sumber foto: penulissumber foto: penulis

Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada. (Dewi Ayu, tokoh utama novel Cantik Itu Luka)

Saya ingat betul bagaimana reaksi saya pertama membaca kalimat tersebut di Twitter. Bagai paradoks, saya merasa kalimat tersebut kasar dan tidak benar, pun bagi sebagian orang. Namun rasanya, saya seperti mengimani kutipan tersebut. Inilah yang membuat saya tertarik untuk membaca novel ini lebih lanjut.

Berbekal rasa percaya diri, saya mengira novel ini layaknya novel romantis pada umumnya, atau paling jauh dibumbui sedikit drama. Apalagi, warna sampulnya merupakan perpaduan banyak warna merah sehingga saya asosiasikan sebagai cinta dan kasih sayang. Ternyata saya salah total. Bab pertama saya baca, seketika disuguhi adegan seperti yang muncul di kebanyakan film horor: bangkit dari kubur di malam hari. Selepasnya, saya begitu menikmati halaman demi halaman novel ini. Setiap dialognya terasa begitu nyata hingga saya merasa dilibatkan sebagai saksi kisah Dewi Ayu, dari sebelum kelahirannya hingga kehidupan anak cucunya.

Novel ini berlatarkan suasana peralihan kekuasaan Belanda kepada Jepang hingga pada tahun-tahun setelahnya. Satu yang paling membekas bagi saya dari sekian banyak hal menarik adalah kelihaian Eka Kurniawan sebagai penulis dalam menampilkan kondisi para perempuan pada masa itu. Dewi Ayu yang merupakan keturunan Belanda tertangkap oleh Jepang lantas dijadikan pemuas nafsu tentara-tentara mereka. Nasib ini ia alami bersama banyak perempuan yang menjadi korban keganasan Jepang di Indonesia. Kondisi yang demikian merombak cara pandang Dewi Ayu. Cara pandangnya mungkin nyeleneh, akan tetapi itulah yang menjadi penggerak peristiwa-peristiwa yang ia alami sepanjang hidupnya. Ada begitu banyak kenyataan yang mencengangkan, sebagai jawaban dari tumpukan misteri dalam novel ini. Terkejut, geram, dan getir, mendominasi perasaan saya sepanjang membaca novel ini. Tak heran jika Eka Kurniawan meraih penghargaan dalam Prince Claus Award pada 2018 di Kerajaan Belanda atas karya ini sebab novel ini menjadi perpaduan yang sempurna antara romansa, tragedi, dan satir seperti yang dikutip dari Harper’s Bazaar.

Perihal sampul, kombinasi warna merah ternyata merupakan potret Halimunda, kota fiksi sebagai latar tempat yang begitu cantik dan penuh cerita. Pada sampul juga tergambar beberapa kejadian dalam novel seperti jatuh dari bukit, kumpulan ajak-ajak, dan sepasang kekasih di atas perahu.

Novel ini begitu epik, benar jika banyak orang merekomendasikannya untuk dibaca setidaknya sekali seumur hidup. Kutipan yang saya tempel sebagai pembuka artikel sempat menjadi trending topic di Twitter beberapa waktu lalu. Namun, hal itulah yang menjadi daya tarik dan menjadi menggelitik untuk dipertanyakan: apa yang melatarbelakangi hingga tokoh tersebut berkata demikian?. Novel ini perlu untuk dibaca hingga akhir dan sebagai pembaca, hendaknya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Sebagai catatan, membaca novel ini hendaknya telah berusia diatas 21 tahun seperti yang dipersyaratkan sebab perlu penyikapan yang bijak atas penyajian adegan-adegan yang terbilang ‘berani’. Selamat membaca!

Penulis : Sri Dwi Aprilia

Editor: Arizqa Novi Ramdhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *