sumber ilustrasi : ketik.unpad.ac.idsumber ilustrasi : ketik.unpad.ac.id

Pada hari Rabu (1/3/2023) yang lalu, akun Twitter (@)airlanggafess sempat dihebohkan dengan menfess bernada himbauan agar berhati-hati ketika melewati jalanan Fakultas Psikologi yang berada di seberang Fakultas Ilmu Budaya. Menfess yang berbunyi -uner HATI HATI REK yang lewat sekitaran kursi di jalanan psiko-fib, seberang gazebo. bnr bnr semua cewe yg lewat dicatcall, diliatin tet*nya, diajak ngobrol genit [titipan] sontak dipenuhi berbagai macam komentar. Sebagian besar geram dengan tindakan dua pelaku catcalling tersebut, dan sebagian lagi takut jika ingin melewati jalanan Fakultas Psikologi-Ilmu Budaya. Beberapa di antara mereka juga turut memberi kesaksian mengenai pengalaman buruk mereka saat bertemu dengan kedua orang tersebut.

Akun (@)l************ di komentar menfess (@)airlanggafess mengatakan, Diaa tadi juga tanya “toilet dimana” ke temenku waktu kita lewat. Keknya bukan mahasiswa, soalnya tadi nyapu2 gituu. Sedangkan akun (@)m********* mengatakan, Ini orang yang nawarin aplikasi L**** ga sih? Yang targetnya mesti cewe cewe cantik. Kalo iya brrti parah banget soalnya tahun lalu dia juga bgitu dan pernah ditegur. Berbekal dari komentar-komentar tersebut, tim Satgas PPKS UNAIR bergerak mencari tahu siapa sebenarnya kedua orang tersebut. Arlina, mahasiswa FIB, salah satu staf Satgas PPKS UNAIR yang ditemui tim Redaksi LPM Mercusuar mengatakan, “Kita hanya bersumber dari saksi temen-temen, oh dia abis nyapu-nyapu di sini, mereka kalo ga salah nyapu di daerah rumah sakit. Akhirnya kami menghubungi pihak Sarpras UNAIR siapa tahu mereka tahu karena berhubungan dengan Sarpras. Ternyata mereka tahu beneran kalo orang itu emang lagi kerja di situ. Mereka asalnya dari PT RAM, yaitu perusahaan yang kayak menyalurkan tenaga kerja gitu loh dan dua orang ini kerjanya jadi cleaning service, cuma harusnya kerja di daerah rumah sakit Pasuruan. Aku kurang tau juga terkait dia kok bisa di UNAIR. Kalo menurut kesaksian temen-temen, dua orang ini di UNAIR karena ngedarin brosur-brosur gitu loh, ada yang punya kesaksian gitu.”

Setelah menemukan identitas kedua pelaku yang berinisial BF dan S,  melalui bantuan Pak Kanaji, pihak Sarana Prasarana UNAIR, Satgas PPKS UNAIR bertemu secara langsung dengan kedua pelaku dan pihak dari PT RAM. Dalam pertemuan tersebut, para pelaku tidak membantah statement Satgas PPKS UNAIR maupun melakukan perlawanan. Keduanya mengakui bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah tindak kejahatan. Sanksi yang mereka dapatkan adalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh PT RAM selaku perusahaan yang menaungi keduanya. 

Hanya berselang sehari setelah menfess tersebut diunggah di Twitter, Satgas PPKS UNAIR ikut mengunggah surat PHK dari kedua pelaku sebagai bukti bahwa kedua pelaku telah mendapatkan sanksi atas kejahatan yang dilakukannya. Arlina juga menambahkan, “Sebetulnya hukuman bisa lebih berat, tapi tergantung dari korban. Kalau korban mau melanjutkan, kami siap untuk membantu. Tapi dalam kasus ini tidak ada yang mengkonfirmasi pada kami bahwa ‘saya korban’ sehingga kami tidak bisa melanjutkan ini lebih lanjut dan PHK adalah hukuman yang patut diterima oleh pelaku.”

Satgas PPKS UNAIR juga mengapresiasi teman-teman mahasiswa yang sudah berani untuk speak up di media sosial maupun yang menghubungi langsung Satgas PPKS untuk mengatasi permasalahan kekerasan seksual di kampus. Salah satu harapan Satgas PPKS UNAIR ke depan adalah mampu berintegrasi bersama dengan teman-teman mahasiswa kampus, tidak hanya dengan organisasi-organisasi saja, namun juga menyeluruh secara individu. Dengan berani speak up di media sosial, dalam hal ini yaitu platform base kampus di Twitter, mahasiswa UNAIR menunjukkan bahwa mereka tidak abai dan mendukung pemberantasan kejahatan seksual di lingkungan kampus. 

Penulis : Sri Dwi Aprilia

Editor: Fira Ila Maula

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *