/“Perang yang Memang Tidak Akan Kita Menangkan: Gerakan Mahasiswa dalam Pusara Taktik Kolonial”
Sumber Foto : Istimewa

“Perang yang Memang Tidak Akan Kita Menangkan: Gerakan Mahasiswa dalam Pusara Taktik Kolonial”

“Jika kita tidak berada di bawah bendera yang sama, lantas kapan perang yang tidak berkesudahan ini bisa dimenangkan?” Beberapa waktu yang lalu, demonstrasi dilancarkan di berbagai daerah dengan membawa isu-isu yang dibuat oleh rezim terror ini. Di Bogor, Jakarta, Surabaya, dan beberapa daerah lain, demonstrasi dilancarkan oleh sekumpulan mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya sebagai seorang yang sadar akan keadaan dan juga sebagai bagian dari masyarakat. Seyogyanya ada beberapa kritikan yang ingin saya utarakan di sini mengenai aksi ini.

Pertama, mereka lupa bahwa gerakannya dapat dikatakan ambigu. Seperti yang tertulis di ihwal, cukup mafhum kiranya bahwa gerakan mahasiswa sekarang hanyalah membicarakan eksistensi mereka sendiri dan bukan lagi berbicara mengenai rakyat khalayak banyak.

Memakai almamater warna-warni seperti pelangi lalu mencampakkan kelompok yang lain karena mereka tidak beralmamater. Cukup heran sebenarnya, sepenting itukah almamater? Ini menjadi pertanyaan yang pertama. Jika berbicara mengenai sekuritas, harusnya kita bergandengan tangan satu sama lain, karena mereka (yang tidak memakai almamater) tentunya juga memperjuangkan yang sama. Jika untuk mengantisipasi rusuh, tentunya mereka juga paham kondisi dan mungkin juga lebih paham daripada kalian. Seharusnya yang patut kita semua antisipasi itu bagaimana rezim tiran ini mengawasi dan siap kapan saja untuk memprovokasi kita, bukan mereka yang berada di bawah bendera hitam. Apakah itu yang dimaksudkan membela nasib rakyat? Di mana kalian mengusir mereka yang mencoba berbaur dengan kalian. Bukankah itu berarti kalian sudah berada pada pusaran taktik pemecah belahan a la kolonial (bisa baca tentang taktik Snouck Hurgronje)?

Kedua, pada permasalahan yang disorot di media sosial mengenai kata-kata yang tidak pantas di saat demonstrasi kemarin, tak lain merupakan keruntuhan logika yang diakibatkan oleh eksklusivitas mereka sendiri. Seakan-akan mereka yang dilegitimasi sebagai seorang intelektual, maka semua tindakannya akan selalu dibenarkan oleh semua orang. Kalian perlu ingat, bahwa mahasiswa bukanlah Yang Maha, kawan.

Ketiga. Jika kita melihat demonstrasi di Surabaya kemarin (tulisan ini ternyata cukup banyak kritikan yah), maka kita dapat tahu dengan mudah satu pelajaran tentang kebersihan yang sudah diajarkan sejak TK dan SD itu tidak diterapkan dan dipakemkan di lubuk hati para mahasiswa. Ya, itu adalah masalah membuang sampah pada tempatnya. Ternyata, sekelompok remaja berumur 20-an yang percaya akan kemanusiaan dengan mengusung isu-isu kepentingan rakyat ini masih tidak paham tentang kebersihan. Banyolan ini cukup lucu. Bagaimana bisa kalian meruntuhkan rezim, jika hati dan pikiran kalian saja tidak bisa berfikir sejauh membuang sampah pada tempatnya.

Tak ketinggalan, suatu bentuk kemiskinan kajian di antara mahasiswa. Mengapa kalian masih percaya politik arus utama dengan sederet birokrasinya? Dan mengapa kalian langsung pulang di saat pernyataan kalian ditandatangani ketua DPRD Jatim? Bukankah sebenarnya Dewan Perwakilan Rakyat itu adalah komedi omong seperti yang dikritik oleh Semaun atas tindakan reformis Volksraad? Dan mengapa hingga sekarang masih tidak ada demonstrasi lagi? Apakah karena tuntutan kalian hanya ingin mengeluarkan ketua DPRD Jatim itu terpenuhi dan  pada akhirnya tidak ada peluncuran aksi yang lebih besar?

Ya, jawabannya bukanlah mencapai atavisme atau refleksi seperti yang dituliskan oleh Fajar Satriyo di kolom pembaca LPM Mercusuar. Karena sejarah akan terus bergulir dan semua berhak bereksperimen sendiri tanpa mengulangi. Apakah kita ini sebenarnya bigot romantisme aksi 66’ dan 98’? Padahal dengan nyata bahwa para mantan aktivis 98’ sekarang malah menyanjung-nyanjung politik yang konyol, dan mungkin nantinya kita akan mengalami penguraian idealisme yang dilakukan oleh belatung-belatung korporasi.

Apa yang kita harapkan dari masa lalu jika saja itu mengulangi dan meromantisirnya. Sudah jelas, pada aksi masa lampau itu tetap menggulingkan rezim yang lama dan menggantikannya dengan rezim tirani yang baru. Inilah gerakan kita dari masa ke masa, tetap eksklusif, tidak mau mendekat pada rakyat secara langsung, dan meromantisir aksi yang lampau tapi bebal terhadap sejarah gerakan mahasiswa. Padahal saja, perubahan adalah seperti beribu kepala di lapangan Tiananmen.

Lebih baik, untuk sekarang ini kita melakukan seperti apa yang dianjurkan Senartogok dalam lagunya yang berjudul Tauba, “Lebih baik memperjuangkan keluarga, hidup, dan sekitar secara konsisten (…) Menjalani hidup prolific setangguh Fatum Brutum Amorfati”.

Penulis : Alfian Widi Santoso

Editor : Balqis Primasari