Kelas MKWU Pancasila Disusupi Orang Asing

Pada Kamis (17/11/21) pagi tepatnya pukul 6:30 WIB, terdapat  sender dalam akun Atubase Twitter @airlanggafess mengunggah postingan mengenai adanya peristiwa penyusupan dari pihak tak dikenal ke dalam ruang kelas virtual MKWU Pancasila. Hal ini menjadi lebih menengangkan saat pelaku tak dikenal tersebut dengan berani menyalakan mikrofon dan berbicara dalam bahasa Inggris. 

Berdasarkan keterangan salah satu peserta mata kuliah tersebut, kejadian ini terjadi pada Rabu (16/11/21) pukul 09:00 WIB. Seperti pertemuan sebelumnya pada mata kuliah tersebut, mahasiswa harus mengikuti peraturan seperti menghidupkan kamera sebagai bukti presensi.

“Sebelum on cam saya melihat ada satu orang yang on cam tetapi memakai kostum seperti tentara dari luar negeri),” ujar Andika, bukan nama sebenarnya saat dihubungi melalui pesan Whatsapp pada Kamis (18/11)

Lebih lanjut, tak hanya menyalakan kamera, pelaku terduga ‘peretasan’ juga menghidupkan mikrofonnya dan diikuti oleh rekan pelakunya untuk memutar video yang berkaitan dengan salah satu organisasi saat Perang Dunia II, NAZI.

Ndak lama setelah itu dia tiba-tiba on mic dan ternyata ada teman lainya yang memakai VBG(Virtual Background, Red)-nya untuk memutar sebuah video NAZI atau Hitler kalau ndak salah,” ujar peserta mata kuliah tersebut.

Sebelumnya, prosedur untuk memasuki ruang kelas melalui situs preensi yang isediakan dalam HEBAT E-Learning terlebih dahulu. Menurut Andika, sulit dipastikan bahwa peristiwa ini murni peretasan atau ada yang menyebar link Zoom ke pihak lain.  

“Seharusnya jika mahasiswa ingin masuk Zoomnya harus absen terlebih dahulu sih, mungkin masalahnya itu link zoomnya ada yang bocorin, kalau ndak ya bisa saja di-hack gitu, saya juga kurang tau masih,” terang Andika. 

Lebih lanjut, Dosen pengampu dari mata kuliah tersebut yakni Maftuchah Rochmanti  mengaku bahwasannya melihat setidaknya tiga peserta Zoom yang tidak dikenal. Peserta atas nama Jrelli, Deverell, dan Aditya Kirana.

Pada awalnya, dosen pengampu MKWU Pancasila ini tidak menyangka bahwa ketiganya merupakan penyusup dan mengira hanya profile picture dari mahasiswanya. Senada dengan keterangan mahasiswanya, dosen yang juga alumni FK Unair 1992 tersebut juga bercerita bahwa keadaan kelas semakin riuh setelah peserta penyusup kedua atas nama Deverell mulai memutar sebuah video dan mengeluarkan suara seperti NAZI.

Saat mengetahui ada penyusup dan suasana kelas tidak kunjung kondusif, Maftuchah menghubungi Direktorat Sistem Informasi (DSI) sebagai pihak terkait. “Saya berusaha hubungi DSI untuk meminta host key supaya saya bisa mengeluarkan penyusup atau end meeting Zoom, tapi tidak bisa tersambung telepon ke DSI,” ujar Maftuchah melalui pesan WhatsApp pada Jumat (19/11).

Sambungan telepon Maftuchah ke DSI tak kunjung bersambut, Ia lantas memobilisasi mahasiswanya untuk meninggalkan ‘ruang kelas’. 

“Saya minta mahasiswa leave Zoom semua dan masuk lagi lewat Hebat E-learning lagi seperti semula, planning-nya kalau penyusupnya masuk lagi, kelas saya bubarkan lagi, dan buat akun Zoom sendiri. Tapi berikutnya penyusup sudah tidak muncul lagi,” terang Maftuchah. 

“Informasinya sudah diterima, tentunya sudah ditindaklanjuti. Berikutnya tidak mendengar ada penyusup lagi,” tandasnya menutup wawancara.

 

Penulis: Ehren Dean Mahanaim

Editor: Tata Ferliana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *