Sumber Gambar : LPM Mercusuar

“Cats Against Catcalls”, “Destroy Patriarchy, Capitalism, and State”, “Tubuh Perempuan Bukan Komoditas”, hingga “Alerta-Alerta Antifascista” menjadi beberapa isi poster yang dibentangkan puluhan massa dalam puncak peringatan International Women’s Day (IWD) 2026 di Surabaya, Selasa (9/3). Aksi yang mengusung seruan “Ayo, Rek! Saling Jogo, Saling Kuatno!” tersebut digelar dalam konsep long march, dengan berjalan dari Jalan Basuki Rahmat hingga berhenti dan melakukan demonstrasi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Aksi yang diinisiasi oleh berbagai elemen masyarakat sipil—mulai dari pekerja, komunitas ragam gender, lembaga swadaya masyarakat, seniman, hingga mahasiswa—ini membawa 23 tuntutan yang dapat diakses melalui https://bit.ly/SIARANPERSIWDSBY2026

Di depan gedung Grahadi, massa aksi berorasi silih berganti. Mereka menyuarakan berbagai bentuk diskriminasi, utamanya diskriminasi berbasis gender. Tak hanya itu, persoalan penindasan dalam aspek sosial, politik, ekologi, dan ekonomi juga turut disuarakan. Eka Hernawati, salah seorang buruh perempuan, menyoroti pengebirian hak pekerja perempuan, seperti upah yang tidak layak, hak cuti haid, hamil, dan melahirkan, serta pelecehan seksual di tempat kerja. Ia menilai negara mengabaikan regulasi perlindungan pekerja perempuan yang justru dibuat oleh negara itu sendiri. “Kasus kekerasan terhadap pekerja perempuan kerap terjadi di dalam korporasi, namun hal tersebut sering kali hanya berakhir dengan permohonan maaf kepada korban. Ini menunjukkan pengabaian hak terhadap pekerja perempuan yang dilakukan oleh negara dan korporasi,” ujar Eka. Eka juga membagikan pengalamannya saat melakukan advokasi kasus kekerasan seksual terhadap pekerja perempuan di Jepara.

Fitria, salah seorang anggota Persatuan Waria Kota Surabaya (PERWAKOS) turut melantangkan semangat keadilan serta seruan melawan diskriminasi terhadap transpuan dan kelompok queer lainnya. Ia menilai masih terdapat berbagai bentuk ketidakadilan dalam mengekspresikan gender dalam kehidupan sosial, termasuk dalam akses pekerjaan dan ruang privat. “Kami sulit mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan negara sering kali hadir di ruang-ruang pribadi kami dalam bentuk penggerebekan dengan berbagai dalih,” ujar Fitria. Ia juga menambahkan bahwa gerakan anti-boti yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial semakin membuat kelompok transpuan rentan mengalami diskriminasi. Menurutnya, fenomena tersebut tidak terlepas dari sikap queerphobia di masyarakat. “Adanya queerphobia menunjukkan bahwa patriarki masih bekerja,” pungkas Fitria. Ia pun menyerukan kepada komunitas ragam gender agar tidak takut mengekspresikan diri demi terwujudnya ruang aman.

Dalam waktu yang bersamaan dengan gelaran puncak IWD 2026 Surabaya, juga berlangsung aksi tenda yang dilakukan oleh serikat buruh yang tidak menerima tunjangan hari raya (THR) dari tempat mereka bekerja. Namun, karena hujan deras, rangkaian aksi IWD dihentikan lebih cepat dari rencana semula. Meski demikian, pembacaan puisi dan penampilan teater jalanan dari Teater Institut Universitas Negeri Surabaya turut mewarnai jalannya aksi.

Penulis: Chickita, Aryak

Reporter: Ema, Elsa, Ikhsan

Editor: Hana F., Li

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *