Sumber Gambar: Freepik.com

“Gak ada yang bisa kita andalkan di dunia ini selain diri kita sendiri”

Sebenarnya kalimat itu tidak salah. Namun, akan menjadi bahaya jika kita telan mentah-mentah. Terlalu mandiri adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh kejadian yang tidak biasa pada individu sampai akhirnya kemandirian dimiliki oleh seseorang secara berlebihan. Orang yang terlalu mandiri cenderung sulit percaya dengan orang lain yang membantu dia atau justru tidak percaya pada dirinya sendiri, dimana apabila ia dibantu, itu akan membuatnya menjadi tak percaya diri.

Saat merasa tidak aman, diri kita akan melakukan sebuah perlawanan dan perlawanan itu berbeda-beda. Bagi seseorang yang memiliki hyper independent, mungkin saat masa kanak-kanak ia mengalami kondisi yang membuatnya merasa tidak percaya diri apabila dibantu oleh orang lain sehingga berujung pada penolakan bantuan. Misalnya, seseorang yang dari kecil tidak pernah mendapat afeksi dan apresiasi akan cenderung merasa bisa berdiri di atas kaki sendiri dan tidak memerlukan dukungan karena merasa dirinya tidak berhak untuk mendapatkan support. Perasaan-perasaan seperti ini akan mempengaruhi harga diri mereka, yang artinya akan merasa berharga jika tidak dibantu orang lain sama sekali.

Perasaan semacam ini mendapat respon dari dua bagian di dalam otak, yakni amigdala yang bertugas merespon berbagai reaksi emosional dengan memberi sinyal kepada hipotalamus untuk dikirimkan kepada seluruh syaraf dalam tubuh kita kemudian hal ini memberi komando berupa reaksi kondisi emosional. Rangkaian peristiwa di masa kanak-kanak yang menyebabkan kondisi ini kemudian terakumulasi dan membentuk sebuah pola kepribadian, yang mana pribadi menjadi trauma ketika mendapat bantuan dan merasa tidak memiliki pengakuan yang utuh. 

Lulusan terbaik Psikologi UGM Analisa Widyaningrum, dalam kanal YouTube-nya menyampaikan bahwa terkadang kita bisa menjadi orang yang tidak sadar bahwa kita terlalu suka mengerjakan pekerjaan kita. Menurutnya, orang seperti ini biasanya memiliki need of achievement yang sangat tinggi dan berlebihan. Maka, pada kondisi dimana ia tidak bisa melakukan sesuatu yang biasa dikerjakan sendiri, ia akan cenderung merasa gagal. Hal ini akan merambah pada konsekuensi time management yang berantakan, kekurangan waktu istirahat, hingga dimungkinkan akan menimbulkan suatu luka tanpa ia sadari. Lebih jauh, kondisi ini juga berdampak pada kondisi pribadi maupun sosial individu sebagai berikut:

  1. Kelelahan psikologis dan sulit bersosialisasi dengan lingkungan.

Hyper independent dapat menjadi kondisi yang sangat mengganggu seseorang karena memungkinkan seseorang mengalami kelelahan secara psikologis dan sulit bersosialisasi dengan lingkungannya. Bagaimana tidak? orang dengan hyper independent akan menolak ketika ditawari bantuan dan ketika ia mendapat bantuan, dirinya justru merasa tidak berdaya.

  1. Perasaan tidak pantas untuk mendapat dukungan.

Ketika seseorang memiliki trauma yang berkaitan dengan penolakan, di kemudian hari orang tersebut akan cenderung merasa tidak pantas meminta maupun menerima dukungan. Misalnya, ketika seseorang meminta tolong lalu mendapati penolakan, yang terjadi kemudian adalah reaksi pada otak. Amigdala memberi sinyal pada hipotalamus lalu sederhananya seperti ini: “Oh, permintaan tolong ini ditolak, jadi besok tidak perlu minta tolong lagi.” Sugesti ini tertanam pada otak kita sehingga respon yang muncul di kemudian hari adalah menolak bantuan orang lain.

  1. Tidak pernah merasa puas terhadap diri sendiri. 

Masih dalam konten YouTube Analisa yang membahas hyper independent, dirinya juga menerangkan tentang kecenderungan seseorang yang terlalu mandiri dengan perasaan tidak pernah puas terhadap diri sendiri. Orang-orang dengan hyper independent akan selalu menganggap apapun pencapaian mereka, hal itu tidak akan pernah membuat mereka puas.

  1. Tidak dapat membangun relasi sosial

Kemandirian yang berlebihan juga menyebabkan seseorang kesulitan dalam membangun relasi sosial. Padahal, idealnya manusia memerlukan teman, pasangan, dan tentu saja relasi sosial dengan orang-orang di lingkungannya. Maka, tuntutan untuk menjadi sempurna terhadap diri sendiri jika berlebihan akan sangat melelahkan secara psikologis dan hal ini berdampak pada sulitnya memenuhi kebutuhan sebagai makhluk sosial.

Oleh karenanya, penting bagi kita untuk bisa merangkul kembali diri sendiri secara utuh. Berdamai dengan kejadian di masa lampau dan menyelesaikan trauma secara perlahan agar tidak terus-menerus menyiksa diri yang lambat laun membuat kita tidak nyaman. Sebagai makhluk sosial kita pasti memerlukan orang lain, setidaknya untuk bercerita, didengar, dan diberi dukungan.

Penulis: Sharisya Kusuma Rahmanda

Editor: Arizqa Novi Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *