Sumber gambar: Dokumentasi Penulis

“Kalian pasti tahu kalau hidup manusia tak ternilai dan tak bisa ditukar dengan apa pun. Namun, coba bayangkan jika hidup manusia bisa dihitung dengan uang, menurut kalian, berapa nilainya?”

Pertanyaan tersebut adalah alasan saya tertarik membaca buku Three Days of Happiness karangan Miaki Sugaru. Buku ini memiliki 256 halaman, tergolong cukup sedikit untuk ukuran novel. Saya berekspektasi bahwa Three Days of Happiness akan menyajikan cerita yang sederhana, mengingat jumlah halamannya yang tidak banyak. Selain itu, novel ini juga tidak pernah menerima penghargaan resmi sehingga saya tidak berekspektasi tinggi terhadap kualitas ceritanya. Saya membaca novel ini hingga tamat dalam satu malam, dan tidak bisa tidur setelah membacanya. Cerita yang disajikan memang sederhana, tetapi sarat makna tentang kebahagiaan, cinta, kehidupan dan kematian.

Novel ini menceritakan sisa hidup Kusunoki, seorang mahasiswa yang putus asa. Tidak punya teman ataupun mimpi, Kusunoki menjalani keseharian yang hampa. Suatu hari, ia tidak memiliki uang dan mencoba menjual sisa hidupnya kepada sebuah toko misterius. Toko itu menilai harga umur seseorang sesuai dengan seberapa bermakna hidup orang tersebut di masa depan. Kusunoki percaya bahwa harga umurnya sekitar ¥1.000.000 per tahun. Akan tetapi, ternyata nilai hidupnya hanya seharga ¥10.000, atau sekitar Rp1.000.000 per tahun. Tanpa ragu, Kusunoki menjual 30 tahun hidupnya dan hanya menyisakan 3 bulan untuk menikmati uang ¥300.000, atau sekitar Rp30.000.000. Ironisnya, Kusunoki tidak tahu bagaimana cara menghabiskan uang itu. Selama ini, ia menjalani hidupnya tanpa tujuan yang jelas. Dengan sisa hidupnya yang sedikit, Kusunoki bertekad menemukan kebahagiaan.

Aspek yang paling berkesan bagi saya bukan tentang ‘apa’ yang diceritakan, tetapi ‘bagaimana’ penulis mengeksekusi ceritanya. Meskipun novel ini memiliki aspek fantasi, sang penulis tidak mencoba menjual fantasi manis. Hanya karena Kusunoki memiliki uang, bukan berarti ia bisa mengubah hidupnya secara drastis. Usahanya untuk menemukan kebahagiaan tidak pernah berjalan mulus.

Perlahan, pembaca akan mengetahui alasan di balik kehidupan Kusunoki yang menyedihkan. Ini bukan pertama kalinya saya membaca atau menonton cerita di mana protagonis menjalani hidup yang berantakan. Sering kali penyebab utama kehidupan protagonis yang menyedihkan adalah hal-hal di luar kendali, seperti kekerasan dalam rumah tangga, bullying, dan kecelakaan. Namun, novel ini berbeda. Kusunoki tidak mengalami insiden traumatis yang mengguncang hidupnya. Ia juga dibesarkan dalam keluarga yang fungsional. Ia bahkan bisa dianggap sebagai anak yang berbakat di sekolah dasar. Kusunoki menggambarkan generasi muda yang kehilangan arah bukan karena tragedi besar, melainkan karena ketiadaan makna dalam keseharian mereka. Hal ini membuat karakternya begitu relevan dengan pembaca masa kini.

Meskipun cerita yang dibawakan bernuansa kelam, sang penulis tetap menyisihkan harapan dalam cerita ini. Sering kali orang mencampuradukkan makna realistis dengan pesimistis. Hidup tidak selalu dipenuhi momen yang menyedihkan, tetapi juga dipenuhi momen yang menyenangkan. Justru momen-momen menyedihkan menciptakan kebahagiaan lebih bersinar, selayaknya kunang-kunang di malam hari.

Buku ini tidak memiliki bab kata pengantar dan biografi penulis. Sugaru Miaki adalah nama pena dan informasi pribadi tentang penulis sangat terbatas. Meski begitu, penulis memberikan bab penutup yang bisa menggantikan bab kata pengantar di buku ini. Di dalam bab penutup, penulis menyuarakan pendapatnya tentang mengapa orang seperti Kusunoki tidak bisa bahagia. Menurutnya, orang bukan tidak bisa bahagia, melainkan tidak mau bahagia, dan baru menyadarinya ketika akhir hidupnya semakin dekat. Bab penutup ini seperti tamparan keras bagi pembacanya.

Three Days of Happiness bukanlah buku yang menggurui, tetapi mengajak pembaca untuk melakukan refleksi terhadap hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita. Sama seperti kebahagiaan yang tumbuh dari hal-hal kecil, kesedihan juga bisa tumbuh dari hal-hal kecil yang sering diabaikan. Menurut saya, buku ini wajib dibaca oleh semua orang. Jumlah halamannya yang tidak banyak dan bahasanya yang mudah dipahami membuat buku ini bisa dibaca oleh siapa pun, termasuk orang yang jarang membaca buku. Kemudian, setelah Anda menutup halaman terakhir dari buku ini, coba renungkan: berapa nilai hidup Anda?

 Penulis: Hessel Pradanaputra

 Editor: Hana F. Lisdanta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *