Sumber foto: https://instagram.com/thoriqul.haqSumber foto: https://instagram.com/thoriqul.haq

Gunung Semeru yang mengalami erupsi pada hari Sabtu 4 Desember 2021 lalu menjadi awal mula jatuhnya perekonomian warga wilayah Lumajang, khususnya daerah yang terdampak erupsi Semeru. Terhitung sudah setahun lebih kejadian tersebut terjadi, meski begitu beberapa waktu lalu gunung Semeru masih mengalami erupsi susulan tepatnya di hari dan tanggal yang sama seperti erupsi yang terjadi pada tahun 2021. Bencana yang sudah menghabiskan banyak nyawa dan bahkan harta benda tersebut tentunya membuat pemerintah dan masyarakat luar tidak tinggal diam. Kala itu, banyak donasi yang berdatangan mulai dari uang, sembako, dan kebutuhan warga lainnya semasa di pengungsian.

Pasca terjadinya bencana erupsi gunung Semeru pada 2021, pemerintah membangun lebih dari 2000 rumah hunian tetap dan hunian sementara bagi warga yang terdampak erupsi di desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Saat ini rumah-rumah tersebut sudah banyak dihuni oleh masing-masing warga yang sudah mendapatkan kunci rumah hunian tersebut. Pemerintah membangun bantuan berupa hunian agar warga yang terdampak tidak terus-menerus hidup di pengungsian dan dapat tetap menikmati kehidupannya. 

Namun, kehidupan warga yang tinggal di hunian tetap atau hunian sementara ini tidaklah berjalan mulus, buktinya masih banyak warga yang mengaku mengalami kegelisahan untuk menyambung hidupnya meski seringkali datang bantuan berupa bahan makanan pokok. Hal itu dirasa masih belum mencukupi seluruh kebutuhan warga. Hingga saat ini, para warga masih mengalami kesusahan ekonomi karena sulitnya mencari pekerjaan di tempat yang baru yakni hunian tetap dan hunian sementara itu.

Pekerjaan warga yang terdampak erupsi gunung Semeru sebelumnya kebanyakan adalah sebagai petani, pengrajin gula merah, dan penambang pasir. Akan tetapi semenjak terjadinya erupsi tersebut mereka kehilangan pekerjaannya. 

Mulyadi, salah satu warga yang sudah menempati hunian dan berhasil penulis wawancarai  mengatakan, “Kalo kita disini kebanyakan nganggurnya, dari atasan gak banyak nyediain pekerjaan buat kita. Eee…. gimana kita bisa mulihin ekonomi kalo terus begini. Pekerjaan kita kebanyakan masih ada di desa yang lama tapi itu pun gak mesti bisa kerja atau gak nya disana. Ya… meski kadang ada bantuan kayak sembako gitu, tapi kan kebutuhan kita gak cuma itu aja sebenarnya, disini listrik air cuma bulan pertama saja yang dibayarkan bulan-bulan selanjutnya ya bayar sendiri, mana listriknya 900 watt kalo gak kerja apa yang dibuat beli pulsanya listrik belum lagi buat beli bensin dan lain-lainnya,”

Lalu Paima, salah satu warga terdampak lainnya yang bekerja sebagai penjual rujak di rumah huniannya mengatakan, “Sebenarnya saya juga bingung mau kerja apa di sini. Mau jualan atau enggak, soalnya disini itu yang sudah jualan buanyak banget jadi pembeli tuh gak pasti, kadang ada kadang gak ada sama sekali. Untungnya juga dari rujak ini dikit, jadi ya untung-untungan lah. Apalagi hari raya sudah dekat perlu uang untuk itu, kalo gak kerja usaha gini meski untungnya sedikit ya gimana lagi.”

Kehidupan perekonomian warga disana hingga saat ini masih dibilang sangat rendah. Semakin lama mereka menganggur maka semakin menurun perekonomiannya. Hal itu akan berdampak pada keberlangsungan dan kesejahteraan hidup mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mengembalikan perekonomian warga seperti sedia kala memanglah perlu waktu yang cukup lama. Akan tetapi, banyak warga yang berharap agar pemerintah segera membuat lapangan pekerjaan yang cukup bagi warga di hunian yang baru sebagai bentuk upaya untuk membantu memulihkan perekonomian warga di hunian tetap tersebut.

Penulis : Diana Resti

Editor : Ghina Salsabila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *