Atavisme Demonstrasi Mahasiswa

Ingatan kolektif mengenai demonstrasi dalam kepala saya mengendap ketika pernah membaca buku Anak-anak Revolusi, berdiskusi dan berjejaring dengan beberapa senior yang berdemonstrasi pada tahun 98. 

Ingatan kolektif saya pun menyepakati pernyataan Goenawan Mohamad bahwasannya terdapat sebuah mitos yang turun temurun hingga masuk ke generasi saya bahwa jika mahasiswa turun ke jalan artinya keadaan sosial-politik sedang gawat, dan mahasiswa merupakan suara moral untuk mengingatkan, kalaupun bukan setidaknya untuk memperbaiki.

Mitos yang terekam mengenai demonstrasi mahasiswa begitu kental dengan semangat patriotik. Meski terkadang saya beranggapan cerita-cerita tersebut terkesan dilebih-lebihkan. Karena saya mengimani dan mengamini bahwa sejarah pada dasarnya ditulis oleh pemenang, dalam hal ini bukankah mahasiswa yang dikemudian hari juga menjadi elit politik yang memenangkannya.

Sedikit menarik mundur, pada tahun 1966 ketika Soekarno berhasil mundur atas desakan yang dikenal sebagai Tritura. Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) berisi mengenai pernyataan sikap yang menginginkan; 1) pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) 2) rombak kabinet Dwikora 3) penurunan harga akibat imbas Peraturan Presiden No.27.

Imbas berkepanjangan aksi demonstrasi selepas Tritura yaitu munculnya titah melalui Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) yang menunjuk  Soeharto untuk mengendalikan keamanan dan ketertiban negara. Melalui Supersemar, Soekarno secara berlahan dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden.

Lalu pada tahun 1998 muncul gerakan mahasiswa menuntut lengsernya pemerintahan Soeharto yang bersistem semi-militer dan otokratis. Gerakan mahasiswa pada masa itu akhirnya berhasil menggulingkan Soeharto yang sudah tiga puluh dua tahun berkuasa dan membuahkan periode reformasi yang dinilai lebih demokratis.

Lantas di masa sekarang bukankah semangat patriotik yang diemban oleh mahasiswa dalam melakukan demonstrasi harus diemban oleh generasi kita. Seperti halnya lari estafet, tongkat estafet itu saat ini digenggam oleh generasi kita.

Selama berstatus mahasiswa, saya mengikuti dua agenda besar demonstrasi yaitu reformasi di korupsi tahun 2019 dan omnibus law tahun 2020. Miris ketika dalam demonstrasi tersebut masih saja banyak oknum mahasiswa yang hanya mencari popularitas dengan membawa spanduk, poster ataupun atribut yang diluar konteks demonstrasi.

Hal tersebut terjadi kembali, ketika BEM SI secara serentak menolak narasi perpanjangan tiga periode Presiden. Masih saja berseliweran di linimasa sejumlah media sosial, oknum mahasiswa yang sekedar mencari popularitas bersukaria mengunggah spanduk, poster atau atribut “konyol”.

Sejarah memiliki sifat reflektif dari masa ke masa. Sebagai mahasiswa saat ini tentunya kita harus merefleksikan perjuangan dari proses sejarah yang telah diukir. Menumbuhkan sikap atavisme – pemunculan kembali sifat-sifat yang sudah lama tidak muncul pada generasi sebelumnya – pada mahasiswa generasi sekarang melalui ruang-ruang diskusi atau kajian yang harus rutin dilakukan sebelum menggelar aksi.

Melalui pemunculan ruang tersebut diharapkan setiap mahasiswa yang berdemonstrasi memiliki bekal, setidaknya mengetahui setiap tuntutan dan aspirasi yang nantinya akan disampaikan.

Kedepannya saya berharap ada puisi  Persetujuan Dengan Bung Karno karya Chairil Anwar diantara poster yang dibentangkan demonstran, “Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu”. Daripada tulisan, “Lebih baik bercinta  tiga ronde daripada harus tiga periode”.

Seyogyanya ada atavisme seorang demonstran pada diri kita.

Penulis : Fajar Satriyo

Editor : Balqis Primasari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *