Suatu waktu di megah ruah kota Yunani kuno, Socrates bertanya, “Apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia?”. “Hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan”, jawab Aristippos. Kurang lebihnya percakapan ini adalah rahim dari buah pikir Hedonisme. Hedonisme sendiri berarti kesenangan, dan kesenangan itulah yang menjadi tujuan hidup menurut pandangan Hedonisme. Tolok ukur baik-buruknya Hedonisme adalah apakah anda senang atau tidak dalam melakukan suatu hal.

Namun, seiring berkembangnya zaman, hedonisme kontemporer cenderung bergerak ke arah yang konsumtif, seperti membeli ponsel seri terbaru agar selalu update, berpesta setiap malam, berkunjung ke restoran mewah hanya untuk menghabiskan waktu, dan sebagainya. Selain karena tidak memiliki orientasi keuangan yang jelas dan tidak adanya rencana keuangan jangka panjang, pandangan hidup hedonisme kontemporer dinilai banyak mengandung mudarat. Hedonisme kontemporer juga mengandung makna-makna negatif. Lima penyakit utama Hedonisme Kontemporer antara lain, egoisme (hanya memikirkan diri sendiri), materialisme (cenderung berorientasi pada materi), konsumerisme (bersifat konsumtif), extravagant (boros), dan superficial (melihat secara dangkal). Pandangan hidup ini juga merupakan salah satu indikasi mengapa teori Jean-Paul Sartre tentang masyarakat konsumtif itu benar.

Perlu diketahui bahwasannya kesenangan itu bersifat jangka pendek, sedangkan bahagia bersifat jangka panjang. Jika kehidupan itu diibaratkan seperti jalan yang panjang, apakah lari sprint hingga ngos-ngosan di tengah jalan menjadi pilihan yang bijak? Bagaimana jika anda benar-benar kehabisan energi dan tidak dapat melanjutkannya? Bukankah berlari secara stabil dan terukur selayaknya lari maraton jauh lebih bijak? Namun, bagaimana bisa mencukupkan kesenangan justru mampu mengalahkan hedonisme yang selalu mencari kesenangan dalam meraih kebahagiaan?.

Di suatu sore seusai bekerja, anda merasa begitu lapar. Setelah berberes-beres dan berpamitan kepada kolega anda di kantor, anda bergegas mencari makanan. Anda memesan, duduk, lalu satu piring makanan pun tiba di hadapan anda. Anda menghabiskan sepiring nasi tersebut hingga kenyang. Kemudian, tiba piring ke-2, ke-3, ke-4, dan seterusnya. Namun, apa yang anda rasakan setelah menghabiskan piring ke-4 itu? Apakah anda semakin merasa kenyang atau justru enek? Ketika anda merasa kenyang pada piring pertama, di situlah letak kesenangan dan kebahagiaannya. Piring 2, 3, dan 4 hanyalah kesenangan belaka yang tidak disertai kebahagiaan. Di sinilah letak bagaimana kebahagiaan itu adalah kesenangan yang dicukupkan.

Ilustrasi di atas hanyalah contoh kecil aktivitas yang berdampak pada kebahagiaan. Cara makan di atas hanyalah tentang kebahagiaan fisik dan belum mencakup kebahagiaan lainnya, seperti kebahagiaan moral, jiwa, spiritual, dan sebagainya. Anda harus dapat menentukan batas kecukupan menurut versi anda sendiri.

Gaya hidup di atas disebut minimalisme, yaitu gaya hidup sederhana yang menciptakan ketenangan dan kebahagiaan. Gaya hidup ini dapat diterapkan sebagaimana lari maraton yang cenderung stabil dan tidak boros di awal. Dalam konteks ini yaitu menjalani kehidupan dengan sederhana dan bukan hura-hura.

Kucing yang berlari mengejar ekornya hanya akan kelelahan dan meratapi dirinya sebagai seekor kucing yang tidak memiliki arti hidup. Sedangkan kucing yang menjalani hidup apa adanya mendapati ekornya menyertainya di sepanjang jalan. Namun, ini bukan tentang ekor, melainkan kebahagiaan.

Penulis: Elang Raafid Widiatmiko

Editor: Dimas Septo Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *