/PKL Folklor: Kenalkan Reog Bulkiyo Warisan Budaya UNESCO ke Mahasiswa Sasindo
Sumber Foto : Istimewa

PKL Folklor: Kenalkan Reog Bulkiyo Warisan Budaya UNESCO ke Mahasiswa Sasindo

Praktik Kuliah Lapangan (PKL) kembali digelar oleh Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia Unair pada Senin (20/06) di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Setelah dua tahun vakum akibat pandemi, mahasiswa kembali diajak mengenal berbagai budaya dan kerajinan asli Kemloko.

“PKL ini diikuti oleh 120 mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia yang mengikuti mata kuliah Folklor dan kebanyakan dari angkatan 2020. Desa Kemloko memiliki banyak kebudayaan mulai dari kebudayaan benda dan tak benda, seperti Kendang Jimbe, Reog Bulkiyo, Ternak Koi, Serat Ambyuk, dan lain-lain”, jelas Suci Madalena, salah satu peserta mata kuliah Folklor.

Reog Bulkiyo menjadi salah satu warisan budaya yang tercatat oleh UNESCO dan menjadi ikon Desa Kemloko. Selain Reog Bulkiyo, Kendang Jimbe juga menjadi kerajinan khas yang sudah disebarluaskan hingga ke China dan Afrika.

“Jimbe itu sebenarnya dari kata ‘The Jimbe’ yang menjadi kesenian khas Afrika, namun warga lokal hanya memproduksi alatnya saja tetapi tidak menggunakannya sebagai kesenian, sangat disayangkan”, terang salah satu mahasiswa Sasindo 2020, Alfi Luthfiyah.

Menyambut kedatangan mahasiswa, warga desa begitu antusias dengan menyediakan homestay dan berbagai fasilitas di samping mengenalkan berbagai kebudayaan khas Desa Kemloko.

“Warga menyambut kami dengan sangat baik mengingat Desa Kemloko menjadi desa binaan Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Mereka menganggap mahasiswa seperti anak sendiri dengan komunikasi dan perhatian yang lebih. Sangat ramah”, ungkap Suci.

‘Aalimah Qurrata A’yun selaku ketua pelaksana PKL Folklor menuturkan bahwa PKL yang dilaksanakan juga dihadiri oleh Drs. Tubiyono, M.Si. dan Dra. Dwi Handayani, M.Hum. selaku dosen pembimbing mata kuliah Folklor. Selain itu juga dihadiri oleh dosen-dosen program studi Bahasa dan Sastra Indonesia yang lain, Dra. Sri Ratnawati, M.Si., Dra. Hj. Adi Setijowati, M.Hum. dan Ida Nurul Chasanah, S.S., M.Hum.

“Ketika 14 pertemuan yang telah kami lakukan saat pembelajaran mata kuliah folklor di kampus, kami merasa telah sempurna ketika teori-teori yang dipaparkan oleh dosen itu diterapkan langsung kepada lapangan dan yang menjadi syukur adalah silaturahim juga terbangun kembali setelah 2 tahun departemen Bahasa dan Sastra Indonesia tidak melaksanakan PKL di sana.”, tutur A’yun.

Penulis : Mutiara R. J.

Editor : Primanda Andi Akbar