Sederet band dari berbagai genre tampil meramaikan rangkaian acara menuju puncak International Women’s Day (IWD) 2026 Surabaya. Malam itu, Minggu (8/3), Cafe Pantry Surabaya dipenuhi distorsi emo-violence, alternative rock, hardcore, midwest skramz, hingga dream pop yang menggedor telinga sekaligus memacu adrenalin penonton. Melabuh Kelabuh, Lucy, Seeds, Encounter, dan Drizzly bergantian naik panggung—bukan sekadar menghibur, tetapi juga merawat solidaritas sekaligus menyuarakan isu kekerasan berbasis gender yang masih marak terjadi. Di belakang panggung, spanduk DIY bertuliskan “Fight Sexual Harassment” terbentang sebagai pengingat bahwa malam itu bukan hanya tentang musik, tapi juga sikap.

Melabuh Kelabu. Sumber Gambar: LPM Mercusuar
Ketika Melabuh Kelabuh naik ke panggung, suasana Cafe Pantry Surabaya yang semula riuh oleh obrolan perlahan berubah jadi lebih fokus. Distorsi gitar yang kasar langsung memotong udara ruangan, disusul tempo cepat khas emo-violence. Beberapa penonton di barisan depan mulai merapat ke panggung; sebagian ikut mengangguk mengikuti ritme, sementara yang lain larut dalam energi yang dilepaskan band ini sepanjang set mereka. Band emo-violence tersebut memainkan set yang padat dan intens, bahkan membuka penampilan dengan intro lagu “Kersed” milik band punk asal Amerika, Ceremony. Lagu tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Bagi Melabuh Kelabuh, karya band yang digawangi gitaris Anthony Anzaldo tersebut memiliki muatan politis yang kuat, terutama tentang perebutan ruang dan identitas.
Meski dikenal tidak banyak berbicara di atas panggung, Melabuh Kelabuh melihat panggung International Women’s Day sebagai ruang untuk menyampaikan posisi mereka. “Kami ingin kesadaran yang selama ini kami bangun di band tidak hanya jadi agenda internal yang tidak pernah diungkapkan. Kami sebenarnya cukup tertutup dan jarang membuat orasi ketika manggung. Dengan tampil di IWD, kami merasa punya ruang untuk menunjukkan bahwa kami mungkin tertutup, tapi bukan berarti apolitis,” ujar mereka.
Bagi Melabuh Kelabuh, musik memiliki posisi strategis dalam menyampaikan gagasan. Sebagai bagian dari budaya populer, musik dianggap mampu menjangkau banyak orang sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan hal-hal yang sulit diucapkan secara langsung. “Siapa yang tidak mendengar musik hari ini? Sepertinya semua orang butuh medium untuk mengutarakan sesuatu yang tidak bisa mereka ucapkan secara langsung, dan musik bisa jadi medium yang sangat baik untuk itu,” kata mereka.
Band kelahiran Surabaya ini juga menyatakan keterbukaannya untuk terlibat dalam kegiatan seni yang bersinggungan dengan gerakan sosial maupun advokasi. Bagi mereka, menjadi musisi tidak berarti harus berdiri jauh dari isu-isu yang diperjuangkan komunitas. “Kami tertarik untuk terlibat sebagai partisipator dalam kegiatan apa pun yang berhubungan dengan gerakan sosial atau advokasi. Sebagai seniman, kami tidak mau berjarak dengan mereka,” lanjutnya.
Soal posisi perempuan di skena musik independen, Melabuh Kelabuh menjawab dengan nada reflektif. Mereka menilai upaya menciptakan ruang yang benar-benar aman dan inklusif masih menjadi pekerjaan bersama di dalam scene. “PR-nya masih sangat banyak. Kami yang cis-hetero di scene masih cukup gagap untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan maupun kelompok rentan lainnya,” ungkap mereka. Pengalaman mereka yang dekat dengan skena musik keras—yang sejak awal dikenal maskulin—membuat refleksi itu terasa penting. Menurut mereka, di berbagai tempat perubahan menuju ruang yang lebih inklusif memang mulai terlihat. Namun di Indonesia, situasi tersebut masih menghadapi tantangan tersendiri karena kuatnya budaya patriarki di masyarakat. Mereka menilai dibutuhkan proses panjang dan pendidikan politik yang terus berlangsung di komunitas musik. Di sisi lain, mereka tetap percaya bahwa musik dapat menjadi salah satu kendaraan untuk membangun kesadaran politik, terutama di kalangan anak muda. “Kami rasa alat apa pun hari ini bisa menjadi kendaraan untuk kesadaran politik, apalagi musik,” kata mereka.
Penampilan di rangkaian peringatan IWD Surabaya ini juga menjadi pengalaman pertama bagi Melabuh Kelabuh. Mereka mengaku rangkaian acara tersebut membuka perspektif baru tentang keberagaman di skena lokal. Malam itu, mereka melihat banyak perempuan dan teman queer hadir dengan percaya diri, berbaur tanpa stigma di ruang yang sama. Bagi mereka, suasana seperti itu justru yang seharusnya menjadi wajah gigs—bukan hanya pada momentum IWD, tetapi juga di berbagai acara lainnya.

Lucy. Sumber Gambar: LPM Mercusuar
Setelah energi intens dari Melabuh Kelabuh perlahan mereda, panggung Cafe Pantry Surabaya tidak butuh waktu lama untuk kembali hidup. Lucy kemudian naik sebagai penampil kedua dalam rangkaian gigs menuju puncak IWD 2026 Surabaya malam itu.
Begitu mereka mulai memainkan set pertama, atmosfer ruangan kembali menghangat. Beberapa penonton yang sebelumnya menyimak dari kejauhan mulai merapat ke depan panggung, mengikuti alunan musik yang dibawakan band ini.
Dalam set mereka malam itu, Lucy sempat membawakan lagu yang mengangkat isu beauty standard serta kecenderungan masyarakat mengkotak-kotakkan manusia—termasuk perempuan—hingga mendorong praktik oversexualization terhadap diri sendiri. Tema tersebut mereka angkat sebagai refleksi atas tekanan sosial yang kerap dialami perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Lucy, keputusan mereka terlibat dalam rangkaian acara IWD bukan sekadar soal tampil di panggung. Mereka merasa materi dan lirik dalam lagu-lagu mereka memiliki semangat yang sejalan dengan nilai-nilai yang diangkat dalam peringatan IWD, seperti kesetaraan, inklusivitas, dan penolakan terhadap diskriminasi.
Bagi mereka, musik memiliki peran penting dalam ruang-ruang peringatan seperti ini. Mereka menilai bahwa di dalam skena musik sendiri masih banyak kelompok yang termarginalkan, mulai dari perempuan, komunitas queer, hingga penyandang disabilitas. Karena itu, musik dapat menjadi medium untuk membuka kesadaran pendengar terhadap persoalan tersebut. “Musik bisa menjadi blueprint yang meng-encourage pendengar untuk mengetahui dan menyadari pentingnya anti-diskriminasi, ruang aman, dan inklusivitas,” ujar mereka.
Lucy juga menilai bahwa kehadiran musik dalam rangkaian IWD sangat relevan karena musik telah menjadi bagian dari kultur sehari-hari masyarakat. Melalui panggung seperti ini, pesan tentang kesadaran terhadap ruang aman, inklusivitas, dan non-diskriminasi dapat menjangkau lebih banyak orang.
Namun ketika berbicara tentang kondisi ruang aman di skena musik, mereka menilai situasinya masih jauh dari ideal. Menurut pengamatan mereka, masih ada pelaku kekerasan seksual yang muncul di dalam scene. Selain itu, diskriminasi dan kekerasan berbasis gender juga masih terjadi, baik secara terbuka maupun secara tersembunyi.
Karena itu, menurut Lucy, penciptaan ruang aman menjadi hal yang penting. Banyak kelompok rentan—seperti perempuan, queer, dan penyandang disabilitas—yang sebenarnya ingin terlibat dalam skena musik. Tanpa ruang yang inklusif, kesempatan itu menjadi semakin terbatas.
Mereka juga percaya bahwa musik dapat menjadi alat untuk membangun kesadaran politik di kalangan anak muda. Salah satu contoh yang mereka sebut adalah karya-karya Kendrick Lamar yang kerap mengangkat isu sosial seperti seksisme dan rasisme sehingga pendengarnya ikut memahami realitas tersebut.
Syah, bassist Lucy, juga membagikan pandangannya tentang fenomena munculnya skena queercore di Amerika, Inggris, dan Irlandia—subkultur punk yang berakar dari komunitas queer. Ia berharap suatu saat skena serupa dapat berkembang di Indonesia, sebagaimana gerakan Riot Grrrl pernah tumbuh di berbagai skena punk internasional.
Sementara itu, Hilmy, gitaris Lucy, memaknai IWD sebagai pengingat bahwa ketidaksetaraan masih ada dalam realitas sosial. Menurutnya, momentum ini juga menjadi ruang untuk merangkul kelompok-kelompok yang selama ini termarginalkan, seperti perempuan, komunitas queer, dan penyandang disabilitas. Ia juga berharap mereka yang berada dalam posisi tersebut tidak kehilangan semangat untuk terus berkarya dan berekspresi.
Syah menambahkan bahwa upaya menciptakan ruang inklusif seharusnya tidak hanya terjadi di skena musik. Baginya, langkah serupa juga perlu hadir di berbagai ruang lain seperti sastra, akademik, maupun komunitas kreatif lainnya. Dalam pandangannya, perempuan, kelompok queer, dan penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan ruang aman dan inklusif di berbagai bidang.

Seeds. Sumber Gambar: LPM Mercusuar
Energi di ruangan belum benar-benar turun ketika Seeds naik sebagai penampil ketiga malam itu. Band hardcore ini langsung menghajar panggung dengan riff cepat dan vokal lantang. Tak butuh waktu lama hingga area depan panggung berubah menjadi lingkaran kecil moshing. Beberapa penonton berlari saling bersinggungan mengikuti tempo musik, sementara yang lain berdiri di pinggir pit sambil mengangguk mengikuti ritme yang padat.
Seeds mengaku keterlibatan mereka dalam gigs menuju puncak IWD ini tidak lepas dari pengalaman mereka sebelumnya tampil dalam sebuah acara solidaritas. Mereka menyinggung gigs charity untuk korban bencana di Sumatra bertajuk United Rage yang digelar pada Desember lalu. Bagi Seeds, sikap politik sebuah band dapat ditunjukkan melalui praktik solidaritas terhadap gerakan akar rumput.
Dalam pandangan mereka, musik memang tidak selalu memiliki tanggung jawab politik secara langsung. Vokalis Seeds, Huda, bahkan sempat mengutip pernyataan dari Ucok Homicide yang mengatakan bahwa musik tidak memiliki kewajiban politik. Meski begitu, menurut Seeds, musik tetap dapat menjadi medium yang menghubungkan berbagai gagasan dan gerakan sosial. Melalui musik, pesan dapat disampaikan sekaligus menjangkau berbagai kalangan pendengar.
Seeds juga menyadari bahwa skena hardcore secara historis dikenal cukup maskulin. Namun, mereka berusaha membawa semangat berbeda dengan mendorong agar skena tersebut dapat berkembang menjadi ruang yang lebih inklusif dan aman bagi siapa pun.
Menurut mereka, upaya tersebut tidak hanya dilakukan ketika berada di atas panggung. Seeds kerap mengingatkan pentingnya ruang aman melalui pesan yang mereka sampaikan saat tampil, termasuk melalui visual maupun pernyataan yang mereka bawa dalam penampilan. Di luar panggung, mereka juga terus menggaungkan pentingnya ruang aman dalam interaksi sehari-hari di dalam scene.
Faiz, salah satu gitaris Seeds, berharap skena musik bawah tanah ke depan dapat menjadi ruang yang benar-benar terbuka bagi semua orang. Menurutnya, musik seharusnya dapat diciptakan maupun dinikmati oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang maupun identitas gender.

Encounter. Sumber Gambar: LPM Mercusuar
Setelah energi moshing dari Seeds perlahan mereda, panggung kemudian diambil alih oleh Encounter. Band ini digawangi oleh vokalis Bening, yang menurut bassist mereka, Dofy, menjadi salah satu alasan mengapa Encounter merasa penting terlibat dalam rangkaian acara menuju puncak IWD.
Menurut Dofy, keterlibatan mereka juga berangkat dari kesadaran bahwa di dalam skena musik masih terdapat kasus diskriminasi berbasis gender terhadap perempuan maupun kelompok rentan lainnya. Oleh karena itu, bagi Encounter, kehadiran mereka di panggung malam itu juga menjadi penegasan bahwa scene musik dapat menjadi ruang yang dibangun oleh dan untuk beragam identitas gender.
Ia juga melihat dalam beberapa waktu terakhir kesadaran mengenai ruang aman mulai meningkat. Menurutnya, kampanye mengenai ruang aman yang banyak beredar di media sosial dapat menjadi langkah awal yang baik untuk mendorong terciptanya ruang yang lebih aman, baik di dalam skena musik maupun di ruang-ruang sosial lainnya.
Bagi Encounter, momentum IWD dimaknai sebagai pengingat akan pentingnya menjaga komitmen terhadap ruang yang inklusif dan bebas dari diskriminasi. Dofy menilai pertemuan antara diskusi dan musik dalam rangkaian acara IWD seperti malam itu menjadi sesuatu yang penting.
Di luar panggung, Encounter juga tengah mempersiapkan album terbaru mereka. Dofy menyebut proses tersebut sebagai upaya “memeras emosi” yang selama ini mereka rasakan. Ke depan, mereka juga berencana merangkum berbagai keresahan terhadap bentuk-bentuk diskriminasi untuk kemudian dituangkan dalam materi album tersebut.
Encounter juga menyampaikan ketertarikan untuk terlibat dalam lebih banyak gigs solidaritas. Bagi mereka, keterlibatan dalam acara semacam itu merupakan bentuk dukungan terhadap berbagai kolektif yang memperjuangkan isu-isu sosial dan politik di tingkat akar rumput.

Drizzly. Sumber Gambar: LPM Mercusuar
Menjelang akhir malam, giliran Drizzly naik ke panggung sebagai penampil penutup dalam rangkaian gigs menuju puncak IWD. Kerumunan yang sejak awal larut dalam dentuman musik kembali merapat ke depan panggung, menunggu set terakhir yang menandai berakhirnya rangkaian penampilan malam itu. Dalam beberapa momen, suasana di depan panggung kembali memanas ketika sejumlah penonton—termasuk kawan-kawan perempuan—melakukan crowd surf dan stage diving, menutup malam dengan energi yang tetap terasa hidup.
Manda dan Moza dari Drizzly menjelaskan bahwa sebenarnya mereka sudah lama ingin terlibat dalam peringatan International Women’s Day. Namun, konsep perayaan IWD yang dipadukan dengan gigs musik baru benar-benar terlaksana tahun ini. Oleh karena itu, mereka merasa kesempatan tersebut menjadi ruang yang tepat untuk turut ambil bagian.
Menurut mereka, musik dalam momentum seperti IWD dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan-pesan yang sejalan dengan nilai kesetaraan dan inklusivitas. Musik memiliki kemampuan menjangkau banyak orang sekaligus membawa pesan yang mungkin tidak selalu mudah disampaikan melalui cara lain.
Drizzly juga melihat skena musik independen saat ini perlahan bergerak ke arah yang lebih inklusif. Moza menilai semakin banyak band perempuan yang bermunculan dan ikut meramaikan scene. Menurutnya, hal tersebut menjadi tanda bahwa ruang di skena musik semakin terbuka.
Bagi Drizzly sendiri, salah satu visi yang ingin mereka dorong adalah menginspirasi serta mendorong perempuan untuk tidak ragu berkarya. Mereka berharap semakin banyak perempuan yang berani tampil dan meramaikan skena musik.
Selain itu, keberadaan media sosial juga dinilai membantu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya ruang aman. Menurut mereka, kampanye mengenai ruang aman yang banyak beredar di media sosial dapat menjadi salah satu cara untuk meminimalkan diskriminasi berbasis gender di berbagai ruang, termasuk di dalam skena musik.
Moza juga menambahkan bahwa musik dapat menjadi medium untuk menyuarakan isu sosial sekaligus membangun kesadaran di kalangan anak muda. Pesan-pesan tersebut bisa disampaikan melalui berbagai cara, mulai dari visual seperti poster hingga pernyataan yang disampaikan secara langsung saat penampilan di panggung.
Bagi Manda dan Moza, IWD dimaknai sebagai perayaan atas kesetaraan yang kini semakin terasa dibandingkan masa lalu. Momentum tersebut juga menjadi pengingat bagi mereka untuk terus berkarya dan menambah nilai dalam setiap karya yang mereka buat.
Mereka juga menolak stigma yang kerap dilekatkan pada band perempuan, seperti anggapan bahwa mereka hanya “menjual tampang”. Bagi Drizzly, yang ingin mereka tawarkan adalah karya yang dapat dinikmati dan dihargai secara musikal.
Menutup percakapan, mereka menyampaikan pesan kepada para perempuan yang hadir malam itu. Menurut mereka, menjadi perempuan bukanlah hal yang mudah, tetapi perempuan telah melakukan banyak hal luar biasa. Oleh karena itu, mereka menegaskan satu hal: perempuan tidak sendirian.
Rangkaian penampilan malam itu menunjukkan bahwa gigs menuju puncak International Women’s Day bukan sekadar agenda hiburan di dalam skena musik independen. Dari distorsi emo-violence, hardcore yang memantik moshing, hingga penutup yang diwarnai crowd surf dan stage diving, musik menjadi medium yang mempertemukan energi kolektif sekaligus pesan yang dibawa oleh peringatan IWD. Di sela dentuman gitar dan teriakan vokal, isu tentang ruang aman, inklusivitas, serta penolakan terhadap diskriminasi terus disuarakan oleh para musisi maupun penonton yang hadir. Pada akhirnya, malam itu memperlihatkan bahwa di dalam scene musik bawah tanah, musik tidak hanya berhenti sebagai bunyi, tetapi juga menjadi ruang pertemuan bagi solidaritas, kesadaran politik, dan harapan untuk bersama-sama merawat ruang yang lebih setara.
Penulis: Aryak
Editor: Novi