apakah saya pro terhadap separatisme, apakah saya pro pada NKRI.”
Selama (ditangkap) itu apa ada kekerasan yang mas alami?
“Waktu di mobil, sih. Perut saya sempat disikut. Terus teman saya, Arifin yang dari Surakarta itu, ditampar sampai kacamatanya patah. Sama verbal juga.”
Verbal seperti apa?
“Ya, bentakan-bentakan seperti apakah saya mendukung gerakan separatisme dan sebagainya.”
Menurut suatu keterangan, mas sengaja hilang untuk membuat suatu provokasi. Apa itu benar?
“HP saya kan disita. Banyak yang menelpon tapi saya tidak bisa angkat. Teman-teman kan nyariin saya juga, saya bisa saja ngabarin mereka, tapi HP tidak dipegang.”
Kenapa mas dan Arifin yang ‘diambil’?
“Mungkin karena saya sama Arifin yang (kebetulan) ada di depan asrama.”
Bagaimana pendapat Anda terkait postingan Kabid Humas Polda Jatim bahwa penangkapan mas Fachri dan mas Arifin adalah hoax?
“Karena HP saya disita paksa dan saya tidak diberi kuasa hukum, akhirnya tidak ada yang tahu saya dimana. Banyak teman mencoba mengubungi namun tidak bisa, karena HP saya disita oleh polisi. Menurut saya, humas (polisi) lebih baik mengklarifikasi bahwa saya dibawa ke Polrestabes. Karena info bahwa saya dibawa ke Polrestabes tidak ada. Hanya ada info saya dipulangkan.”
Trauma sama aparat?
“Sekarang sih sedikit banyak saya was-was. Takut kalau diawasi.”
Tapi sejauh ini merasa diawasi? Misal di dekat rumah begitu.
“Kurang tahu kalau itu.”
Ketika aksi (1 Desember) ikut?
“Saya hanya merekam seperti ormas atau aparat yang melakukan kekerasan dan lain-lain.”
Apa motif dari gerakan 1 Desember mahasiswa Papua? Banyak isu beredar bahwa itu gerakan separatis, bagaimana menurut Anda?
“Jadi yang saya tahu, aksi 1 Desember tuntutannya adalah agar masyarakat Papua Barat diberi hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Kita mendukung mahasiswa Papua, mendukung PP, FKPPI dalam menyampaikan pendapat, karena itu hak demokratisnya mereka. Tapi apabila kata-kata yg keluar adalah diskriminasi rasial, caci maki, maka kami tidak bisa diam dengan hal tersebut. Terkait dengan separatisme, kita melihat hal yg perlu disorot adalah pelaksanaan demokratisasi terlebih dahulu. Apabila aksi mahasiswa Papua dianggap separatis, sebenarnya bukan seperti itu, karena sejatinya mereka hanya menuntut hak-hak demokratis mereka.”
Apa tujuan mas mengikuti aksi (1 Desember) ini?
“Karena saya penasaran. Saya banyak mendengar kabar-kabar tidak baik dari Papua.”
Menurut info dari Kabid Humas Polda Jatim, 233 mahasiswa Papua itu diamankan dari serangan ormas, namun teman-teman jaringan AMP menyangkal, bagi mereka itu merupakan penangkapan secara sepihak, bagaimana sebenarnya?
“Setahu saya ketika saya di lokasi, alasan polisi mengamankan teman-teman AMP (Aliansi Mahasiswa Papua) adalah karena terlalu ramai. Karena memang banyak sekali kawan-kawan AMP dari luar Surabaya.
Saat itu diberi 2 pilihan yaitu teman-teman AMP dari luar Surabaya akan pulang diantarkan mobil komando, atau disuruh pulang sendiri malan itu juga.
Namun teman-teman AMP menolak untuk pulang karena kelelahan dari serangkaian aktivitas dan memilih untuk pulang sendiri di pagi hari. Karena itu akhirnya mereka dibawa ke Polrestabes.”
Setelah mengalami perlakuan seperti itu dari aparat dan ormas, bagaimana tanggapan mas sendiri?
“Ya, saya rasa sulit sekali buat teman-teman dari Papua memperjuangkan dan menyuarakan hak-hak mereka.”
*Artikel ini telah tayang di akun resmi Line LPM Mercusuar pada 4 Desember 2018