Ketika dunia memasuki sebuah fase baru dimana bumi mendidih dan manusia tetap bersikeras menganggapnya hanyalah hal biasa, saat itulah tanda alam semesta sudah tidak baik-baik saja. Apa yang terjadi semakin nyata berdampak dan kecemasan sudah saatnya dirasakan semua orang. Fase baru ini tidak boleh didiamkan dan dianggap masalah kecil. Masalah yang dihadapi adalah masalah bersama umat manusia. Lalu, persoalan apa sebenarnya yang saat ini sedang dihadapi? Jawabannya adalah perubahan iklim.
Pengertian climate change menurut PBB adalah perubahan jangka panjang pada suhu dan pola cuaca yang disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama pada hasil pembakaran bahan bakar fosil. Aktivitas manusia menghasilkan emisi dalam jumlah besar berpengaruh pada keseimbangan ekosistem di alam. Akibatnya perubahan kondisi iklim di masa kini dan masa depan tidak dapat terhindarkan. Kabar buruknya, bumi semakin dekat dengan kehancurannya.
Gagasan awal kehancuran dunia sebenarnya bukan hal baru. Efek perubahan iklim sudah diperkirakan sejak bertahun-tahun lalu. Para ilmuwan juga sudah memberikan fakta dan memperingatkan bahwa masa depan akan terancam apabila kegiatan ekonomi dan kebijakan politik, yang selalu menjadi alasan utama menyepelekan urusan lingkungan, tidak mempertimbangkan langkah yang sesuai dengan ekosistem berkelanjutan. Sehingga ketika saat ini kondisi global sudah sangat panas dan bencana alam terjadi dimana-mana, yang paling bertanggung jawab atas itu semua adalah pemegang kekuasaan.
Seorang gadis berusia 11 tahun merasakan sesuatu yang aneh mengenai cara manusia tetap hidup biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa, ketika diberitahu soal kondisi iklim global yang telah mengalami perubahan. Terkesan perubahan iklim itu bukan hal yang nyata. Namun, saat dia menyadari bahwa apa yang terjadi sesungguhnya soal apa itu climate change, ia tidak bisa tenang. Semua orang seperti diam dan tidak melakukan apapun untuk mengupayakan agar mencegah terjadinya hal tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk memulai aksinya, menuntut pemerintah segera mengambil tindakan dengan bolos sekolah dan duduk di depan gedung parlemen Swedia. Gadis tersebut adalah Greta Thunberg dan dialah yang membuat gagasan school strike for climate and climate strike for future. Gerakan yang digagas Greta telah diikuti oleh jutaan orang di dunia, menyuarakan hal yang sama untuk menuntut pemerintah negara mengambil tindakan nyata untuk mencegah dan mengatasi perubahan lingkungan.
Hal yang menarik pernah disampaikan oleh Greta dalam youtube TEDx Talks saat dia berbicara soal aksi school strike for climate, “ketika emisi harus dihentikan, dan kita harus menghentikannya, bagiku itu adalah hitam putih. Tak ada hal abu-abu dalam upaya bertahan hidup”. Ini seharusnya menjadi pukulan telak bahwa langkah yang diambil untuk kebijakan lingkungan haruslah tegas. Namun, masalahnya didapati tidak adanya ketegasan yang dibutuhkan untuk penanganan krisis iklim. Kebijakan yang dikeluarkan seringkali hanya menyelesaikan masalah jangka pendek. Sementara krisis lingkungan semakin memburuk dan akan terus menyebabkan bencana yang berulang di masa depan.
Yang dilakukan Greta untuk mendorong semua orang turun ke jalan dan melakukan aksi protes bukan semata tentang kemarahan satu individu. Ada jutaan nyawa yang dipertaruhkan. Krisis iklim harus menjadi keresahan semua orang dan isu ini bukan untuk dianggap angin lalu. Kondisi bumi sudah semakin panas dan hampir semua orang tidak merasa perlu mengambil tindakan. Akan menunggu sampai kapan agar orang-orang dapat menyadari jika tidak bergerak dari sekarang, masa depan yang cerah untuk generasi selanjutnya hanya akan menjadi imajinasi belaka.
Anak cucu kita akan mempertanyakan mengapa kita membiarkan kerusakan terjadi? Mengapa generasi sebelum ini diam saja, tidak bergerak? Apa yang akan diberikan untuk anak-cucu dan generasi selanjutnya jika saat ini saja tak ada usaha yang dilakukan untuk mengatasi dan mencegah kerusakan lingkungan. Kemudian bagi pemerintah sebagai pemangku dan pengambil kebijakan harus memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat, bukan dengan membiarkan fakta yang membuat situasi semakin parah.
Demi masa depan yang lebih baik upaya tanggap krisis iklim tak hanya dilakukan oleh pemerintah. Menangani krisis iklim tentu juga tugas seluruh manusia. Karena kendali tentang keberlangsungan dan kehidupan seluruh makhluk hidup ada di tangan manusia dan itu merupakan sebuah kewajiban. Demi mencapai tujuan bumi bebas emisi karbon, kesadaran kecil dari setiap orang merupakan langkah yang penting untuk dilakukan bersama-sama.
Penulis: Savina Rizky Hamida
Editor: Sri Dwi Aprilia