Menanggapi Isu Nasional Terkini : BEM UNAIR Belum Mampu Menjadi Mercusuar Pergerakan

         Kerap kali diperdengarkan dengan teramat nyaring pada setiap kegiatan orientasi kampus bagi mahasiswa baru, bahwa fungsi mahasiswa antara lain menjadi agen perubahan (agent of change) kemudian melakukan kontrol terhadap kekuasaan atau kebijakan yang menyangkut orang banyak/hajat hidup rakyat (agent of control), menjadi sebuah kekuatan (agent of iron stock).

Namun agaknya hal itu seakan menjadi jargon semata dan belum terwujud hingga kini, yang terwujud kini mungkin hanya sekadar agent of paid promote saja. Sebagaimana yang kita tahu bahwa BEM UNAIR sebagai Badan Eksekutifnya Mahasiswa UNAIR yang mengemban tugas untuk mengorganisir dan memanajemen salah satunya adalah pergerakan mahasiswa, jika saya pribadi menilai belum puas sama sekali.

UNAIR sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkemuka dari Jawa Timur seharus- nya diikuti oleh pergerakan mahasiswanya yang seharusnya terkemuka juga. Jika kita ingin studi banding, coba kita lihat Official Account Instagram BEM UGM yang aktif menyuarakan isu-isu didalam kampus, lokal maupun nasional. Menyuarakan suara-suara mahasiswanya dan aktif melakukan kajian – kajian intelektual dan menjadi inspirator garda terdepan dalam pergerkan dan menyuarakan isu nasional.

Akhir-akhir ini negeri kita tengah dihantam dengan isu kelangkaan minyak goreng sehingga Ibu Megawati Soekarnoputri merekomendasikan cara lain untuk memasak dan salah satu partai mengadakan demo memasak tanpa minyak goreng. Antrian minyak goreng yang menyebar melalui media sosial itu terjadi dimana-mana. Per tanggal 1 April hari ini juga terjadi kenaikan BBM jenis Pertamax dari RP. 9.000,- kepada RP.12.500,-.

Berkenaan dengan itu, BEM UNAIR belum terdengar gaungnya dan kurang cepat/res-ponsif dalam menanggapi hal semacam itu. Hasil kajian atau statement secara kelembagaan juga belum keluar dari akun Badan Eksekutif Mahasiswa itu. Apakah memang kita harus diwakilkan oleh pengurus-pengurus semacam itu yang hanya diam melihat isu? Kami tentu berharap bahwa BEM UNAIR menjadi sebuah badan yang responsif.

Ironinya bahwa kampus adalah gudangnya akademisi. Jika bukan kita kemudian siapa lagi yang bisa berperan lebih untuk mencapai cita-cita nasional mencerdaskan kehidupan bangsa? Seharusnya BEM UNAIR sudah merilis hasil kajian ilmiah. Maka dari itulah perge- rakan kita selanjutnya berpijak, karena pergerakan memang produk intelektual, bukan grudak-gruduk belaka.

Kuliah tentu bukan sebatas pragmatisme untuk meraih pekerjaan yang lebih nyaman tanpa memikirkan kepentingan secara komunal. Berorganisasi juga tidak sebatas pragmatis- me untuk memperindah CV sehingga memperoleh kemudahan dikemudian hari. Tentu for- malisme-formalisme semacam itu penting untuk self branding dan seterusnya. Tetapi yang jauh lebih penting adalah kualitas, bukan formalisme / cap belaka.

Seharusnya BEM UNAIR paling tidak menjadi sebuah ikon/mercusuar pergerakan di Jawa Timur minimal. Letaknya yang berada di Ibukota Provinsi juga menambah legitimasi itu. BEM UNAIR adalah TOA masyarakat yang setiap bulan seharusnya bisa menyuarakan hasil diskusi orang-orang pintar dan akademisinya dalam menanggapi permasalahan komunal sehingga bisa menjadi pedoman bagi masyarakat dalam memandang sebuah isu yang berdasar atas kajian ilmiah. BEM UNAIR seharusnya juga turut serta untuk menginisiasi, sebagai badan inisiator pergerakan di wilayah Jawa Timur.

Teringat pergerakan dahulu ketika Bapak Susilo Bambang Yudhoyono masih menja- bat sebagai Presiden dan menaikkan BBM sedikit saja, demo mahasiswa berlangsung dimana- mana. Sekarang BBM Pertamax naik sedemikian besar, tetapi masih senyap saja. Agaknya kami juga turut prihatin ketika pergerakan mahasiswa di UNAIR seperti sekarang ini. Kami berharap dengan ditulisnya tulisan ini juga akan menjadi pengingat.

Tentu pergerakan tidak mesti dilakukan dengan demonstrasi banyak orang dan lain sebagainya. Apalagi ketika masa ini adalah masa pandemi yang juga turut menjadi pertimbangan. Tetapi bila boleh memberi sedikit masukan, tentu BEM UNAIR bisa kajian dengan melibatkan alumni atau bekerjasama dengan IKA UA atau akademisi UNAIR, atau instansi pemerintahan lain, setelah itu kemudian bisa melakukan inisiasi pernyataan secara lisan yang diwakilkan oleh bebrapa unsur mahasiswa se-Kota Surabaya semisal Ketua BEM Fakultas, BEM UNAIR, Kelompok Cipayung Plus dan bekerjasama dengan media-media baik lokal, nasional atau Media Universitas itu sendiri. Bisa juga melakukan doa bersama, Festival Puisi dengan melibatkan kawan-kawan FIB (mengkritik dengan sastra) sehingga pergerakan ini tidak terasa mati suri dan bisa muncul ke permukaan.

Penulis : Ahmad Rajul D.

Editor   : Primanda Andi Akbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *