Pak, bagai dunia ada digenggaman, mulutku pernah tak berhenti tersenyum dan mengeluarkan tawa. Bagai wangi di taman bunga, aku pernah menganggap diriku jadi orang paling bahagia. Permen coklat, bando biru, dan susu murni yang jadi harapan si gadis kecil favorit awan.
Pun hujan jarang luruh karena tak ada izin untuk jatuh.
Tak ada keluh karena si awan perlu bersyukur.
Kelap-kelip lampu hampir hancur berusaha tuk hidup bagai jalan di ujung benang dan jarum,
aku selamat
atau jatuh.
Binar mata tak berhenti merajut taman penuh bunga warna-warni. Aku jatuh cinta, Pak. Bak kupu-kupu yang terbang mengelilingi langit, mengitari si awan pemilik senyum yang tak tertandingi, mencari manis dari bunga warna-warni. Terbang seraya berputar melihat isi kota yang cukup cantik dan kemudian—
—Aku jatuh.
Bagai ikan yang mengepak di daratan meminta air yang tak kunjung datang. Insangnya berhenti, pasrah pada takdir. Kupu-kupu dan taman bunga hancur, langitnya kabur, awannya terkubur.
—Aku patah. Ranting pohon yang tegak menjulang hampir tinggi itu patah sebab menjadi tempat burung merpati bercinta dengan burung gagak. Putihnya jadi hitam. Cantiknya jadi luka. Awan menggelap, hujan tak turun jua.
Iya, Pak, iya. Benar ada harapan tuk air hujan melunturkan hitam dan luka. Namun apa itu kalau yang datang hanya semilir angin yang terus terbang menampar hal yang mungkin abadi.
Iya, iya, benar, angin, kau yang membawa kelopak bunga di taman warna warni itu jadi sepi, kau juga yang mendorong awan pergi kemudian menyadari dan … WOOSH!
Betul, aku memang yang jatuh cinta dan aku juga yang memang jatuh … jatuh …. dan patah.
—
Surabaya, 13 November 2022
Penulis : Mega Putri M.
Editor : Daffa Amelia Yasa
