Sumber: PinterestSumber: Pinterest

Aku mengenakan sweter merah yang tergantung rapi di balik pintu salah satu kamar vila ini guna menghalau hawa dinginnya Kota Batu pada malam hari. Teman-temanku yang lain sudah terlebih dahulu meninggalkan kamar ini selepas magrib tadi, meninggalkanku yang tiba-tiba sakit perut di malam pertama malam keakraban angkatanku. Setelah bercermin di depan meja rias dan merasa sudah siap menuju aula, aku mengunci kamar yang isinya kebanyakan barang-barang penting milik teman-temanku. Namun, sebelum aku benar-benar turun, aku sempat mampir ke area balkon lantai dua untuk memotret pemandangan malam Kota Batu. Aku pun sempat menangkap siluet postur laki-laki yang pernah kukenal sebelumnya, aku melihatnya di pondok depan di mana para teman laki-lakiku mengistirahatkan diri.

Oh, laki-laki itu juga menjadi bagian dari panitia malam keakraban ini. Katanya sih dia mendadak aktif pekan belakangan ini. Rupanya sekarang aku tahu, kesibukannya itu membuahkan hasil pada malam ini. Keren juga dia, cepat sekali beradaptasi di lingkungan baru, berbeda denganku yang masih sulit menyesuaikan diri dengan padatnya kegiatan dan kuliah di semester ini. Masih dengan siluet laki-laki itu, langkahnya mulai menuruni tangga yang ada di bagian luar pondok. Untungnya, dia tidak menyadari keberadaanku yang masih memantau langkahnya yang terkesan buru-buru itu.

Setelah bayangan laki-laki itu mulai menghilang dari pandanganku, aku pun ikut menuruni tangga pondok bagian wanita yang terhubung dengan taman belakang. Satu persatu kuturuni tangga dengan hati-hati, sekaligus mengurangi kebisingan yang tercipta dari sandal hitamku agar kehadiranku tidak disadari oleh seorang pun yang ada di taman saat ini. Namun, tidak sesuai dengan ekspektasiku, justru Kinan – temanku yang paling bawel – yang pertama kali menangkap eksistensiku kali ini.

“Akhirnya yang ditunggu-tunggu udah hadir juga,” serunya yang membuat orang-orang di sekitarnya menoleh ke arahku.

Langsung kusembunyikan badanku yang kelewat mungil kalau kata Risya di belakang badannya, menghindari tatapan beberapa pasang mata yang tiba-tiba membuatku tidak percaya diri.

Kedua pasang mata yang saat ini ingin sekali kuhindari, justru seolah ingin menusuk kedua manik mataku lewat tatapannya. Dengan gayanya yang berdiri angkuh sembari memegang gulungan kertas mungkin berisi rundown acara malam ini, aku bisa melihat langkahnya yang seperti ingin menghampiriku. Bukan tentang gede rasa atau bagaimana, tapi sangat jelas bahwa langkahnya bisa saja berjalan ke arahku. Namun, seolah tertahan daya gravitasi, ia tetap mempertahankan posisinya yang seperti semula.

Rangkaian acara satu persatu telah dilaksanakan, hingga di puncak acara yang membuatku berniat untuk absen saja. Langkahku yang semakin lebar meninggalkan pekarangan vila. Hingar bingar yang tercipta dari kegaduhan dalam vila mulai samar terdengar. Namun, dua langkah setelah tepat di luar pagar vila namaku dipanggil oleh suara yang dikalahkan dengan kencangnya latar musik yang mengalun.

“Masuk dulu, Ta!” lanjutnya dengan diiringi langkahnya yang menyusulku keluar vila.

Laki-laki yang masih setia dengan gulungan kertas rundown malam keakraban itu mulai mendekatkan badannya ke arahku. Takut macam-macam, segera kulindungi tubuhku dengan kedua tanganku sendiri.

“Masih takut ya sama gue?” ucap orang itu yang ada benarnya.

Padahal aksinya hanya sekadar menyampirkan jaket kulitnya ke badanku yang mulai menggigil. Tanpa menunggu jawabanku atas pertanyaannya, dia kembali bersuara, “Mau kemana malem-malem?” tanyanya lagi yang menurutku kali ini dia lebih berisik dari biasanya.

“Kadang.” Dia mengerutkan kening karena atas jawabanku yang tidak masuk akal dengan pertanyaannya.

Padahal aku sedang menjawab pertanyaan pertamanya.

“Tadi kan kamu nanya masih takut apa enggak sama kamu, ya aku jawab ‘kadang’.”

“Buat pertanyaan kedua, aku mau jawab kalo aku cuma pengen keliling keluar vila soalnya aku bosen banget di dalam. Lama-lama energiku habis kalau dipaksa ada di dalem,”

“Acaranya ngebosenin ya?”

Ihhhh, bukan itu poin utamanya,”

“Hahahaha iya iya gue paham. Ya udah ayo gue temenin keliling keluar vila.” 

Boom! niatnya ingin menghindar dari laki-laki di depanku ini, tapi mengapa dia justru ingin ikut bersamaku. Cepat-cepat kubuat alasan yang masuk akal, seperti, “Tapi kan kamu panitia, nanti dicari sama panitia lainnya gimana? Disuruh bantu-bantu yang di dalam gimana?”

Namun, alasanku tetap tidak diterima karena dengan jelas penolakannya untuk kembali ke dalam vila diacuhkan begitu saja.

“Kan masih ada panitia lainnya, lagian acaranya ngebosenin,” jawabnya

Ihhhh, kamu mah aturannya gak bisa gitu, panitia harus tetap stand by di dalam. Mana boleh keluar padahal acaranya belum selesai.”

“Emang mau diculik?”

“Aku kan bukan anak kecil,”

“Tetep aja, gue yang bakal nemenin lo. Kita mau kemana? Mau makan jagung serut nggak?” tanyanya yang meninggalkanku di belakang.

Berjalan mendahuluiku, seolah-olah dia yang memiliki ide untuk keliling keluar vila.

“Jelek kamu!!”

“Kok dikatain?”

“Katanya mau nemenin, ya masa aku ditinggalin. Nanti aku diculik gimana?” Aku merajuk yang membuatnya datang untuk menarik tangan mungilku.

“Dasar anak kecil, ayo jangan sampai ketinggalan ya!”

Hingga akhirnya kami berdua terus berjalan menyusuri sepanjang jalan perumahan vila dengan kedua tangan yang masih ditautkan. Mungkin dia benar-benar takut jika aku diculik. Padahal, sesungguhnya obrolan kami berdua tidak sebanyak itu. Hanya sekadar pertanyaan kenapa kalau aku ada di kampus tidak pernah menyapanya dan justru memilih menghindar. Untuk pertanyaan itu hanya kujawab dengan jujur, “Aku gak mau teriak-teriak nama kamu, nanti yang noleh bukan cuma kamu aja.” Jawabanku seketika diiringi dengan tawa khasnya yang tiba-tiba membuatku merasa jengkel. “Dih, emang kenapa sih. Kan emang betulan gitu.” Dan topik obrolan ditutup dengan anggukan paham dari kepalanya.

Topik-topik berikutnya datang mengalir begitu saja, tanpa dicari sekalipun. Mungkin karena aku bersama orang yang tipikal friendly sekali, jadi hal itu membuat malam ini sangat hangat. Meskipun aku hanya menjawab yang benar-benar hanya sepatah dua kata, tapi dia terus mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Lucunya lagi, seperti yang ditanyakan olehnya tadi, kami berdua hampir setiap hari tidak pernah berbincang bersama dalam kurun waktu yang lama. Namun, malam ini kami berdua seolah-olah kami yang dulu masih sama.

Ah, kami yang dulu? Aku belum cerita mengenai hubungan kami sewaktu maba ya? Sebenarnya aku terlalu malu untuk menjabarkan bagaimana rumitnya hubungan kami dulu. Karena pada saat itu, aku yang terlalu mudah percaya bertemu dengannya yang sukar percaya, tidak terkecuali aku. Aku yang ingin sekali mendengarkan ceritanya dihadapkan dengannya yang bahkan setiap hari tidak mau menjelaskan alasan di balik tingkah lakunya. Walaupun waktu yang kami punya saat itu terbilang cukup banyak untuk bertemu, tetapi hal itu tidak membuatnya percaya kepadaku sekalipun. Hingga kemudian aku yang lelah menunggu kepercayaan itu datang, aku memilih untuk pelan-pelan pergi meninggalkannya. Jadilah sekarang yang membuatku terus menghindar meskipun hanya sekadar lewat kontak mata. Alasan sebenarnya untuk menjawab pertanyaannya tadi ialah hanya karena aku takut menggoyahkan keputusanku untuk pergi.

Jalan masih terus kami telusuri, bedanya tangan yang tadi ia tautkan kini kulepas demi menjaga hatiku supaya tetap ada di pendirian. Saat ini aku yang berjalan mendahuluinya, tetapi tetap memantau siluet hitam yang ada di belakangku. Siluet hitam laki-laki dengan postur tegap yang masih setia berjalan di belakangku, menepati janjinya bahwa tidak akan pergi meninggalkanku sendiri jalan-jalan malam di sekitar area vila. Laki-laki yang masih setia dengan gulungan kertas berisi rundown acara malam ini tanpa berniat membuangnya sekalipun. Laki-laki yang masih setia membuka langkahnya selebar mungkin untuk tetap berada di dekat radarku. Laki-laki yang mungkin masih setia meminjamkan jaket kulitnya walaupun dada bidangnya juga butuh sesuatu untuk menghalau rasa dingin.

Aku menoleh ke arahnya dan disambut dengan rasa penasaran ciri khasnya.

“Mau balik?” tanyanya untuk memastikan aku tetap baik-baik saja atau tidak. 

Nggak, aku cuma khawatir tiba-tiba kamu yang diculik. Abisnya dari tadi kamu diem terus.”

“Lah, gue ajak ngobrol lo-nya bales singkat-singkat. Gak gue ajak ngobrol, lo-nya curiga sama gue.”

“Bukan curiga!!”

“Sama aja.”

“Tuhkan, kamu susah banget percaya sama orang.” Kelepasan aku membahas topik sensitif itu.

Raut di wajahnya tiba-tiba mendadak keruh, berharap cemas aku tidak melanjutkan obrolan konyol ini. “Apa sih kok tiba-tiba bahas itu,” ujarnya yang mendadak berhenti berjalan.

“Ya kamu dari dulu susah buat percaya sama aku, padahal aku selalu ada buat kamu buat cerita tentang hari ini. Tapi kamu milih buat diem doang, seolah-olah kita kayak bukan orang yang udah lama akrab. Kamu pikir hal yang kayak gitu bisa aku remehkan?” Masih tetap memilih menyambung obrolan ini, aku sudah hampir menangis kalau saja aku tidak menahan suara serak yang mendadak melanda. Ternyata dalam kurun waktu lima bulan itu masih belum bisa menghapus ingatan tentang mimpi buruk ini.

“Kamu pikir hal yang kayak gitu gak nyakitin hati, padahal kita berdua selalu habisin waktu bareng. Kamu pikir hal yang kayak gitu, ngeliat kamu ketawa lepas sama teman-teman cewek kamu, padahal yang selalu kamu ajak main itu aku. Kamu pikir hal yang kayak gitu gak bikin aku terus-terusan nangis di belakang kamu.

“Ah, shit, here we go again. Mau balik ajalah aku,” finalku untuk berusaha sekuat tenaga menahan runtuhnya pendirianku.

Namun, dia menarik tanganku agar aku tetap berada di posisi semula.

“Luapkan aja dulu, gue mau dengar apapun alasan yang nyakitin itu.” Aku heran kenapa dia tetap mau mendengarkanku yang bahkan dirinya tidak mau didengarkan.

“Apa yang mau diluapkan. Aku bukan bermaksud untuk nyakitin kamu.”

Please!”

“Iya apa yang harus aku jelaskan lagi?” Dia mengerutkan kening, tidak paham di bagian aku yang mengatakan ‘jelaskan lagi’.

“Bukannya lo dari dulu gak pernah ada penjelasan sekalipun yang keluar dari mulut lo? Bukannya lo dari dulu yang tiba-tiba pergi ninggalin gue sendiri? Bukannya lo dari dulu ya yang selalu bilang mau nunggu untuk gue punya hal yang lo mau? Tapi kenapa lo tiba-tiba pergi tanpa penjelasan, ninggalin gue yang bingung sendiri sama tingkah laku lo saat di kampus. Aneh nggak kalau sekarang gue yang bilang bahwa lo jahat banget dulu. Disapa nggak pernah ada respon, bisa-bisa dikira gue udah kayak nyapa setan. Di chat lo gak pernah bales, bahkan nomor Whatsapp gue udah lo hapus. Jadi disini yang jahat siapa?”

Salah aku mengira bahwa hubungan kami yang dulu rumit, justru saat inilah yang lebih rumit lagi. Jangan ditanya aku sudah tidak bisa berdiri dengan sempurna, kedua kakiku yang menopang tubuhku seketika lemas mendengar cecarannya. Kalau aku yang dulu kecewa pada laki-laki di depanku ini, sedangkan justru laki-laki itulah yang lebih banyak memendam rasa kecewa kepadaku.

“Maaf.” Satu kata yang dapat kuucapkan saat ini, meskipun bagian tingkah lakuku yang mana yang bisa ia maafkan. Entah maaf untuk membuka obrolan sensitif ini atau maaf untuk kesalahan-kesalahanku di masa lalu.

Alih-alih untuk mengiyakan ucapan maafku, Alaska lebih memilih merengkuh tubuh mungilku. Seolah mengatakan bahwa dengan pelukan semuanya bisa luruh. Erat dan hangat sekali. Sesekali pelukan itu bergetar karena sesenggukan yang tercipta dari pecahnya tangisku.

“Maaf, aku gak tahu kalau ternyata yang nggak bisa anggap remeh bukan cuma aku aja. Maaf aku udah nyakitin kamu. Maaf yang tiba-tiba pergi tanpa alasan. Aku minta maaf, Al.”

“Tata, please take a chance with me again?”

Penulis : Myesha Fatina Rachman

Editor : Dimas Septo Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *