Sumber Gambar: rei.or.id/newrei

Di tengah dinamika perubahan preferensi tempat tinggal, kaum milenial dan  Gen Z semakin mantap untuk meninggalkan kehidupan kota besar dan mulai menjamah kota-kota kecil yang menawarkan ‘small town vibes’. Fenomena ini memberikan dorongan bagi tempat tinggal yang lebih tenang dan lekat dengan alam.  

Generasi milenial yang sedang meniti karier, memulai hidup dengan pasangan,  hingga keluarga muda, memiliki selera tersendiri untuk memilih tempat tinggal. Survei Indonesia Property Watch (IPW) menyebutkan, sekitar 47,4% generasi milenial memilih tinggal di kos-kosan, 47,1% berkeinginan tinggal di apartemen, dan sisanya memilih tinggal di kediaman keluarga atau saudara. Motivasi utama mereka adalah menghindari tekanan finansial, kepadatan lalu lintas, dan polusi udara yang harus dihadapi di kota besar.

Selain faktor  kualitas hidup, perkembangan teknologi juga memainkan peran penting bagi milenial dan Gen Z untuk dapat bekerja dari  mana saja. Sistem kerja jarak jauh dan konektivitas internet telah mendukung milenial untuk  mempertimbangkan tempat tinggal tanpa harus mengorbankan  karir mereka di kota besar. Fenomena ini telah memicu pertumbuhan ekonomi di banyak kota kecil di seluruh dunia. Alih-alih melihat tren ini sebagai ancaman, banyak kota kecil memandangnya sebagai peluang untuk meremajakan dan memperkaya komunitas. 

Sejumlah kota menawarkan insentif seperti pemotongan pajak guna menarik lebih banyak  pendatang, termasuk pekerja lepas dan profesional muda. Banyak dari kota kecil yang awalnya menghadapi kelesuan ekonomi,  saat ini mengalami pertumbuhan dalam sektor perumahan, perdagangan lokal, dan  pariwisata. Kota-kota kecil semakin dilirik karena keunikan budaya dan kondisi lingkungan yang ditawarkan. Berbagai festival dan acara komunitas menarik para pendatang serta memberi kesempatan bagi warga lokal untuk berpartisipasi dalam peremajaan budaya mereka sendiri.  

Sejalan dengan naiknya tren ini, ada tantangan yang perlu dihadapi berkaitan dengan pertumbuhan populasi dan kebutuhan akan infrastruktur yang lebih memadai. Fenomena ini juga membawa dampak terhadap harga properti di kota-kota kecil. Meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan properti menyebabkan naiknya harga real  estate sehingga menyulitkan penduduk lokal untuk  mengakses sarana keuangan. Namun, pemerintah daerah di berbagai kota telah berupaya mengatasi persoalan ini dengan mengembangkan rencana pembangunan berkelanjutan. 

Jika kota besar menawarkan kehidupan yang dinamis dan heterogen, kota kecil juga memiliki daya tarik tersendiri berkaitan dengan kualitas lingkungan dan kehidupan sosial kemasyarakatan yang baik.  Singkatnya, tren ini  mencerminkan perubahan  nilai-nilai dan prioritas  generasi muda. Saat ini, milenial dan Gen Z  lebih memprioritaskan hidup yang berkualitas serta koneksi dengan alam dan komunitas dibandingkan dengan hiruk pikuk kota besar. Bagi  banyak orang, small town vibes adalah pilihan yang tepat. Semakin banyak milenial dan Gen Z yang memilih untuk tinggal di kota kecil, small town vibes kemungkinan akan semakin populer tahun-tahun mendatang. 

Penulis: Muhammad Umar Said (Staf Magang)

Editor: Arizqa Novi Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *