Sumber : jpmas.com.niSumber : jpmas.com.ni

Permasalahan iklim masih menjadi momok yang harus segera diselesaikan bersama-sama hingga tulisan ini terbit dan dibaca. Namun akhir-akhir ini, Presiden Amerika Serikat Joe Biden tengah menjadi sorotan lantaran keputusannya yang menyetujui Proyek Willow. Seperti yang kita ketahui, Proyek Willow adalah proyek pengeboran minyak terbesar di Alaska yang bernilai 8 miliar USD yang diinisiasi oleh ConocoPhillips. Pengeboran ini digadang-gadang menghasilkan hingga 180 ribu barel per hari atau 600 juta barel per tahun. Jumlah yang sangat fantastis bukan?

Para aktivis lingkungan seperti organisasi Natural Resources Defense Council (NRDC) sangat menentang adanya proyek ini, karena harga yang harus dibayar adalah kerusakan lingkungan dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan. Menurut NRDC, 30 tahun ke depan, pengeboran ini akan menghasilkan 278 juta ton gas rumah kaca atau setara dengan 2 juta mobil yang akan memperparah efek rumah kaca penyebab cepatnya perubahan iklim dunia. Selain itu, jutaan gas karbon dioksida yang dihasilkan akan memperparah polusi udara yang bisa berdampak pula terhadap kesehatan manusia. Belum lagi jika terjadi kebocoran penambangan dan ledakan akibat aktivitas tersebut. Habitat asli hewan-hewan di Alaska juga digadang-gadang akan musnah seperti beruang kutub, penguin, dan rusa kutub.

Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa Presiden Joe Biden menyetujui proyek yang sering disebut sebagai proyek penghancuran bumi ini? Dilansir dari Kumparan, hal tersebut didasari oleh dua faktor yakni melambungnya harga bahan bakar di AS dan masalah ketenagakerjaan baik SDM dan lapangan pekerjaannya. Pada tahun 2022, bahan bakar di AS meroket tinggi hingga menyentuh 5 USD per galon (1 galon setara dengan 4,5 liter) yang disebabkan oleh berkurangnya suplai impor minyak bumi dari negara-negara pemasok seperti Rusia dan OPEC. Lagi-lagi disebabkan oleh konflik Rusia-Ukraina. Sedangkan kebutuhan konsumsi akan gas meningkat karena mobilitas warga AS yang tinggi apalagi pada musim semi, sehingga mau tidak mau pemerintah AS menaikkan suku bunga pinjaman yang berefek pada terganggunya perekonomian di Amerika Serikat.

Selain itu, Covid-19 lalu menciptakan banyak sekali kebiasaan baru salah satunya adalah Work From Home (WFH) yaitu pekerjaan yang dapat dilakukan di rumah dan bersifat sangat fleksibel tidak seperti pekerjaan konvensional Work From Office (WFO). Hal ini ternyata menyebabkan pengunduran diri secara besar-besaran yang menyebabkan kekosongan pada beberapa sektor pekerjaan. Tak berhenti di situ, AS juga dihadapkan pada permasalahan jumlah pengangguran yang tinggi selama tiga tahun terakhir. Dengan adanya Proyek Willow ini diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Amerika Serikat.

Sorotan yang didapatkan Presiden Joe Biden adalah keputusannya yang dinilai kontradiktif dengan janji kampanyenya yang lalu. Berbeda dengan lawannya, Donald Trump, yang dinilai tidak memprioritaskan lingkungan dalam pengambilan keputusannya, Biden ketika masa kampanyenya pernah berkata bahwa pengeboran minyak adalah sebuah bencana dan tidak mengizinkan proyek penambangan gas serta memerangi perubahan iklim. Namun setelah terpilih, keputusannya tidak tanggung-tanggung bahkan mampu mempercepat bumi pada ambang kehancurannya. Hal tersebut sepertinya terjadi dimana-mana, bahwa jika sudah terpilih mereka lupa akan janji yang pernah diikrarkan pada masa kampanye. Protes sudah ramai dilaksanakan dari berbagai pihak seperti para aktivis lingkungan, masyarakat awam, maupun pendukung Joe Biden yang kecewa dengan keputusannya. Sebanyak 4.9 juta orang telah menandatangani petisi untuk menolak proyek ini pada laman change.org.

Dampak positif mungkin hanya akan dirasakan oleh warga Amerika Serikat, ekonomi yang membaik dan tersedianya lapangan pekerjaan. Namun, bagaimana dengan negara-negara lain? Tidak ada dampak positif, justru malah sama-sama menanggung rusaknya bumi. Kalau mereka punya uang, bisa jadi membangun negaranya kembali. Tapi bagaimana dengan negara yang tidak tahu menahu dan tidak memiliki apa-apa sedari awal? Hajat hidup orang banyak dipertaruhkan di sini, bukan hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga beberapa generasi ke depan. Keputusan besar seperti ini seharusnya mengindahkan dampak lingkungan ke depan, karena yang dipertaruhkan bukan hanya kepentingan dari satu negara, tetapi seluruh dunia. Jika bumi hancur, lantas buat apa uangmu?

Penulis : Sri Dwi Aprilia

Editor : Dimas Septo Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *