Sumber Gambar: Pinterest

Ibuku berbeda dari Ibu biasanya. Meski sekitarku berkata ini zaman digital, Ibu tak memperbolehkanku mempunyai gawai di bangku sekolah dasar. Ibu tetap mengizinkanku bermain dan belajar dengan gawainya, tapi ada batasan waktu dan informasi tertentu yang kata Ibu belum saatnya aku tahu. Awalnya aku memprotes, mempertanyakan mengapa harus seperti itu? Mengapa aku tidak bisa seperti kawan-kawanku lainnya, yang bahkan sudah memegang gawai pribadi di kelas tiga?

Ibu tersenyum, mengelus rambutku halus. “Ada yang namanya regulasi, anakku.”

Alisku tertaut. Regulasi, kata apa itu?

Melihat ekspresiku, Ibu kontan tertawa. “Kamu kan masih di bawah umur, masih menjadi tanggung jawab Ibu dan Bapak. Ada konten di dalam sini yang boleh kamu lihat, ada juga konten yang nanti kamu bisa lihat saat jadi anak besar. Itu namanya regulasi. Pengaturan sesuai tempat dan kebutuhannya.”

Aku menganggukkan kepala, penjelasan Ibu benar juga.

“Mirip seperti peraturan di sekolah, ya?”

“Betul,” Ibu mengacungkan jempolnya. “Lagipula, Ibu kan tidak melarang kamu menggunakan gawai selamanya. Nanti kalau kamu sudah cukup umur dan bisa bertanggung jawab, kamu juga akan dapat privasi dan gawai pribadi. Semuanya harus bertahap.”

Manja, aku bergelayut di lengan Ibuku. “Umur berapa aku boleh punya gawai sendiri, Bu?”

Ibu menopang dagunya dengan dua jemari, lagaknya bak detektif yang berpikir keras. “Lulus sekolah dasar, kamu boleh pegang gawai pribadi. Tapi tetap dengan pengawasan Ibu Bapak, setuju?”

Aku menjerit kegirangan, itu berarti sebentar lagi. “Setuju!”

Percakapan itu membuatku tak sabar menjadi anak besar. Memegang gawai sendiri terdengar asyik. Aku bisa membuat video seperti Kakak, membagikan pendapat dan ilmunya di media sosial. Aku juga bisa membersihkan rumah sembari mendengarkan liputan pagi seperti Ibu. Ah! Aku juga bisa seperti Ayah yang bekerja tekun, menulis banyak macam berita di gawainya. Sepertinya seru sekali.

Waktu berlalu, tak terasa kelulusan siswa sekolah dasar akan segera tiba–aku menjadi bagian dari mereka yang lulus ke jenjang berikutnya. Aku menandai tanggal itu di kalender, menebalinya dengan spidol merah. “Setelah ini aku akan punya gawai sendiri!” seruku bersemangat.

Anehnya, tak ada yang menanggapi. Semuanya hanya tersenyum tipis.

Aku mengerutkan dahi, bertanya pada diri sendiri. Kenapa tidak ada yang semangat, ya?

Kupikir, kelabu di rumahku hanya akan terjadi kala itu. Dugaanku salah.

Telingaku tak lagi mendengar Kakak merekam dirinya, menyapa para penggemar dunia maya di dalam kamarnya. Di ruang keluarga, tak terdengar suara bersemangat reporter yang menyampaikan liputan pagi. Ayah juga lebih sering menggerutu. Makanan di rumah menjadi tak menentu. Kata Ayah, ia lelah harus berkali-kali mengganti narasinya supaya sesuai dengan yang di atas sana.

Kelulusan sekolah dasar akhirnya tiba. Penantian itu berakhir juga.

Kelabu di rumahku sejenak diganti dengan warna merah jambu. Kebaya merah jambu, sepatu merah jambu, bahkan lipstik merah jambu disiapkan oleh Ibu. Aku terperangah melihat betapa semangatnya Ibu mendandaniku. “Aku boleh pake make up seperti Ibu?”

“Boleh dong, ini kan hari spesialnya kamu.” Ibu tersenyum lebar, memoleskan lipstik merah jambu tipis-tipis di bibirku. “Selamat yaa, sudah lulus sekolah dasar. Anak Ibu sudah besar, ya.”

Anak besar, seraya melihat pantulan diriku di cermin, aku membatin.

Rupanya, bukan hanya pagi itu saja aku merasa seperti anak besar.

Sepulang dari acara, mataku membelalak melihat kotak yang dibungkus kertas kado merah jambu di meja. Mengkilap sekali warnanya, dihiasi dengan pita berwarna senada. Benakku dapat menebak isinya. Tanpa repot-repot mengganti kebaya, aku langsung duduk penuh semangat di ruang keluarga. Dikelilingi Ibu, Ayah, dan Kakak, aku menyobek perlahan kertas kado tersebut. Antusiasme tergambar cerah di wajah. Ibu memang berbeda dari Ibu lainnya. Tapi ingkar janji bukan sifatnya.

Kertas kado telah terbuka.

Menunjukkan gawai yang telah kudamba. Gawai pribadi. Gawai pertama.

Namun, ada yang aneh saat gawaiku akhirnya menyala.

Aku termangu. Pemandangan di depan mata sangatlah jauh dengan ekspektasiku.

“Ibu, kenapa gawaiku tertutup tirai?”

Aku menggulir layarnya ke atas dan bawah, menggesernya ke kanan dan kiri. Tak ada perubahan. Hanya ada tirai hitam menutupinya. Kelam. Padam. Seolah seseorang sengaja menutupi segala jenis informasi di dalam sana. Aku membuka aplikasi satu ke yang lainnya. Tirai itu masih ada. Aku menengadah, menatap satu-satu wajah Ibu, Ayah, dan Kakak. Mereka pasti tahu alasannya, bukan? Mengapa mereka diam saja? Apakah wajar layar gawaiku hitam?

“Ibu, gawaiku kenapa?”

Ibu mengelus rambutku, “Ini namanya regulasi berlebihan.”

***

Cerita tersebut sejatinya adalah dramatisasi. Tentunya, gawaimu tak bisa ditutupi tirai. Namun, pengesahan RUU Penyiaran dapat menyebabkan hal tersebut menjadi nyata. Sensor sana, sensor sini, tak ada ubahnya dengan tirai yang menutup kebebasan warga negeri untuk bersuara. Bungkam sana, bungkam sini, apa bedanya dengan tirai yang menghalangi tersingkapnya kebenaran?

Tolak RUU Penyiaran. Sebelum kebebasan bersuaramu direnggut tanpa alasan.

Penulis: AA-12

Editor: AK-20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *