“Anak cucumu takkan kenal namaku lagi karena kalian bunuh semua jenis kami.” Begitulah penggalan lirik dari lagu “Last Roar” milik Tuan Tigabelas yang mengangkat kisah Harimau yang mulai punah.

Baru-baru ini media sosial sedang ramai dengan pembahasan kematian salah satu anak harimau Benggala yang dipelihara oleh seorang influencer Instagram, Alshad Ahmad. Melalui postingan Instagramnya, ia mengabarkan bahwa anak harimau yang bernama Cenora itu telah mati. Hal ini sontak membuat warganet kesal dan banyak mengirimkan komentar hujatan dan kritik di laman Instagramnya. 

“Tigers should never be domesticated?! They’re not pet animal!” tulis @tr*******id di kolom komentar. Kemarahan yang dirasakan warganet terbilang wajar sebab kematian anak harimau yang dipelihara Alshad Ahmad ini bukan pertama kalinya. Terhitung sudah ada tujuh ekor harimau yang mati dan ketujuhnya merupakan hasil breeding dari satu indukan. 

Sebenarnya, sejak awal Alshad Ahmad yang memamerkan harimau peliharaannya sebagai konten di Instagram dan Youtube sudah mendapatkan banyak kecaman dari netizen. Hal ini dikarenakan harimau tergolong satwa liar yang seharusnya tinggal di alam, sehingga mereka tidak sepatutnya hidup dan dipelihara di lingkungan manusia. Dilansir dari laman nationalgeographic.co.id, salah satu dokter hewan mengatakan bahwa pemeliharaan satwa liar juga sangat bertolak belakang dengan kesejahteraan satwa serta berpotensi menyebarkan penyakit zoonosis (penularan penyakit antar manusia-hewan dan sebaliknya). 

Akan tetapi, tidak semua netizen memberikan kritik, ada juga yang membela Alshad Ahmad dengan alasan dirinya sudah mendapatkan izin dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat untuk penangkaran. Dilansir dari pramborsfm.com, pihak BBKSDA menyampaikan bahwa breeding yang dilakukan oleh Alshad sudah sesuai dengan syarat seseorang untuk melakukan penangkaran dan diatur dalam Permenhut No.19 Tahun 2005. Permohonan izinnya sudah didaftarkan melalui PT Taman Satwa Eksotik pada tahun 2018. Ditambah lagi, harimau yang dirawatnya juga bukan merupakan satwa Indonesia yang dilindungi melainkan harimau asal India. 

Netizen yang mendukung Alshad Ahmad juga mengatakan bahwa kematian harimau yang dipelihara bukan sepenuhnya salah Alshad karena kematian anak harimaunya disebabkan oleh kelahiran yang prematur. Kematian Cenora, anak harimau yang terbaru pun masih diselidiki lebih lanjut melalui pengecekkan laboratorium, namun dipastikan kematiannya bukan diakibatkan oleh virus. “Yang sok sokan maki maki ke Alshad Ahmad tentang harimaunya yang harus kalian tau semua makhluk itu bisa mati semua hidup pasti ada matinya kenapa yang disalahkan jadi Kak Aslad Ahmad,” tulis akun @ke***_****t di kolom komentar.

“Saya pecinta binatang, bukan kolektor,” ucap Alshad dalam wawancaranya bersama bbc.com. Kritik yang diberikan netizen ini sebetulnya merupakan kritik yang tepat, pasalnya Alshad lebih terlihat memanfaatkan harimau-harimau yang dirawatnya sebagai konten dibandingkan memperbanyak populasi sebagaimana tujuan pemberian izin penangkaran. Sebagian netizen juga memberikan tanggapan bahwa apabila memang diberikan izin untuk penangkaran dan dianggap sudah capable untuk merawat, mengapa harimau itu bukannya berkembang biak tetapi malah mati? Yang bikin geger lagi mengenai tujuan Alshad merawat harimau adalah ingin melakukan konservasi, Davina Veronika, yang merupakan LSM Kesejahteraan Hewan Domestik mengatakan, “Kalau tujuannya konservasi, apa urusannya bawa harimau asal India ke Indonesia? Kalau mau konservasi, ya, di India sana.” 

Dari pembahasan yang ramai ini terlihat bahwa masih banyak sekali masyarakat yang kurang aware akan pemeliharaan hewan, apalagi mengenai satwa liar. Bukan hanya Alshad Ahmad saja, banyak sekali selebriti, influencer, artis, politikus, dan orang-orang yang dikenal menjadi animal collector serta tetap mendapatkan dukungan dari masyarakat. Dikutip dari akun Twitter @kucimggg, orang-orang tersebut diantaranya, Lucky Hakim, Bambang Soesatyo, Irfan Hakim, Andry Sumampow, Rexie Vinci, Audreya,dan masih banyak lagi. 

Tak dapat dielakkan bahwa dewasa ini peran influencer sangat mempengaruhi opini dan pengetahuan masyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya pakar konservasi hewan yang memberikan komentar mengenai perilaku Alshad Ahmad di Twitter namun dibalas dengan hinaan karena dianggap ‘sok tahu’. Dari sini, harus sangat disadari bahwa masyarakat kita masih banyak yang memilih mendengarkan selebriti yang mereka dukung daripada memahami ilmu dari para ahli. 

Hal ini menjadi tantangan bagi kita semua (re: pemerintah, pakar, dan masyarakat), karena dengan dimulainya era digital, masyarakat akan lebih memilih untuk percaya pada informasi dari orang-orang yang ingin mereka percayai (key opinion leader). Edukasi terhadap masyarakat dalam berbagai bidang masih sangat diperlukan. Sebagai mahasiswa, kita dapat berperan serta dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang suatu topik yang tidak bisa didapatkan oleh semua pihak, salah satunya mengenai konservasi satwa liar ini. Tentunya, dengan menggandeng banyak pihak dan memanfaatkan tren serta media sosial dengan cara kreatif dan inovatif.

Penulis: Mega Putri Mahadewi

Editor : Ananda Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *