Sumber gambar : MediaPijar.com
Karakter gen Z atau generasi Z dikenal, lebih beragam, bersifat global, dan tidak ketinggalan bahwa gen z adalah pengguna teknologi tingkat mahir. Namun, perlu dipahami seiringnya perkembangan era digital mengakibatkan gen Z mudah menyerap informasi yang tidak relevan sehingga cenderung mudah mengalami perasaan cemas jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Dengan begitu, gen Z perlu mengenal arti filosofi stoikisme melalui buku Filosofi Teras yang menjadi bekal agar bersikap lebih tenang.
“Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita tercabik antara hal-hal masa kini dan hal-hal yang baru terjadi. Pikirlah apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai kesusahan masa depan. Karena sering kali kita lebih disusahkan kekhawatiran kita sendiri.” – Seneca
Ada banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari buku ini, salah satunya bagaimana kita mengendalikan emosi diri saat suatu masalah datang. Buku ini meihat bagaimana kerap kali kita dipertemukan dan merasa tidak familiar dengan ajaran stoikisme. Secara tidak sadar, di kehidupan sehari-hari kita bersinggungan dengan stoikisme yang telah diterapkan sejak 2300 tahun yang lalu oleh filsuf Yunani. Stoikisme menginstruksikan untuk lebih menggunakan nalar daripada emosi. Dalam menghadapi emosi negatif perlu ditanamkan bahwa saat pengambilan keputusan, tidak disarankan untuk tergesa-gesa menilai apalagi bertindak tanpa analisis. Sejalan dengan ciri khas gen Z ketika mendapatkan informasi dari sosial media dan tidak sesuai dengan ekspektasi yang dituntut, terkadang menimbulkan cemas bahkan hadir perasaan takut salah. Stoikisme inilah yang memandu agar kita tidak membesar-besarkan suatu masalah dan membuat masalah semakin runyam dengan respon kita terhadap masalah tersebut.
Dalam buku Filosofi Teras juga menekankan untuk memfokuskan diri pada hal-hal yang dapat dikendalikan dan tidak menggantungkan harapan pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sebab menggantungkan pada hal-hal tersebut hanyalah menimbulkan perasaan kecewa dan ketidakpastian. Umumnya, masalah anak muda selalu berkaitan dengan teman dekat, pasangan, atau hubungan dengan kolega di pekerjaan. Namun lewat ilmu kedokteran jiwa, masalah-masalah tersebut bukan berasal dari teman, pekerjaan, atau lingkungannya, tetapi individu itu sendiri lah yang selalu mengharapkan ekspektasi lebih terhadap orang-orang tersebut. Sebab masalah datang bukan dari faktor luar, melainkan persepsi kita sendiri.
Tidak hanya itu, buku Filosofi Teras mengarahkan kita untuk terbiasa dengan berkata jujur. Bukan hanya karena perbuatan yang digolongkan sebagai sebuah dosa, tetapi seseorang akan sangat dirugikan jika mengatakan kebohongan, dengan hilangnya kedamaian dan kebahagiaan yang sangat bertentangan dengan prinsip buku ini. Serupa dengan menjaga lisan, buku ini juga mengajarkan untuk diam meskipun kita merasa terhina. Bukan berarti bahwa kita mengalah, tetapi sesuai dengan kutipan pada buku ini bahwa “sesungguhnya balas dendam terbaik adalah dengan tidak berubah menjadi seperti sang pelaku”. Sebaiknya kita menjeda atau berpikir sebagaimana tindakan apa yang harus diambil ketika kita berada di situasi saat itu.
Oleh karena itu, pada setiap bab Filosofi Teras terdapat banyak sekali pelajaran yang diambil, salah satunya yaitu menjalani kehidupan yang selaras dengan alam. Di mana kehidupan berjalan sesuai kehendak pencipta-Nya yang berarti mengandalkan nalar agar tidak terbawa arus yang menyimpang. Apalagi era informasi digital menjadikan kita banyak menggunakan media sosial sebagai wadah personal branding yang menjadi konsumsi publik. Ketika sudah seperti itu, tentu tidak hanya pujian yang kita terima, cacian juga tidak jarang akan menghampiri kita. Berdasarkan buku ini, ketika kita menemukan ujaran kebencian, kita harus belajar untuk tidak lagi terbawa emosi dan tidak baperan. Satu hal yang harus diingat, jangan terlalu mengkhawatirkan hal yang belum terjadi kedepannya, biarkan berjalan bagaimana semestinya, semesta digariskan sesuai usaha. Oleh karena itu, be the best and let God do the rest.
Penulis : Myesha Fatina Rachman
Editor : Ina Shofiyana