Sumber Gambar: pexel.com
Mataku terjaga seiring dengan pengeras suara berkumandang. Waktu subuh sebentar lagi, begitu pesan tersembunyi di balik zikir dan selawat yang gagal telingaku komprehensikan. Aku menggapai telepon genggam di samping kasur, mematikan alarm yang memuntahkan nada memekakkan—nada yang kupilih sendiri supaya badanku segera beranjak. Sekilas kulirik jam yang informasinya terhidang di layar. Butuh satu detik bagiku untuk melihatnya, butuh sedetik pula bagiku untuk buru-buru bangkit dari kasur. Berlari dan mengambil makanan apa saja yang ada.
Konsep sehat dan mengenyangkan tak lagi menjadi prioritas. Aku bak raksasa rakus, mulutku membuka menerima segala jajanan di dalam kamar indekos. Makaroni pedas, roti tawar kupas, setengah botol teh, kacang pilus yang sedikit lagi bungkusnya layak dilemparkan ke tong sampah. Sungguh, petugas puskesmas akan menggelengkan kepala melihat menu sahurku. Susah payah mereka melakukan sosialisasi sejak diriku kecil, menyadarkan pentingnya perhatian akan gizi. Apalagi untuk kami, anak-anak yang kelak menjadi tulang punggung dan pengangkat derajat keluarga kami.
Maafkan aku, para petugas, batinku sembari membereskan sampah kemasan. Hidupku yang serba irit ini tak akan memenuhi ekspektasi menu sehatmu.
Adzan subuh berkumandang tepat setelah sampah terakhir masuk ke dalam tempatnya.
Sudah waktunya menjalani hari, membuka lembaran baru pada hidup fana ini.
***
Matahari sudah berada di atas kepala. Masih beberapa jam lagi hingga perutku berhenti berbunyi, meraung-raung meminta kebutuhan pangannya terpenuhi. Sayup-sayup kudengar dari ruangan sebelah, mereka dengan hidup lebih berada menentukan menu buka puasa. Yang satu mengusulkan tempat paling trendy untuk berkumpul, yang satu sibuk melakukan persuasi supaya kawan lainnya datang dan meramaikan. Bahkan, sudah kudengar pembahasan tentang lebaran.
Puasa baru beberapa hari berjalan, pemikiran kalian sudah amat jauh di depan.
Tapi bisa apa aku? Bagi mereka, pemikiran tersebut sudah sewajarnya. Ramadhan bulan penuh berkah, sudah sepatutnya dirayakan sebaik-baiknya. Entah perayaan berbentuk buka bersama yang tak berkesudahan jadwalnya, pemanfaatan diskon untuk belanja baju lebaran, bahkan menghiasi rumah dengan produk terbaru. “Supaya nampak fresh bila saudara berkunjung,” begitu pembelaan mereka.
Sungguh, aku di sini tak bermaksud menghakimi.
Setiap orang punya caranya sendiri untuk merayakan. Hanya saja, kerap kali aku membandingkan pemikiranku dengan mereka orang-orang berpunya. Uang yang tiada bukan makanan sehari-hari mereka. Berbeda denganku yang kerap berandai-andai pada Tuhan. Apa bedanya hidupku bila dibandingkan dengan bulan puasa? Sama-sama diriku tak bisa memuaskan lapar dan dahaga. Yang ada hanya bekerja, uang lenyap begitu saja, untuk kemudian bekerja kembali untuk menghidupi kepala-kepala di rumah sana.
Telingaku menangkap suara gemuruh dari dalam perut—untuk yang ketiga kali.
Aku menghela napas, urusan perut harus dipikir sendiri.
***
“Aku lapar, Kak.”
Ungkapan itu kudengar dari kursi depan, tempat dua saudara berseragam sekolah duduk dan berbincang. Aku mendengar kekehan dari si kakak yang usianya jauh lebih tua. Ia mengusap kepala sang adik, iseng pula mencubit pipi tembamnya. Pemandangan itu membuatku tersenyum tipis. Aku pernah ada di posisi sang kakak, menenangkan adik yang keluhannya makin keras di kala senja–seperti saat ini.
“Sabar ya, Dek. Setelah ini buka puasa, kok. Katanya tadi mau puasa penuh.”
“Ah, malas aku. Kepengennya makan sekarang. Ayo makan, Kak.”
Aku terkikik. Begitu pula beberapa orang di bus yang memerhatikan momen itu. Menyadari curhatannya didengar orang lain, sang adik mengerucutkan bibir. Menutup mukanya karena malu. Sang kakak makin tinggi hasrat menjahilinya. “Hayolo, didengar sama orang-orang satu bus lho. Malu, ih, masa mau mokel.”
“Tapi adeknya hebat lho, mau coba puasa penuh.” Seorang Ibu paruh baya menimpali. Ia melepaskan pandangannya dari telepon genggam, ganti menatap hangat anak kecil yang baru ditemuinya itu. “Anak saya sudah mau kelas empat SD masih susah banget diminta puasa penuh. Kamu keren, Dek.”
Penumpang bus lain mengamini, berharap pujian mereka menjadi dukungan supaya anak kecil itu berhenti mengeluh. Membaca gerak-geriknya dari belakang, aku merasa jiwanya tengah membumbung tinggi. Beberapa menit, tak ada keluhan keluar. Tapi begitu bus melewati keramaian sentra jajanan, celetukan kecilnya kembali terdengar.
“Kak, memangnya kenapa sih kita harus puasa?”
Kali ini sang kakak terdiam. Berusaha mengolah kata-kata. Salah menjawab, bisa-bisa persepsi adiknya tentang puasa akan rusak. Ia membuka ranselnya, mengeluarkan buku agama dan membalik halamannya. Belum puas, ia membuka telepon genggam dan mengetikkan sesuatu. Mencari jawaban.
Sementara aku di belakang, hanya bertindak sebagai pengamat.
Aku memang makhluk lebih dewasa, tapi pengandaian siang lalu dan segala macam keluhanku membuatku malu. Kulihat sekitarku, betapa banyaknya wajah-wajah yang termenung. Pastilah di antara mereka ada yang tengah berpuasa, namun sama-sama gagal merangkai kata sebagai jawaban. Kudapati rona kekaguman di wajah mereka saat melihat sang kakak–beserta usahanya untuk memberikan jawaban yang tepat.
Aku kembali bertanya-tanya. Selama ini, kita berpuasa sebab paham hakikatnya atau sekadar mengikuti perintah orang lain saja? Apa jangan-jangan keluhan ini muncul sebab tak paham dengan inti sarinya?
Pengeras suara berkumandang. Bus telah berhenti di halte tujuan.
Dua bersaudara bangkit dari tempat duduknya, berterima kasih kepada sopir bus. Percakapan mereka diakhiri dengan sang kakak berkata, “Nanti kita tanyakan Ustadz selesai salat jemaah, ya?”
Sebelum pintu tertutup, kudapati sang adik tersenyum dan mengiyakan sebagai balasan.
Meninggalkanku dan penumpang bus lain dengan benak penuh pertanyaan.
Penulis: AA-12
Editor: WI-07, PS-13