Mengenal Hopehelps Unair, Lembaga yang Menangani Kekerasan Seksual di Kampus

Hopehelps adalah perkumpulan yang mengadakan layanan cepat tanggap di bidang kekerasan seksual dan berfokus untuk melayani warga kampus (civitas academica). Hopehelps berdiri didasari atas kasus kekerasan seksual yang menimpa seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) pada 2014. Pelaku kasus kekerasan seksual tersebut adalah budayawan bernama Sitok Srengenge.

Sebagai respons atas kejadian itu, didirikan posko pengaduan kekerasan seksual yang terpusat di UI. Namun, karena banyaknya pelapor dan tidak sedikit diantara korban kekerasan seksual yang berasal dari luar UI. Maka, didirikanlah Hopehelps secara resmi pada 17 Agustus 2017 untuk memenuhi kebutuhan layanan penanganan kekerasan seksual di kampus-kampus yang ada di Indonesia. Sebagai sebuah lembaga, Hopehelps adalah organisasi yang terikat pada jaringan (Hopehelps Network). Dengan begitu, terdapat pengurus-pengurus lokal Hopehelps di setiap kampus di Indonesia, termasuk di Universitas Airlangga (Unair).

“Hopehelps berdiri diawali karena terdapat kasus kekerasan seksual yang menimpa seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dan dilakukan oleh budayawan Sitok Srengenge pada 2014. Kemudian, atas kejadian tersebut didirikan posko pengaduan di UI. Namun, karena pelapor tidak hanya berasal dari UI. Maka, didirikanlah Hopehelps pada 17 Agustus 2017 untuk memenuhi kebutuhan layanan penanganan kekerasan seksual di kampus-kampus di Indonesia,” ungkap Nadaa Ramadhanty selaku pengurus Hopehelps Unair.

Sementara itu, Hopehelps Unair berdiri dilatarbelakangi dua alasan utama, yaitu adanya keinginan dari masyarakat kampus Unair dan dorongan dari pihak Hopehelps Network. Menurut Luh Made Khristianti Weda Tantri selaku inisiator, berdirinya Hopehelps Unair dimulai saat dirinya melihat di Universitas Brawijaya (UB) terdapat Hopehelps yang baru saja didirikan oleh mahasiswanya pada tahun 2020. Atas dasar itu, Weda (panggilan akrab) mulai getol menggagas agar didirikan pula Hopehelps di Unair. Perjuangannya dimulai pada Februari 2021 hingga akhirnya, Hopehelps Unair resmi didirikan pada April 2021.

“Berdirinya Hopehelps di Unair dikarenakan saya dulu melihat di UB sudah terdapat Hopehelps yang baru saja berdiri. Sehingga, saya tergerak juga untuk membuat Hopehelps di Unair. Langkah pertama saya dimulai pada Februari 2021 hingga akhirnya Hopehelps di Unair resmi berdiri pada April 2021,” tegas Weda.

Sebagaimana Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Hopehelps Network, Hopehelps Unair pun dikepalai oleh seorang Direktur Lokal yang dibantu oleh seorang Wakil Direktur Lokal, Sekretaris, Bendahara dan beberapa direktorat, seperti Direktorat Advokasi, dan lain sebagainya.

Dalam bekerja, Hopehelps Unair memiliki dua mekanisme kerja. Pertama, Hopehelps menerima kasus dengan pengaduan melalui hotline yang telah disediakan. Kedua, Hopehelps memiliki mekanisme untuk menjemput kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus. Selain itu, Hopehelps Unair juga turut melakukan pengawalan kasus, pendampingan korban, mengisi acara-acara tentang kekerasan seksual sebagai pembicara, narasumber, moderator, dan lain sebagainya.

Sebagai sebuah organisasi, Weda menyatakan Hopehelps Unair akan terus berkembang, berproses, dan belajar agar selalu bisa memberikan pelayanan kepada civitas akademika. Menurutnya, berdiri dan beroperasinya Hopehelps Unair akan sangat penting demi terciptanya kampus yang nyaman, aman, dan bebas dari kekerasan seksual, Akan tetapi, terwujudnya hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari dukungan masyarakat kampus terhadap Hopehelps Unair.

“Sebagai organisasi, Hopehelps Unair akan terus berkembang, berproses, dan belajar agar senantiasa selalu memberikan pelayanan kepada masyaarakat kampus. Berdiri dan beroperasinya

Hopehelps Unair ini sangat penting agar tercipta kampus yang nyaman dan aman dari kekerasan seksual. Tetapi, itu semua juga tidak bisa lepas dari dukungan masyarakat kampus,” tutur Weda.

Hopehelps Unair juga memberikan apresiasi kepada pihak kampus dalam tindakannya di bidang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kampus. Hal tersebut nampak dari peluncuran Buku Saku Standard of Procedure (SOP) Kekerasan Seksual di Unair. Selain itu, rencana pihak kampus untuk segera mendirikan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual sebagai perwujudan dari amanat Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga turut disambut baik oleh Hopehelps Unair. Hopehelps Unair akan turut mengawal tindakan-tindakan tersebut sampai Unair benar-benar menjadi kampus yang nyaman dan aman dari kekerasan seksual.

Penulis : Fredrick Binsar G. M.

Editor   : Primanda Andi Akbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *