
Sumber Gambar: Tim Artistik LPM Mercusuar
Pernahkah kalian merasakan ketidaknyamanan saat menikmati sebuah karya? Bukan karena kualitas karyanya, tetapi mengetahui bahwa pencipta karya tersebut memiliki rekam jejak yang bermasalah. Kondisi ini dikenal sebagai moral dissonance, yakni sebuah kondisi ketika preferensi pribadi bertentangan dengan nilai moral yang dianut. Moral dissonance merupakan turunan teori dari cognitive dissonance yang diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957. Teori tersebut menjelaskan sebuah kondisi ketika dua keyakinan dalam individu saling bertentangan sehingga menimbulkan konflik psikologis. Di era digital saat ini, informasi mengenai kesalahan seorang seniman dapat tersebar dengan cepat. Akibatnya, opini publik menjadi lebih tajam dan memengaruhi cara masyarakat dalam mengonsumsi karya seni. Beberapa waktu terakhir, muncul perbincangan yang mengaitkan tokoh sastra dengan isu kontroversial di ruang publik. Salah satu contohnya adalah kontroversi yang dikaitkan dengan George Orwell. Beredarnya klaim serius di media sosial mengenai dugaan pelecehan seksual membuat sebagian pembaca merasa dilema.
Dalam konteks pemberitaan, tudingan terhadap George Orwell tidak muncul tanpa dasar, melainkan bersumber dari catatan yang kemudian dipublikasikan kembali oleh Dione Venables dalam edisi revisi memoar Eric & Us. Dalam artikel obituari yang diterbitkan oleh Association of Royal Navy Officers (ARNO), dijelaskan bahwa Dione Venables menambahkan sebuah catatan yang mengungkap dugaan peristiwa kekerasan seksual pada tahun 1921. George Orwell yang pada saat itu masih bernama Eric Blair tengah menghabiskan waktu bersama Jacintha Buddicom, yang merupakan sepupu dari Dione Venables di sebuah rumah liburan di Rickmansworth, Hertfordshire.

Sumber Gambar: Association of Royal Navy Officers
Berdasarkan penuturan tersebut, dalam salah satu kesempatan berjalan bersama, Eric Blair diduga mencoba melampaui batas dengan melakukan pendekatan secara paksa terhadap Jacintha Buddicom. Ia disebut menahan tubuh Jacintha Buddicom ketika korban berusaha melawan dan meminta agar tindakan tersebut dihentikan. Peristiwa itu juga dilaporkan menyebabkan pakaian korban robek serta meninggalkan luka memar pada bagian tubuhnya. Keterangan ini kemudian memicu perdebatan di kalangan pembaca, sebagian pihak yang membela Orwell merasa keberatan terhadap tudingan tersebut dan menganggapnya bukan sebagai percobaan pemerkosaan, melainkan sekadar upaya pendekatan yang gagal. Namun, ada pula pembaca yang tidak terkejut dengan klaim tersebut. Biografer George Orwell, Gordon Bowker, bahkan menyebut bahwa tindakan serupa pernah dicoba George Orwell terhadap perempuan lain di Southwold meskipun upaya tersebut berhasil dihentikan.
Isu mengenai kehidupan pribadi George Orwell juga kembali mendapat perhatian dalam artikel yang ditulis oleh Anna Funder di The Guardian. Dalam tulisannya, Funder menyoroti sosok Eileen, istri George Orwell, yang selama ini kerap terpinggirkan dalam narasi besar tentang dirinya. Ia menunjukkan bahwa Eileen bukan sekadar “istri”, melainkan berperan sebagai editor, pengetik, pendukung intelektual, hingga pencari nafkah pada masa-masa sulit. Bahkan, ia tetap bekerja dan menopang kehidupan rumah tangga saat George Orwell dalam kondisi sakit dan terus menulis. Meski demikian, berbagai kontribusi tersebut tidak memperoleh pengakuan yang layak.
Seiring dengan kontroversi tersebut, muncul pertanyaan mengenai keperluan pemisahan karya dari sosok penciptanya. Dalam konteks moral dissonance yang telah dibahas, pertanyaan ini menjadi semakin kompleks. Di sisi lain, terdapat pandangan yang menekankan bahwa dalam menghadapi tudingan semacam ini, perhatian tidak seharusnya hanya berfokus pada pembelaan terhadap sosok seperti George Orwell.
Meskipun bukti yang tersedia mungkin terbatas atau masih diperdebatkan, penting untuk tetap memberi ruang dan perhatian pada kemungkinan adanya korban. Pendekatan ini menekankan bahwa sikap kritis tidak berarti mengabaikan suara atau pengalaman pihak yang diduga dirugikan, melainkan menjaga keseimbangan antara kehati-hatian dalam menilai fakta dan sensitivitas terhadap isu kekerasan atau pelanggaran etika. Dengan demikian, kita harus memilih untuk bersikap lebih empatik dengan tidak serta-merta menolak tudingan yang ada, sekaligus tetap mempertimbangkan dampak yang lebih luas terhadap cara kita memahami karya dan sosok di baliknya.
Penulis: Cendana
Editor: Tim Editor LPM Mercusuar
Reference
https://www.arno.org.uk/dione-venables-obituary/
https://share.google/4duweMB79wd6cWyHF
https://www.instagram.com/p/DRmbyEbD6IR/?igsh=MTFtZjJvMmtnaTl5Mw==