Pertengahan 2010, membutuhkan usaha lebih untuk mendapatkan lagu yang populer kala itu. Katakanlah, ‘Baby’ milik Justin Bieber atau lagu Sheila On 7 yang kerap diputar melalui saluran radio.  Dulu,  dalam mendapatkan sebuah lagu saja harus berjalan di bawah terik matahari dengan membawa kabel USB menuju salah satu rumah teman yang agaknya telah memiliki lagu itu – atau pilihan terakhir dengan mengunduh di warung internet terdekat.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan keadaan dewasa ini. Mengakses musik merupakan hal biasa yang dapat dilakukan melalui berbagai platform digital. Bahkan, proses jual-beli yang dulu harus dilakukan di pasar konvensional telah tersaingi oleh keberadaan e-commerce yang menawarkan beragam kemudahan. Berbagai perubahan tersebut tentu  tidak terlepas dari proses perkembangan teknologi. 

Kemunculan inovasi teknologi dengan berbagai jenisnya tidak jarang membawa perbedaan pendapat di masyarakat. Sebut saja, jika dulu sempat dihebohkan dengan pro-kontra sinar radiasi telepon berlayar sentuh,  kini bukan hal aneh jika kita kembali dibuat bertanya-tanya oleh kehadiran teknologi baru Artificial Intelligence (AI).

AI merupakan sebuah kecerdasan buatan yang tercipta berkat inovasi teknologi. Kecerdasan buatan sengaja diprogram dan dikendalikan oleh komputer untuk membantu dan mempermudah manusia dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Sebut saja mesin pencari seperti Google, media sosial, gim-gim daring, hingga kendaraan otonom sekalipun yang dulunya mesti membutuhkan orang dibalik kemudi, kini mulai terotomatisasi berkat keberadaan AI. 

Perbincangan mengenai AI yang digadang-gadang dapat menggantikan pekerjaan manusia, hingga membuat tatanan dunia baru layaknya film Terminator telah cukup lama menjadi topik hangat masyarakat. Bahkan, media sekelas BBC, The New York Times, hingga media internasional lainnya juga kerap menyuguhkan artikel dengan topik AI yang mampu melakukan otomatisasi pekerjaan. Buntutnya, AI diperkirakan dapat menggantikan sekitar 300 juta pekerjaan  di Amerika Serikat maupun Eropa, menyisakan otomatisasi dalam pekerjaan-pekerjaan tersebut. 

Bak anak kucing yang sedang menyusu induknya, AI menjadi sebuah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Lantas apakah peran AI yang saat ini terbukti mempermudah pekerjaan sehari-hari dapat menggantikan pekerjaan manusia di masa yang akan datang?

Berdasarkan BBC,  meskipun AI memiliki kecenderungan untuk menggantikan pekerjaan manusia di kemudian hari, namun terdapat sejumlah kategorisasi beberapa pekerjaan yang kemungkinan besar tidak dapat tergantikan oleh kehadiran AI sekalipun.

Hal itu diungkapkan Martin Ford, penulis buku Rule of the Robots: How Artificial Intelligence Will Transform Anything yang mengatakan “Fenomena otomatisasi oleh AI tidak hanya membawa dampak pada masing-masing individu yang akan kehilangan pekerjaan mereka, namun juga dapat berdampak pada seluruh sektor perekonomian yang ada”. Ford menambahkan, “meskipun begitu  terdapat kategorisasi sektor pekerjaan yang tidak dapat tergantikan oleh AI”.

“Saya pikir, umumnya terdapat tiga kategori (pekerjaan) yang akan relatif terisolasi di masa mendatang,” terang Ford, seperti apa yang ia sampaikan pada BBC

“Yang pertama adalah pekerjaan yang benar-benar kreatif. Anda tidak melakukan pekerjaan formula atau hanya mengatur ulang, tetapi Anda benar-benar menghasilkan ide-ide baru dan membangun sesuatu yang baru.” sambungnya. 

Kategori pekerjaan kedua meliputi pekerjaan yang membutuhkan hubungan interpersonal yang canggih. Ia kemudian menunjuk sejumlah pekerjaan seperti perawat, konsultan bisnis, hingga jurnalis investigasi yang menurutnya — pekerjaan-pekerjaan tersebut memerlukan pemahaman yang sangat mendalam mengenai hubungan antar manusia. 

“Saya pikir akan butuh waktu lama sebelum AI memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan cara yang benar-benar membangun hubungan” ujar Ford. 

Sedangkan kategori ketiga, ialah pekerjaan yang benar-benar membutuhkan banyak mobilitas, ketangkasan, serta kemampuan dalam memecahkan masalah di lingkungan yang tidak dapat diprediksi. Pekerjaan-pekerjaan yang Ford maksud meliputi sektor perdagangan, tukang listrik, tukang ledeng, tukang las, dan sejenisnya. 

“Mereka mungkin yang paling sulit untuk diotomatisasi. Untuk mengotomatiskan pekerjaan seperti ini, Anda memerlukan robot fiksi ilmiah. Anda membutuhkan C-3PO dari Star Wars.” pungkasnya. 

Joanne Song McLaughlin, Profesor ekonomi di University of Buffalo, juga sempat memberikan pendapatnya mengenai hal ini. Akademisi tersebut menyatakan “Sebagian besar pekerjaan tanpa memandang bulu mengenai apapun bidang industrinya, memiliki sejumlah aspek yang cenderung dapat terotomatisasi oleh teknologi, tak terkecuali oleh AI”. “Dalam banyak kasus, tidak ada ancaman langsung terhadap pekerjaan, tetapi tugas akan berubah.” terang Professor itu. 

“Sangat mudah untuk membayangkan bahwa misalnya, AI akan mendeteksi kanker jauh lebih baik daripada manusia. Di masa depan, saya berasumsi dokter akan menggunakan teknologi baru itu. Tapi saya rasa seluruh peran dokter tidak akan tergantikan.” lanjutnya. 

Melalui apa yang dikatakan oleh Joanne, ia menyimpulkan peran yang dibawa oleh AI dalam kehidupan manusia seperti apa yang terjadi pada saat ini, memang ditujukan untuk mempermudah pekerjaan yang dimiliki oleh masyarakat. Meskipun katakanlah AI dapat mempermudah Dokter dalam menemukan penyakit, masyarakat masih memerlukan sosok nyata dalam memberi tahu mereka tentang semua hal yang berkaitan dengan penyakit tersebut.

“Tugas menghitung uang menjadi usang karena adanya mesin. Tetapi sekarang, menghitung uang yang biasanya menjadi tugas seorang Teller itu membuatnya lebih fokus untuk berhubungan dengan nasabah dan memperkenalkan produk baru. Keterampilan sosial menjadi lebih penting.” tutup Professor itu. 

Pembahasan mengenai AI tentu sedikit-banyak memiliki pro-kontra di dalamnya, mengingat bidang ini dapat dikatakan sebagai sebuah inovasi teknologi baru dan tidak lepas dari dampak positif maupun negatif. Namun, apabila melihat dari berbagai macam teknologi lainnya, kita sebagai pengguna akhir (end user) harus cermat dalam memakai dan menggunakan inovasi tersebut (AI). 

Kecerdasan buatan tentu bisa menjadi sesuatu hal yang nantinya dapat membuahkan hasil positif — maupun negatif tergantung bagaimana kita menggunakannya. Semoga saja, fenomena otomatisasi pekerjaan oleh AI dapat berjalan sama seperti apa yang dikatakan oleh beberapa ahli diatas, dan tak berubah menjadi suatu hal yang mengerikan seperti apa yang kita lihat di film-film seperti Terminator. Hanya waktu yang akan tahu.

Penulis : Akbar Akeyla

Editor : Ina Shofiyana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *