“Narsisto ergo sum.” Demikian kalimat akhir dari tulisan opini salah seorang dosen di koran Radar Malang tempo hari. 3 kata sederhana yang mewakili dunia kampus zaman ini. Atau, apakah saya telah ketinggalan zaman? Sebab Henry David Thoreau dalam memoarnya yang ditulis pada tahun 1985 mengatakan: “kampus tidak menghasilkan apa-apa, selain riset palsu yang diagung-agungkan.” Kita juga bisa sedikit mundur 1 dekade dimana Paulo Freire mengkritik pendidikan yang berbasis kepatuhan semata, seolah porosnya hanya pada guru saja. Kedua tokoh abad 19 tersebut sama-sama sarjana, tapi mereka memahami dan memberikan kritik kepada universitas. Konsisten pada kaidah keilmuan dan kebenaran.
Bagaimana dengan abad 20? Kampus hari ini bahkan tak lagi berdenyut sebagai ruang bagi ilmu pengetahuan. Ia menjelma gedung administrasi raksasa yang dingin, rapi, tapi kehilangan jiwa. Mahasiswa berbaris mengisi daftar hadir, mendengarkan slide PowerPoint, lalu tenggelam dalam keseragaman yang membosankan. Ruang kelas berubah jadi pabrik rutinitas: masuk, duduk, mencatat, pulang. Seusai kuliah, mereka bubar tanpa sempat merenung. Sebagian mencari hiburan di bioskop, sebagian lagi menghabiskan malam di kafe dengan musik yang menenggelamkan pikiran. Ada pula yang larut dalam dunia kepanitiaan, sibuk dengan acara seremonial penuh jargon kosong. Mereka tampak sibuk, tapi tak benar-benar tumbuh. Ketika tugas dikumpulkan, makalah mereka seperti potongan teks acak dari Google: tanpa gagasan, tanpa struktur, tanpa rasa malu memamerkannya. Membacanya bisa membuat siapa pun muak.
Di dalam kelas, jarang ada tangan terangkat. Tak ada pertanyaan, apalagi perdebatan. Wajah-wajah muda tampak letih bahkan sebelum belajar dimulai. Mereka datang seperti pekerja pabrik yang mengejar target harian. Benar, absensi, nilai, kelulusan. Ilmu pengetahuan berhenti menjadi petualangan intelektual; ia tinggal angka di lembar nilai akhir semester.
Dosen pun tak luput dari keletihan itu. Sosok yang seharusnya menjadi penopang api keilmuan justru terjebak dalam labirin birokrasi. Ajakan berdiskusi sering ditolak dengan alasan “sibuk”, sementara waktu mereka habis untuk rapat, laporan, dan kejaran angka kredit. Sekalinya sempat berbincang, yang keluar hanyalah keluhan tentang sistem yang absurd dan kebijakan yang menyesakkan. Ironisnya, di tengah keluhan itu, semangat intelektualitas mereka padam secara perlahan. Banyak dosen kehilangan keberanian untuk menantang sistem dan mendukung gerakan perubahan ini. Mereka terjebak dalam kejaran administrasi dan iming-iming tunjangan, bukan dialog ilmiah. Kampus pun berubah menjadi hierarki kaku. Dosen bicara, mahasiswa mencatat, lalu semua berpura-pura paham. Padahal, ilmu lahir dari pertemuan dua rasa ingin tahu, bukan dari satu arah suara. Ilmu pengetahuan dijaga dengan kritik, bukan pujian.
Beginilah wajah tragedi intelektual kita: mahasiswa kehilangan minat untuk berpikir, dosen kehilangan semangat untuk mengajar, dan kampus kehilangan makna sebagai rumah pencarian kebenaran. Yang tersisa hanyalah ritual kosong bernama “pendidikan tinggi”. Universitas hanyalah beton-beton yang dicat. Jargon-jargon peringkat kampus dan banner-banner kebanggaan serupa barang-barang dagangan yang dipromosikan. Tak berbeda melihat wajah kampus hari ini dengan mall yang menjual barang-barang elektronik: Glamor seolah mewah, murah nan berkualitas menandakan sangat layak untuk dibeli. Keduanya berteriak “ayo kemari, kita yang terbaik.”
Pierre Bourdieu, dalam Reproduction in Education, Society and Culture, menjelaskan bahwa sistem pendidikan sering kali berfungsi mereproduksi struktur sosial. Ia melahirkan habitus kepatuhan: kebiasaan berpikir dan bertindak yang membuat masyarakat tunduk pada tatanan yang ada, alih-alih menumbuhkan pengetahuan kritis. Dan memang, kita telah berubah menjadi pabrik gelar, bukan rumah ilmu.
Tumpukan tugas yang tak masuk akal menambah absurditasnya. Dua karya ilmiah dalam sebulan, laporan mingguan, refleksi, jurnal, presentasi, semuanya atas nama “pembelajaran aktif”. Istilah yang terdengar akademis, tapi di lapangan menjelma kerja rodi intelektual tanpa arah. Mahasiswa menulis tanpa berpikir, dosen menilai tanpa membaca, dan sistem berjalan tanpa ruh. Inilah kematian akademia yang paling senyap: semua tampak bergerak, tapi tak satu pun benar-benar hidup.
Percakapan intelektual kita kini raib. Tak ada lagi obrolan di warung kopi kampus, tak ada lagi dosen yang mau duduk bersama mahasiswanya membahas ide-ide gila, tak ada lagi tawa intelektual yang tumbuh dari rasa ingin tahu. Yang tersisa hanyalah formalitas, kepalsuan yang dibungkus pamflet-pamflet seminar.
Universitas akhirnya terasa lebih seperti institusi penyeragaman ketimbang laboratorium gagasan. Semua tunduk pada format, template, dan rubrik penilaian. Mahasiswa yang kritis dianggap mengganggu, dosen yang berpikir berbeda dicurigai tak loyal. Ruang akademik kehilangan keberaniannya untuk berbeda.
Kebosanan yang melanda kampus bukan sekadar suasana, ia gejal penyakit. Penyakit intelektual yang menular pelan-pelan: dari dosen ke mahasiswa, dari ruang kelas ke seluruh sistem. Maka jangan heran jika kampus kini lebih mirip museum ide, berisi artefak pengetahuan yang dipajang tanpa kehidupan.
Kita semua adalah pelaku pembunuhan universitas dengan cara yang paling halus: membiarkannya berjalan tanpa makna sembari mengeluarkannya dari garis abstrak luhur ilmu pengetahuan. Dan barangkali nanti, ketika semuanya telah hampa, kita baru sadari bahwa yang hilang bukan hanya kualitas pendidikan, melainkan keberanian untuk berpikir. Saat hari itu tiba, gelar akademik yang kita banggakan tak lebih dari sertifikat keletihan, bukti bahwa kita pernah menempuh pendidikan tinggi, tapi gagal menjadi manusia yang berpikir.
Penulis: Alfian Muslim, Pimpinan Umum Lpm Arrisalah