Sebagai mahasiswa UNAIR, kita diberikan beberapa fasilitas yang dapat menunjang kegiatan perkuliahan. Fasilitas-fasilitas ini tentu harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebab kita membayar UKT untuk itu. Namun, pada realitanya tak semua fasilitas ini dapat sepenuhnya membantu. Ada pula yang justru menjadi buah bibir akibat realita tak sesuai harapan. Salah satunya bus yang menjadi kebanggaan mahasiswa Universitas Airlangga. Unair di Surabaya memiliki 3 kampus yang berbeda tempat. Tentu untuk menghubungkan ketiganya, perlu kendaraan yang dapat menampung warga UNAIR untuk memudahkan mobilisasi, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan di perantauan.
Berikut beberapa fakta dari bus UNAIR yang harus kamu ketahui.
- Desak-desakan
Banyaknya mahasiswa yang menggunakan fasilitas ini tidak diimbangi dengan jumlah bus yang banyak pula. Terutama saat perkuliahan PDB. Dari arah kampus B ke kampus C atau sebaliknya, seringkali sopir memaksakan mahasiswa untuk segera masuk saja. Entah mengejar waktu atau apa, tetapi hal ini seringkali membuatnya menjadi over-capacity. mahasiswa banyak yang berdiri di lorong bus dengan menggantungkan keseimbangan mereka pada bagasi atas tempat duduk. Tentu hal ini dapat membahayakan semua penumpang, tak terkecuali sopirnya sendiri. Risiko hilang keseimbangan yang berbuah jatuh atau dijatuhi berpotensi untuk terjadi.
- Jedag-jedug viral
Ada salah seorang sopir, yang banyak mendapat review positif dari mahasiswa berkat sifatnya yang ramah dan selalu ceria. Beliau sering mendengungkan musik DJ tak terkecuali yang sedang viral saat itu. Beliau juga sering menerima request dari mahasiswa yang sedang menaiki bus. Dengan speaker bervolume tinggi dan musik-musik yang asik, beliau sukses mengubah suasana dan perasaan mahasiswa yang capek pasca kelas menjadi full senyum.
- Ugal-ugalan
Selain ada sopir yang sangat ramah dengan mahasiswa, ada pula sopir yang bisa dibilang problematik akibat cara beliau mengemudi. Dari penuturan salah satu penumpang, Ia pernah mengalami momen tak terlupakan akibat sikap ugal-ugalan dari sang sopir. Waktu itu bus mengangkut penumpang yang desak-desakan dari kampus B menuju kampus C. Dari arah barat perempatan kampus C ke timur, menuju arah Rumah Sakit Universitas Airlangga. Bus melaju kencang mengejar lampu yang menyala hijau. Namun, begitu mendekati lampu lalu lintas, lampu sudah tak kuning lagi, melainkan merah. Alhasil, sopir terpaksa rem mendadak dengan kondisi sedemikian rupa (seperti disebutkan pada nomor satu) yang menyebabkan banyak penumpang terjungkal atau mahasiswa sering menyebutnya ‘logor’.
- Kadang terlalu dingin, kadang panas dan pengap
Seringkali ketika bus stand by di depan gedung pasca sarjana (kampus B) untuk menunggu penumpang penuh, sopir justru nongkrong jauh dari pantauan dengan parkir bus. Sehingga beliau tidak tahu bahwa bus yang ia kemudi sudah penuh dengan kondisi mesin mati. Tak ayal di dalam bus rasanya sangat sumpek, panas, dan pengap. ditambah lagi kondisi desak-desakan dan cuaca Surabaya yang panas. Tentu hal ini membuat penumpang resah dan gelisah. Tak sedikit yang akhirnya merasa enggan untuk menunggu sang sopir. Namun, tatkala mesin dinyalakan, AC begitu dingin hingga perubahan suhu yang drastis terjadi di dalam bus.
Itulah serangkaian plus minus dari adanya fasilitas bus yang menjadi kebanggaan UNAIR. Sebagai mahasiswa, kita bisa memantau yang terjadi sebagai bentuk pengembangan kualitas dari sekian banyaknya fasilitas yang ditawarkan UNAIR kepada seluruh warganya.
Penulis: Cahya Surya Laksana Gunawan
Editor: Rumaisya Milhan