Selama pandemi Covid-19 hingga satu tahun setelahnya, Indonesia dipuji sebagai negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi stabil. Namun, menurut Dana Moneter Internasional (IMF) pada 2024 proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan mengalami penurunan. Sedangkan, menurut laporan World Economic Outlook edisi Juli 2023 pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan hanya akan mencapai angka 5% pada 2024. Angka proyeksi itu lebih rendah 0,1% dari proyeksi yang dikeluarkan oleh IMF.
Tidak hanya Indonesia, prediksi proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi juga akan terjadi di berbagai negara berkembang dan diperkirakan akan turun sekitar 0,1%. Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang diperkirakan hanya akan tumbuh 4,1% pada tahun depan—turun sebesar 4,2% dari proyeksi IMF sebelumnya. Kabar ini tentu perlu disikapi dengan hati-hati.
Ada beberapa penyebab penurunan pertumbuhan ekonomi, antara lain yaitu ketidakstabilan investasi, konsumsi, ekspor-impor, pendapatan nasional, dan pengeluaran negara. Selain itu, penurunan pertumbuhan ekonomi sebuah negara juga dipengaruhi oleh negara-negara yang selama ini menikmati keuntungan situasi akibat lonjakan harga komoditas di tahun-tahun sebelumnya —entah karena imbas pandemi Covid-19, maupun karena efek perang Rusia-Ukraina.
Pada tahun 2024, tidak semua negara akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Negara-negara dengan fondasi ekonomi yang kuat hanya akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang lebih kecil dibandingkan dengan negara dengan fondasi ekonomi yang rapuh. Beberapa faktor menurunya pertumbuhan ekonomi adalah sebagai berikut:
- Pertama, perlambatan pertumbuhan ekonomi diprediksi akan dirasakan oleh negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komoditas. Keadaan komoditas di berbagai belahan dunia dilaporkan mulai mengalami normalisasi setelah sebelumnya pada 2022 mengalami lonjakan yang signifikan. Setelah kondisi mulai kembali normal, berbagai negara yang banyak memetik keuntungan dari kenaikan harga komoditas, kini dapat dipastikan bahwa pendapatan mereka dari ekspor komoditas akan mulai turun.
- Kedua, penurunan permintaan pasar global adalah faktor tidak terhindarkan yang menyebabkan sektor ekspor turun dan harga komoditas tidak lagi selalu menjanjikan. Akibat pelemahan ekonomi global, kinerja ekspor mau tidak mau terkena imbasnya. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, Kinerja ekspor pada Juni 2023 dilaporkan ambles hingga angka 21,2% secara tahunan. Penurunan permintaan global dan turunnya harga komoditas menjadi penyebab kenapa pemasukan negara menjadi banyak berkurang.
- Ketiga, ketika ketidakpastian ekonomi global disebut masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya 2,7%, maka akan ada banyak negara yang mengalami berbagai masalah termasuk inflasi.
Indonesia sendiri tentu akan sekuat mungkin mengendalikan inflasi. Target Bank Indonesia, inflasi bisa kembali ke dalam sasaran 3% plus minus 1% pada sisa tahun ini dan 2,5% plus minus 1% pada tahun 2024. Namun, untuk memastikan inflasi dapat dikendalikan demi kepastian perekonomian tentu bukan hal yang mudah.
Upaya yang dikembangkan Bank Indonesia untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi niscaya perlu usaha ekstra keras. Menyimak banyak data mengenai perusahaan di Indonesia yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, maka bisa dipastikan upaya untuk meredam inflasi tidaklah semudah membalik telapak tangan.
Ketika biaya produksi meningkat, kenaikan inflasi niscaya tidak akan tercegah. Secara umum, inflasi kenaikan biaya produksi yang mungkin terjadi di Indonesia disebabkan karena desakan biaya faktor produksi yang terus naik. Inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi ini biasanya terjadi di negara dengan pertumbuhan ekonomi yang sedang berkembang atau tumbuh pesat seperti Indonesia, ditambah dengan angka pengangguran yang cukup rendah.
Menurut data yang terkumpul, kinerja ekonomi Indonesia pada Februari 2023 dilaporkan lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Tren merosotnya nilai ekspor Indonesia tercatat telah berlangsung selama 6 bulan berturut-turut. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pada bulan Februari 2023 hanya sebesar US$21,4 miliar. Nilai tersebut lebih rendah 4,15% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai US$22,32 miliar. Tren penurunan nilai ekspor Indonesia telah berlangsung selama 6 bulan sejak September 2022. Nilai ekspor pada September 2022 sebesar US$24,8 miliar atau anjlok 10,58% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Untuk memastikan agar Indonesia mampu mempertahankan dan bahkan bisa menjadi negara maju, pertumbuhan ekonomi Indonesia harus mencapai di angka 6%-7%. Untuk mewujudkan hal itu, banyak hal yang perlu diperhatikan.
Menurut Bank Indonesia (BI), perekonomian Indonesia kedepannya akan lebih baik dibanding perkiraan sebelumnya di tengah tingginya ketidakstabilan global. Kenaikan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia ini terutama didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi. Investasi menjadi salah satu kunci utama agar perkembangan usaha di Indonesia tidak jalan di tempat. Sedangkan inflasi perlu terus dikendalikan agar tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Untuk memastikan agar para investor tertarik menanamkan modalnya di Indonesia, ruang bagi perkembangan dunia industri tentu harus dibuka seluas-luasnya. Share manufaktur Indonesia yang dulu sempat menyentuh angka 32%, sekarang hanya tinggal. 18,3%. Kontribusi industri pengolahan terhadap PDB 5 tahun terakhir, berada di bawah angka 20%, yaitu sebesar 18,3% pada tahun 2022, dan sebesar 19,25% pada tahun 2021 .
Ke depannya, sejumlah langkah yang perlu dikembangkan untuk memastikan agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap membanggakan, antara lain: memacu produktivitas tenaga kerja terampil, menurunkan biaya logistik, meningkatkan investasi dengan kemudahan perizinan, penghiliran industri berbasis sumber daya alam, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mempertahankan dan merangsang daya beli masyarakat.
Penulis: Samsul Arifin
Editor: Ina Shofiyana