Sumber: Pinterest
Tiap helaan nafasku terasa berat tanpanya. Tiada henti diriku berlari ke sana kemari ‘tuk mencari dimana gerangan dirinya. Tanpa pamit, ia tinggalkan wanita yang dicintainya, apakah ia t‘lah menghapus diriku dari dunianya?
Bertahun-tahun diriku menolak para bujangan yang mencoba merenggut cintaku untuknya. Tanpa arah sukmaku dibawanya pergi; tak pernah kutemui ia kembali.
Penantian, kehampaan, kebingungan hingga kehidupan yang terasa seperti kematian—semua itu t‘lah berlalu. Mataku berbinar menatapmu, lelaki yang ku puja-puja seumur hidupku, yang kunantikan hingga akhir hayat. Berlinang air mataku karenamu, tiada peduli dunia yang membeku di sekelilingku. Kupercepat langkah, menggenggam harap yang nyaris padam—di bawah langit malam yang muram, bersama rintik hujan yang luruh dan menyatu dengan tangisku. Namun, apa yang kulihat?
Kau hampiri seorang anak perempuan kecil, manis dengan kuncir dua di rambutnya, dan seorang wanita dengan cincin yang serupa dengan milikmu di jari manisnya.
Hancur.
Duniaku hancur.
Hidupku hancur.
Lemas tubuhku melihat kenyataan sepahit ini. Tak sanggup mataku memandang malapetaka di hadapan, bak menatap kilatan petir yang tak kunjung reda. Kepalaku begitu berat, tak tahu apa saja yang mengganggu.
Tak karuan kepalaku menghadapinya, aku pun berlari menjauh selagi aku bisa. Tak mampu lagi diriku menghadapi kenyataan ini. Bila mati bisa mengakhiri rasa sakit ini, biarlah aku mati. Tiap tetes air mataku mengalir begitu deras, bagai dihantam badai dengan amarah seluruh penjuru negeri. Bersamaan dengan tubuhku yang berlari tak tahu arah. Kunikmati tiap luka sedalam Palung Mariana, harap-harap pemandangan menyakitkan itu hanya sekedar mimpi buruk yang akan segera sirna. “Tuhan, jika cinta hanya berisi penderitaan, maka kumohon, bantu aku mengikhlaskan.”
Malam itu, kutinggalkan segala harapan yang telah melebur bersama setiap kenangan. Kutepis angan-angan tak berarti yang hanya membawa kekecewaan dan luka yang mendalam.
Biarlah dunia tertawa, biarlah langit menangis iba.
Sebab aku tak lagi memiliki cinta pun nyawa. Yang tersisa hanyalah jiwa yang tergores penuh luka. Meski kusadari semuanya terlalu nyata; banyak hal yang tak pernah ku jumpa dalam dirinya.
Senyum bahagia yang terlihat lebih lembut dari tiap gumpalan awan, tatapan cinta yang lebih indah dari pancaran sinar rembulan; tak pernah kudapati keduanya kala kisah asmaraloka kami masih terukir di atas papan, sebelum akhirnya dihabisi angin topan.
Kuluapkan seisi amarah yang mengendap di dada, hingga hati ini merasa lega, meski sekejap: “Hentikan, kumohon, hentikan!” Teriakan demi teriakan yang kuluapkan malam itu—mungkin justru membangkitkan malapetaka baru bagiku.
Sebab esok paginya, kutemukan seorang wanita paruh baya membawakan sebuah bejana tua berisi air yang keruh; entah berasal dari mana asalnya. Tapi sungguh, air itu seakan menggambarkan air mataku yang dipenuhi dengan kebencian dan kesedihan.
Ia menyiramkan air itu tepat ke wajahku yang tampak pucat. Aku tertegun. Dingin, perih, menyentak kesadaranku.
“Wanita bodoh!” serunya, tajam seperti pisau.
“Kau membuat cucuku tak bisa tidur semalaman. Sudahi tangisanmu itu dan buat kekasihmu itu membayar perbuatannya. Tangisanmu tak berarti apa-apa baginya.”
Sungguh, ucapannya mengitari kepalaku selama beberapa detik.
Ia benar.
Kerinduan yang kupeluk selama ini tak pernah berarti baginya; aku hanya masa lalunya. Kenyataan itu mencabik-cabik perasaanku yang tak karuan. Kubanting pintu di depanku sebelum teriakanku kembali mengisi keheningan unit apartemenku.
Dan akhirnya,
Kuputuskan ‘tuk menemui dia—lelaki yang kupuja bagai tiada lelaki lainnya. Kucari dirinya di seluruh penjuru kota dengan ribuan cara hingga aku mendapatkannya.
Siang itu, ia memiliki jadwal makan siang dengan keluarga kecilnya.
Atau, haruskah kusebut mereka parasit perenggut kisahku yang penuh makna?
Lelaki itu, kini ia tengah sibuk dengan layar telepon genggam yang ia gulir entah sedang membaca apa; yang jelas, tampaknya ia melakukan itu untuk mengisi waktu kosong sebelum kedatangan sang istri dan putrinya.
Kulangkahkan kakiku menuju ke meja tempatnya menikmati hidangan berupa pasta dan beberapa jenis makanan penutup yang manis, masih sama seperti bagaimana aku mengenalnya; puding cokelat adalah yang terbaik baginya.
Sayang sekali,
Belum sampai langkahku di mejanya, wanita itu—istrinya—
Ah, bahkan aku terlalu benci menyebutnya ‘istri kekasihku’.
Wanita itu menghampiri lelakiku, menyapanya dengan penuh cinta, dan memeluknya dengan penuh kehangatan.
Aku benci pemandangan ini.
Ingin rasanya diriku segera menghampiri wanita itu dan meneriakkan amarahku tepat di depan wajahnya yang tersenyum tanpa dosa,
“Dia milikku, dasar wanita murahan!”
Namun, aku tahu, hal itu hanya akan membawa sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Perkara yang mungkin akan menghancurkan segalanya; tetapi sesungguhnya, apa peduliku? Bukankah segalanya memang sudah hancur?
Kuurungkan niatku ‘tuk hampirinya, tidak ketika ia sedang berduaan bersama istrinya dengan begitu mesra. Itu sudah cukup untuk membuatku hancur, lebih hancur dari terakhir kali aku membayangkan betapa mesranya mereka berdua.
Kuikuti mereka sampai ke rumah sederhana tempat keduanya tinggal; sebuah rumah minimalis yang tampak cukup hangat untuk menjadi tempat keduanya mengukir kisah mereka bersama, kisah cinta penuh kebahagiaan yang terpancar dengan senyum keduanya yang penuh dengan suka cita.
Lalu, bagaimana denganku?
Aku menderita.
Tiap detik dalam hidupku benar-benar terasa seperti siksaan neraka.
Tidak bisa seperti ini.
Sudah cukup siksaan ini menghantui hidupku.
Tangisku pecah, deras, dan panas.
Emosiku liar dan tak terkendali.
Aku tak tahu apa yang menuntunku malam itu.
Dalam gelap dan senyap,
aku menyalakan api kecil,
berharap amarahku ikut terbakar bersama bara yang kupetik dari neraka dalam dadaku.
Hanya ada jeritan.
Jeritan lelaki yang pernah kusebut cinta dalam hidupku,
wanita sialan yang merebut indahnya warna dalam hidupku,
dan putri cantik mereka yang sebenarnya tak berdosa—ketiganya telah tiada di genggaman tanganku.
Aku mengingat persis bagaimana mereka berusaha mencari jalan keluar malam itu.
Namun seluruh celah yang dapat mereka gunakan ‘tuk melarikan diri telah kututup rapat. Tak ada sedikitpun celah bahkan hanya untuk mengeluarkan suara permintaan tolong yang sia-sia—semuanya telah aku pastikan dengan baik.
Senyum puas yang terukir di wajahku terpantul di kaca jendela tempat lelaki itu berusaha menyelamatkan diri. Aku tak tahu pasti apakah ia melihatku sebelum kematiannya yang begitu tragis, namun aku sudah menyampaikan pesanku untuknya malam itu. “Kau tahu, sebab jika aku tak bisa memilikimu, maka tidak ada yang bisa memilikimu; bahkan dirimu sendiri.”
Penulis: Hana F. Lisdanta
Editor: Priska Dwita Aulia