Judul Buku: Hidup di Luar Tempurung
Penulis: Benedict Anderson
Penerjemah: Rony Agustinus
Tahun Terbit: 2016
Halaman: i-x + 205 halaman
Penerbit: Marjin Kiri
Kota: Tangerang Selatan
“Rasa menjadi marjinal juga ada faedahnya. Di California saya ditertawakan gara-gara aksen inggris saya, sebaliknya di Waterford gara-gara idiom-idiom Amerika saya, dan di Inggris gara-gara keirlandian saya. Orang bisa membaca ini secara negatif tanpa akar, tanpa identitas yang tegas.”
Ungkap Benedict Anderson (hlm. 25)
Alih-alih menjadi marginal laksana distopia layaknya orang-orang, Benedict Anderson justru memetik faedah dari kondisi yang ada.1 Tentu pengembaraan Ben sebagai seorang marginal tidak semudah yang dibayangkan, berulang kali Ben jatuh bangun mengarungi fase keterasingan dan terpinggirkan. Meski demikian, pada titik inilah benih kosmopolitan Ben terbentuk dan memberi pengaruh signifikan terhadap karya serta perspektifnya. Hal itu tampak jelas pada Imagined Communities (1983), Under Three Flags (2005), The Spectre Comparison (1998), dan The Idea of Power in Javanese Culture (1972) yang kaya akan referensi literatur lintas bahasa, ‘berdaging’, dan disiplin. Sementara itu, Hidup di Luar Tempurung (2016) yang merupakan autobiografi ini adalah ‘proyek kecil’ Ben tentang kehidupannya. Tidaklah mudah menyusun autobiografi apalagi di usia senja—bagai menyusun puzzle rupanya. Ben pun merasa hidupnya tidaklah menarik.
Mulanya, ‘proyek kecil’ ini berawal dari ide koleganya, Endho Chiho, seorang editor piawai di penerbit NTT, Jepang. Ia melihat Ben sebagai sarjana autentik ketimbang sarjana barat lain, baik dalam segi pengetahuan maupun kerja lapangan. Dari segi kerja lapangan, Ben adalah kelas wahid yang malang melintang dari Indonesia, Siam (Thailand), hingga Filipina. Atas dasar inilah koleganya berharap supaya Ben menulis autobiografi. Meskipun terkesan skeptis di awal, Ben tidak sedikitpun menyesali keputusannya menulis.
Lain halnya dengan bagian awal buku ini, Ben gemar memamerkan proses mencari eksistensi dirinya sebagai ‘Benedict Anderson’. Ia lahir pada 26 Agustus 1926 di Kunming, Tiongkok, sedangkan kedua orang tuanya berbeda kewarganegaraan, ayahnya seorang Irlandia tulen dan ibunya seorang Inggris. Oleh sebab itu, dalam dirinya mengalir deras dua darah keturunan sekaligus: Irlandia-Anglo. Meski demikian, kedua orang tuanya tiada henti menabur kasih sayang kepada Ben. Kehadiran dua adiknya pun, Perry Anderson dan Melanie Anderson, semakin memberi makna akan ‘keluarga’.
Selama di Tiongkok, Ben sempat diasuh oleh gadis Vietnam yang juga mengajarkannya bercakap Vietnam. Pada suatu momen, Ben sempat melontarkan makian dalam bahasa Vietnam hingga membuat orang tuanya terpingkal-pingkal. Sayangnya, usai keluarga Ben memutuskan untuk kembali ke Irlandia, gadis tersebut tidak diketahui lagi rimbanya.
Sisi menarik lain dari kehidupan Ben terlihat pada ekosistem keluarganya. Sedari kecil kedua orang tua Ben memberi anak-anaknya perpustakaan rumah yang tiada bandingannya, memotivasi buah hatinya agar terbiasa membaca kehidupan, pengalaman, dan pemikiran orang-orang dari beragam bahasa (hlm. 8). Kebiasaan membaca literatur lintas berakhir membentuk watak kosmopolitan Ben. Di usia belia, ia bahkan mampu melahap Tale of Genji dan Pillow Book of Sei Shōnagon, sesuatu yang patut diteladani generasi muda saat ini agar tidak merasa puas diri. Selain itu, kesadaran Ben terhadap perjuangan kelas serta konflik keagamaan terpupuk usai ia dan kawannya sering mendapat pengeroyokan dari gerombolan anak-anak Katolik yang tinggal di perkampungan miskin. Anak-anak itu melihat Ben beserta kawannya sebagai seorang Protestan yang sok jagoan. Pada saat itu, Ben tidak menyadari alasan dibalik pengeroyokan tersebut, namun pengalaman itu menorehkan pelajaran untuknya. Di kemudian hari, ia pun menentukan tendensinya pada egalitarian dan kelas tertindas. Momen seperti saat Ben turun tangan untuk membela kelompok kecil mahasiswa berkulit coklat dari perundungan mahasiswa Inggris sewaktu demonstrasi krisis Terusan Suez berlangsung.
Selebihnya, Ben masih menyimpan rentetan kisah menarik untuk disimak. Katakanlah masa-masa pendidikannya di Eton College yang membuat dirinya terhanyut pada literatur dan bahasa klasik, belum lagi keranjingan pada sastra zaman antik. Di sinilah ia bersimpang jalan dengan Perry Anderson; adiknya yang berfokus pada sejarah, politik, dan sastra modern, sementara Ben berpegang teguh pada bahasa dan sastra zaman antik. Tidaklah mengejutkan kecintaannya terhadap bahasa dan sastra berhasil mengantar dirinya pada julukan si polyglot. Di satu sisi, Ben melihat ini sebagai bakat warisan ayahnya sehingga membuatnya ‘luwes’ menyerap bahasa tanpa bersusah payah. Kecakapan berbahasa membantunya mudah berinteraksi bersama orang lain meskipun seringkali Ben merasa termarginalkan oleh bahasa. Usai merampungkan studi, Ben melanjutkan jenjang pendidikan studi klasik di Cambridge University dan menyandang gelar lulusan terbaik. Setelah lulus, rasa frustasi menerpa Ben lantaran tak kunjung memperoleh pekerjaan. Beruntung, teman baiknya di Cornell University menginfokan lowongan pendaftaran asisten dosen pada Ben. Layaknya bebek bertemu air, Ben langsung klop dengan profesi tersebut. Setelahnya, ia berkenalan dengan George McTurnan Kahin, profesor kelas wahid kajian Asia Tenggara, yang kelak menjadi pembimbing disertasinya.
Pada bagian selanjutnya, terlihat keseriusan Ben saat membicarakan tentang kajian wilayah, utamanya wilayah Asia Tenggara. Seusai Perang Dunia II, negara-negara di bawah panji imperialis-kolonialis mulai berbalik arah menentang bahkan menempuh segala cara untuk ‘menyingkirkan’ para penjajah dari bumi pertiwi mereka—yang umumnya disebut sebagai dekolonialisasi. Satu peristiwa memicu adanya revolusi, perang gerilya, gerakan bawah tanah, hingga menguatkan organisasi bernapaskan ideologi tertentu. Hal ini menarik atensi mahasiswa barat untuk mengkaji wilayah Asia Tenggara, salah satunya Ben. Ben menegaskan betapa kajian Asia tenggara memancarkan daya tarik yang besar karena terlihat seperti sesuatu yang gres (hlm. 83). Umumnya, studi wilayah Asia Tenggara hanya digarap oleh peneliti geladak kapal dan karya yang dihasilkan terkesan bias.2 Beruntung, Ben menaruh perhatian serius terhadap kajian wilayah Asia Tenggara, maka tidak mengejutkan bahwa Indonesia adalah cinta pertamanya.
Cintanya pada Indonesia dimanifestasikan secara utuh dalam bab tersendiri; kerja lapangan. Bab ini diawali oleh kesan pertama Ben setibanya di Jakarta pada akhir Desember 1961. Ia lekas dikejutkan oleh bau-bauan dari pepohonan, semak-semak, kencing, dupa, lampu minyak, sampah, hingga aroma masakan warung-warung kecil di pinggir jalan (hlm. 63). Tidak jarang tersisip hal-hal menarik lain sewaktu kerja lapangan di Indonesia, misal ketika Ben pertama kali menjajal sarung, mencetuskan istilah bule agar kawan-kawannya berhenti memanggil Ben dengan sebutan tuan, pun merasakan gegar budaya ketika mendapati betapa bebasnya pria ketimbang perempuan yang dijaga dan dipingit di rumah. Selain itu, ia menaruh perasaan geli terhadap kata “gado-gado” yang merupakan bahasa selang-seling Indonesia-Belanda generasi lama, juga berkawan baik bersama Onghokham yang kelak menjadi sejarawan kelas wahid. Belum lagi banyolan supir truk seputar seks, polisi brengsek, politik, dukun, kode buntut yang tatkala menjadi pengalaman menarik bagi Ben.
Meletusnya peristiwa G30S dan era orde baru kediktatoran militer Soeharto bahkan tidak sanggup menyusutkan perasaan cinta Ben kepada Indonesia. Ia pun dicekal selama 27 tahun setelah menerbitkan A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia alias Cornell Paper. Kendati demikian, Ben bersyukur memiliki kesempatan untuk menjajal kerja lapangan lain, begitu halnya sewaktu ia di Siam (Thailand) dan Filipina. Buku ini menyajikan paparan kerangka perbandingan. Menurut Ben, komparasi bukanlah metode atau teknik akademik melainkan praktik diskursif (hlm. 126). Hal utama yang ditekankan ketika melakukan komparasi adalah menemukan keserupaan maupun perbedaan menonjol. Tentu saja praktik ini membantu re-analisis Ben atas kemunculan nasionalisme dan anggapan lama bahwa nasionalisme tumbuh dari kelompok etnis yang telah lama ada. Menurut Ben, terbentuknya nasionalisme didasari atas perasaan nasib dan masa depan yang sama sehingga membentuk ikatan satu sama lain, meskipun ‘anggotanya’ tidak pernah bertemu sekalipun. Meski begitu, kapitalisme cetak (surat kabar) memiliki peran sebagai katalis di baliknya (Anderson, 1999, hlm. 2–4). Inilah yang dimaksud Ben sebagai komunitas terbayang, basis epistemologi karya fenomenalnya: Imagined Communities. Sementara kerangka perbandingan dapat diamati melalui karya lain The Spectre Comparison.
Lain halnya dengan bab interdisipliner, Ben secara terang-terangan memberi komentar pedas atas kecenderungan jurusan-jurusan berbasis disiplin ilmu yang memiliki kepentingan terselubung mempertahankan status quo, dengan kata lain merasa jurusannya elit. Padahal Ben menyadari kepingan-kepingan dari disiplin yang berbeda dapat dipadukan guna menjembatani berbagai disiplin ilmu. Dengan demikian, yang dimaksud oleh Ben adalah pendekatan interdisipliner. Penguasaan pendekatan ini tidaklah mudah, diperlukan penguasaan mendalam atas dua atau lebih disiplin ilmu. Ini berbeda dengan pendekatan multidimensional yang cenderung “meminjam” kerangka konsep dari disiplin ilmu lain. Kendati demikian pendekatan interdisipliner yang ditawarkan oleh Ben masih terkesan “menara gading”, dalam artian sulit untuk dipelajari khususnya bagi mereka yang memiliki perbedaan latar belakang secara keilmuan. Namun, pendekatan ini tentu saja relevan untuk membaca realitas dunia saat ini.
Beranjak ke bab terakhir buku, narasi memukau berisikan masa usia senja Ben yang lepas dari profesinya sebagai pengajar. Meski demikian, ia tetap konsisten sebagai peneliti lepas waktu sembari mewujudkan cita-cita masa kecilnya yang belum keturutan—menjadi seorang novelis. Selain itu, Ben menyempatkan diri melancong ke Indonesia untuk melanjutkan proyek pelacakan identitas di balik penulis buku berjudul Bara Api yang sebetulnya adalah Kwee Thiam Tjing. Buku ini sempat Ben temukan sewaktu ia masih bebas keluyuran di Indonesia sebelum akhirnya didepak oleh rezim diktator militer Soeharto. Buku tersebut diterbitkan kembali dengan judul baru Menjadi Tjamboek Berdoeri: Memoar Kwee Thiam Tjing. Di satu sisi, Ben merasa memiliki kesamaan dengan Kwee, yakni watak kosmopolitan. Hal ini terlihat pada luasnya penguasaan Kwee akan bahasa dan sastra hingga kentara dalam tulisannya. Selebihnya, Ben mengisi masa senjanya dengan menghadiri seminar, memberi perkuliahan, bahkan tiada hentinya untuk ‘kerja intelektual’. Ben sendiri sempat terpukau oleh novelis Eka Kurniawan akan cerita dan cerpennya.
Tibalah di penghujung kata, pengembaraan hidup Ben sebagai seorang marginal tatkala memberinya kesempatan untuk terus belajar dan mencari tahu eksistensi dirinya, sekalipun menjadi katak yang hidup di luar tempurung. Inilah yang menjadikan Ben sebagai seorang autentik ketimbang orang-orang yang mengaku dirinya sok autentik (mauvaise foi) (Setyadi, 2020, hlm. 33). Selebihnya, buku ini patut dibaca terutama sebab gaya bahasa yang mudah dipahami mengesampingkan substansi yang berbobot. Banyolan Ben pun menyertai tiap kalimat, tentu saja senada dengan kerangka perbandingan yang dicetuskan oleh Ben—adalah hal yang menarik jika praktik diskursif tersebut diterapkan untuk memahami realitas hari ini. Sayangnya, saya kurang sependapat dengan pendekatan interdisipliner yang digagas oleh Ben. Pendekatan ini masih terbilang sulit untuk dikuasai, belum lagi tuntutan “keharusan” untuk menguasai dua disiplin atau lebih. Sekelas dilentatis seperti saya akan mengeluh, tetapi sekelas ahli? Silakan mencoba.
Penulis: DD-10
Editor: RA-06
- Ben, Om Ben, Pak Ben, begitulah orang-orang akrab memanggilnya. ↩︎
- Mulanya saya sedikit kebingungan untuk mencari istilah para peneliti yang melakukan riset pada periode kolonial. Beruntung saya menemukan istilah peneliti geladak kapal untuk memberi penegasan. ↩︎