Sumber Gambar: Tim Liputan Khusus LPM Mercusuar

Sidang Istimewa Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) Universitas Airlangga (UNAIR) resmi berlanjut di hari kedua pada Sabtu (14/3) di Ruang 301 Gedung Kahuripan Lantai 3, Universitas Airlangga. Meski sempat dijadwalkan mulai pada pukul 11.00 WIB, forum baru resmi dibuka sekitar pukul 12.00 WIB dan langsung membedah indikator kriteria bagi calon pemimpin BEM UNAIR 2026.

Perdebatan Indikator Kriteria Calon Presiden-Wakil Presiden BEM UNAIR

Persidangan diawali dengan penghimpunan hasil jaring aspirasi dari berbagai delegasi fakultas. Forum menyepakati penggunaan alat bantu akal imitasi (AI) untuk merangkum indikator-indikator yang serupa agar pembahasan lebih efisien. Selisih pendapat mulai muncul saat membahas poin indikator kelulusan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) atau memiliki Sertifikasi Kepemimpinan. Raikhan dari FH mengemukakan agar syarat tersebut dibatasi hanya “LKMM-TD” tanpa frasa “Sertifikasi Kepemimpinan”, sementara rekannya sesama FH, Adit,  bersikeras agar persyaratan dikerucutkan menjadi “LKMM-TD UNAIR”. Mereka menilai syarat ini adalah “harga mati” sebagai bentuk kebanggaan dan parameter objektif kepemimpinan di lingkungan internal. Pandangan ini disanggah oleh Aji dari FST yang menyatakan bahwa kurikulum LKMM sudah diatur standar kementerian sehingga kualitasnya setara di mana pun.  Setelah melalui proses lobbying yang alot dan diakhiri dengan mekanisme voting, pada pukul 14.51 WIB, forum akhirnya memutuskan untuk mengesahkan poin “LKMM-TD” secara umum—tanpa kewajiban berasal dari UNAIR—sebagai syarat resmi.

Setelah kriteria disahkan, sidang berlanjut pada pemaparan hasil Fit and Proper Test (FPT). Hasil ujian menunjukkan kontras yang signifikan; Senja tampil dominan di berbagai subtes, sementara pasangannya, Shintya, menuai kritik karena hanya menjawab benar satu soal pada subtes kesehatan. Usai rekapitulasi nilai FPT dipaparkan, sidang berlanjut pada maraton penyampaian hasil jaring aspirasi dari 16 fakultas serta FORKOM UKM. Berbagai catatan mengenai integritas, inklusivitas, hingga relevansi program kerja paslon menjadi landasan bagi forum untuk menentukan sikap. Tuntasnya penyampaian aspirasi dari seluruh elemen mahasiswa tersebut disusul dengan kesepakatan pending sidang selama 1 x 70 menit.

Musyawarah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden BEM UNAIR

Tepat pukul 19.23 WIB, pending sidang dicabut sekaligus menjadi penanda dimulainya Pleno 4. Fokus pembahasan kini beralih pada ketentuan mekanisme sekaligus pemilihan Presiden BEM UNAIR. Mekanisme pemilihan disepakati dengan sesi penguatan dan pelemahan selama 60 menit dan dilanjutkan dengan sesi musyawarah tanpa waktu maksimal. Selama penguatan dan pelemahan, muncul berbagai pandangan mengenai pasangan Senja-Shintya baik dari segi kompetensi, karakter pribadi, hingga rekam jejaknya. Senja dinilai sebagai seseorang yang memiliki kapabilitas dan kompetensi mumpuni. Hal tersebut terlihat dari rekam jejaknya sebagai Menko Pergerakan BEM UNAIR, Kepala Divisi Advokasi SMHI FH UNAIR, awardee Beasiswa Rumah Kepemimpinan, hingga aktif menjadi pembicara di berbagai acara. Secara karakter pribadi, Senja merupakan seorang pemimpin yang komunikatif, memiliki pembawaan yang tenang, serta reflektif, sebagaimana terlihat dari kebiasaannya dalam membawa catatan ketika berkegiatan. Senja juga dinilai sebagai seseorang yang aktif berdiskusi dan mendengarkan, sehingga yakin dapat menjadi jembatan komunikasi antara mahasiswa dengan kampus. Namun, Senja juga dipandang lemah dalam pengambilan keputusan, pragmatis, dan terlalu idealis terhadap apa yang dibawakannya.

Shintya sendiri dipandang sebagai sosok yang memiliki kinerja yang baik selama menjadi Menteri Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM UNAIR pada tahun 2024 dan selama melakukan pengabdian masyarakat. Shintya juga dipandang sebagai seseorang yang visioner. Hal tersebut dapat terlihat dari bagaimana fokus program kerjanya dalam mempersiapkan mahasiswa pascalulus dengan program pengembangan karir serta career fair. Akan tetapi, hasil Fit and Proper Test (FPT) Shintya yang hanya menjawab satu soal benar justru menimbulkan pertanyaan mengenai kompetensi dan kapabilitasnya terutama dalam isu kesehatan. Padahal, hal tersebut menjadi salah satu isu yang diangkat dalam program kerja unggulannya, Loka Sehat Airlangga. Permasalahan ini menjadi fokus utama mahasiswa rumpun kesehatan sebab hal tersebut menjadi isu yang sangat krusial, mengingat UNAIR sebagai salah satu representasi pendidikan kedokteran di Indonesia. Peserta sidang menilai perlu adanya transfer knowledge dan pendalaman pemahaman mengenai isu kesehatan oleh Shintya, yang kemudian disepakati perlu adanya catatan evaluasi yang perlu dijalankan serta konsekuensinya ketika nantinya paslon terpilih dengan indikator keberhasilan yang terukur. 

Sesi penguatan dan pelemahan kemudian diperpanjang selama 15 menit untuk mengakomodasi berbagai keresahan dan pertanyaan dari peserta sidang. Selama perpanjangan tersebut, muncul berbagai pertanyaan mengenai bagaimana mengakomodasi seluruh kepentingan terutama dalam rumpun kesehatan, bagaimana mewujudkan proker di tengah efisiensi, serta relevansi program kerja yang ditawarkan. BEM UNAIR sebagai organisasi yang mewadahi kepentingan setiap fakultas tentunya tidak bisa mengakomodasi semua kebutuhan dengan baik, sehingga perlunya kolaborasi dan advokasi kebutuhan dari setiap fakultas untuk memastikan relevansi serta meminimalisasi penggunaan biaya berlebihan di tengah efisiensi yang terjadi. Sesi penguatan kemudian ditutup dan dilanjut dengan sesi musyawarah pada pukul 20.47 WIB. 

Pada awal sesi musyawarah, Diinaar secara langsung menyampaikan order untuk mengaklamasi Senja-Shintya sebagai presiden dan wakil presiden BEM UNAIR yang kemudian menimbulkan perdebatan, terutama dari Ibrahim sebagai oposisi yang mendukung kotak kosong. Ibrahim kemudian membalas order untuk mendukung kotak kosong yang akhirnya menimbulkan keributan dan perdebatan terkait dampak dari kedua pilihan tersebut. Memilih Paslon 01 dengan kondisi inkompetensi dari hasil Fit and Proper Test (FPT) serta kurangnya pengalaman dalam mengikuti pelatihan dipandang sebagai hal yang sangat krusial dalam masa kepemimpinan di BEM UNAIR, terutama dalam mengawal isu kesehatan. Senja juga dipandang pragmatis dan tidak memiliki integritas yang kuat, sehingga rawan untuk disetir kepentingan kelompok ataupun janji kampanye yang tidak terlaksana. Walaupun begitu, program kerja yang dibawakan Paslon 01 sangat dibutuhkan oleh teman-teman mahasiswa, terutama oleh mahasiswa FF dan FV yang sangat membutuhkan program pengembangan dan persiapan karir. Masalah kesehatan nantinya akan diberikan ruang kepada mahasiswa kesehatan untuk diakomodasi.

Di sisi lain, Ibrahim memandang kotak kosong sebagai langkah yang tepat untuk mencegah inkompetensi dan penurunan kualitas dari BEM UNAIR sebagai salah satu BEM yang terpandang. Hasil Fit and Proper Test (FPT) juga akan menjadi sangat krusial dalam menangani dan mengawal isu kesehatan yang akan berpengaruh pada marwah dan kompetensi BEM UNAIR dalam isu kesehatan. Akan tetapi, kotak kosong justru akan menimbulkan kondisi vakum sehingga dapat berdampak pada jalanya UKM dan BSO yang ada di UNAIR, sehingga memilih Paslon 01 dipandang sebagai upaya menjaga keberlangsungan demokrasi di kampus. Hasil Fit and Proper Test (FPT) tidak menjadi indikator utama dalam menentukan pilihan presiden dan wakil presiden BEM UNAIR, kekurangan pemahaman dan kompetensi dipandang sebagai hal yang lumrah sebagai seorang mahasiswa. 

Hal tersebut menimbulkan perdebatan, terutama mahasiswa kesehatan yang memperjuangkan kepentingan dalam mengawal isu kesehatan serta kelompok oposisi yang mendukung kotak kosong. Kondisi semakin ricuh antara menentukan pilihan paslon 1 atau kotak kosong sehingga dilakukan upaya lobbying terhadap Ibrahim sebagai perwakilan kelompok oposisi yang mendukung kotak kosong. Selama proses lobbying, terjadi pembahasan mengenai memastikan kompetensi dan kualitas BEM UNAIR, bagaimana dampak inkompetensi dari Shintya, hingga bagaimana opsi terbaik lainnya. Opsi pembukaan calon dipandang tidak efektif mengingat lini masa yang terlalu terbatas, kotak kosong juga tidak menjadi opsi terbaik dalam menyelesaikan masalah yang justru akan menimbulkan kondisi kekosongan. 

Pengesahan Senja-Shintya sebagai Presiden-Wakil Presiden BEM UNAIR

Sidang Istimewa MPM UNAIR 2026 resmi ditutup pada pukul 22.50 WIB setelah Ibrahim setuju untuk melebur dengan Paslon 01 usai adanya lobbying dengan hasil Senja-Shintya ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa UNAIR 2026 yang dibacakan oleh Presidium 2 dengan beberapa catatan sebagai berikut; Pertama, ke depannya paslon perlu memperhatikan kementerian kesehatan dan juga isu kesehatan. Kedua, calon presiden BEM akan melakukan sharing knowledge dan lebih vokal terhadap kesehatan yang nantinya akan dibantu oleh bidang kesehatan dan dipegang oleh bidang kesehatan untuk menutupi kekurangan wakil yang telah disebutkan sebelumnya.

Pada pukul 22.42 WIB, pembacaan Keputusan Majelis Perwakilan Mahasiswa Nomor 080/KPTS/MPM/2026 Tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden BEM Universitas Airlangga oleh Presidium Sidang 1 berjalan kondusif setelah sebelumnya Presidium 1 menghimbau untuk menggunakan almamater. Pukul 22.44 WIB, sidang resmi ditutup yang ditandai dengan ketukan palu dan disambut dengan riuh tepuk tangan.

Penulis: Tim Liputan Khusus LPM Mercusuar

Editor: Tim Editor LPM Mercusuar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *