Zamzam, Nama Baru Terduga Kasus Vendor Jaket BEM Unair

Zamzam, Nama Baru Terduga Kasus Vendor Jaket BEM Unair

Kasus pengadaan jaket BEM Unair menjadi polemik dengan diunggahnya video oleh Menteri Ekonomi Kreatif BEM Unair 2021, Achmad Alak melalui akun Instagram pribadinya pada Rabu (16/6). Selain menyebut nama Widhi Arif sebagai vendor, Alak juga menyebut Kepala Staff Inspektorat Jenderal BEM Unair, Zinedine Reza dan Abdul Chaq, Presiden BEM Unair.

Kasus terus bergulir dan dua kali Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) mengadakan sidang terbuka. Namun, Zinedine Reza dan Abdul Chaq baru muncul pada sidang kedua yang berlangsung pada Rabu (23/6).

Pada momen ini, muncul nama baru ketika Abdul Chaq meminta forum untuk melakukan crosscheck pernyataannya melalui Menteri Keuangan BEM Unair, Sinyie Wulandari. Melalui sidang terbuka itu Sinyie menjelaskan alur peristiwa hingga kasus itu ramai di perbincangkan publik.

Menurut pemaparan Sinyie, Chaq memintanya supaya ditemani ke Dirmawa demi meminjam uang (2/6). Keesokan harinya uang telah dikirimkan oleh Dirmawa melalui Sinyie.

Pada Sabtu (5/6), Chaq meminta Sinyie untuk mencairkan uang tersebut ke dalam bentuk tunai. Sayangnya pada saat diminta bank masih tutup lantaran hari Sabtu. Sinyie pun menyarankan untuk mengambil uang pada hari Senin.

Senin (7/6) tiba, Chaq dan Sinyie mengambil uang pinjaman Dirmawa di Bank Mandiri Cabang Kampus B Unair. Sinyie sempat menanyakan alasan uang yang diminta Chaq diharuskan tunai, sebab menurutnya membawa uang tunai dalam jumlah besar lebih berisiko. Namun, Chaq berdalih itu keinginan vendor.

Malam harinya, Chaq mengajak Sinyie untuk bertemu dengan sang vendor pukul 20.00 WIB di Full Moon Cafe. Sinyie datang pukul 20.30 dan melihat Chaq sudah bersama temannya, Zamzam. Saat itu Sinyie mengira Zamzam adalah vendor baru lantaran tidak ada siapapun selain mereka berdua.

“Saya tidak melihat orang lain apakah vendornya belum datang atau temannya ini yang jadi vendor,” ujar Sinyie.

“Selanjutnya dijelaskan bahwasannya mas Zamzam ini yang akan mengerjakan jaket BEM,” lanjutnya.

Setelah melalui sedikit perbincangan, Sinyi menyerahkan uang senilai 20 juta kepada Zamzam tanpa membawa kuitansi dan tanda transaksi lainnya. Pada momen itu, Sinyie tidak menaruh curiga lantaran sama halnya pada saat pembuatan aplikasi ASA Unair, MoU dan invoice dibawa oleh pihak vendor.

“Terlebih dari pembekalan awal BEM, segala bentuk transaksi harus terdapat nota resmi yang dibuat oleh rekanan kerja sama bersama dengan NPWP/SIU untuk transaksi dengan nominal besar,” terang Sinyie.

“Juga pada pertemuan itu saya diberi uang 500 ribu dan saya menerima uang tersebut,” lanjutnya.

Di hari berikutnya, Sinyie bertemu dengan Risyad, Wakil Presiden BEM Unair untuk membicarakan program kerja lain. Pada pertemuan tersebut Risyad menyinggung permasalahan yang menimpa Alak sehingga Sinyie menceritakan kejadian itu kepada Risyad.

Delapan hari berselang, Selasa (15/6) Sinyie yang gelisah invoice tak kunjung diterima lantas menghubungi Zamzam. Namun, ia tak kunjung mendapat jawaban yang diharapkan. Zamzam berkelit akan segera dibuatkan, tetapi bukan darinya. Dengan jawaban tersebut Sinyie tetap menuntut supaya invoice segera diberikan padanya.

Lalu, pada Jumat (18/6) seusai Sinyie, Zined dan Chaq menjalin komunikasi melalui sambungan telepon perihal adanya undangan sidang terbuka dari DLM, Zined meminta untuk bertemu langsung. Siang itu juga sekitar pukul 12.30 Zined mendatangi tempat kos Sinyie bersama Zamzam.

Menurut penuturan Sinyie, mereka berbincang cukup panjang dan pelik. Sinyie diminta untuk memberikan tanggapan terhadap uang yang dipinjam dari Dirmawa dan tidak diperbolehkan untuk menjelaskan secara terang kepada siapapun.

“Saya dibimbing untuk mengarang cerita di mana untuk menghadirkan sosok palsu bernama Faisal sebagai vendor baru yang berasal dari Jombang, saya lantas menolak,” papar Sinyie

“Akan tetapi Mas Zined selalu mengatakan minta ditolong dan menjamin semua akan tetap aman ketika saya mengatakan hal tersebut,” imbuhnya.

Keterlibatan Zamzam dalam kasus ini juga disebut oleh Risyad melalui unggahannya di Instagram story sebelum sidang terbuka DLM kedua dilaksanakan.

Menanggapi hal itu, reporter LPM Mercusuar menanyakan hal tersebut kepada Risyad sehari setelah sidang berlangsung (24/6). Risyad menuturkan bahwa Instagram story tersebut diunggah setelah mengetahui fakta-fakta mengenai hubungan ketiga aktor tersebut dari Sinyie pada (14/6), sebelum Alak mengunggah videonya.

Malam hari setelah Alak mengunggah video, Rabu (16/6), Risyad menemui Zinedine dan Zamzam untuk meminta mengembalikan uang dari Dirmawa. Keterlibatan Zamzam juga telah diketahui Risyad sejak Sinyie bercerita Chaq meminta uang berbentuk tunai dan diberikan kepada Zamzam.

“Saat itu aku minta dua hal, selesaikan masalahnya dengan klarifikasi sejelas-jelasnya kepada publik, yang kedua uangnya dikembalikan, tetapi hal tersebut ditanggapi berbeda oleh Zamzam dan Chaq,” ujar Risyad melalui sambungan telepon Whatsapp.

Risyad menambahkan, mereka menginginkan memberikan klarifikasi publik secara politis demi menjaga nama baik, mengingat yang bersangkutan merupakan ‘petinggi’ BEM Unair.

“Yang kedua aku minta uangnya kembalikan, mereka selalu bilang uangnya ada, terus aku bilang kalau uangnya ada ayo diambil sekarang,” imbuh Risyad.

“Waktu itu aku minta uangnya dijanjikan Kamis, lalu Jumat, Jumat ndak bisa, Minggu, sampai sekarang nggak ada uangnya,”  tutupnya.

Rentetan kemunculan fakta-fakta baru tersebut tentu memunculkan tanda tanya besar perihal siapa Zamzam dan apa perannya dalam kasus pengadaan jaket BEM ini. Di sisi lain, kelanjutan laporan yang diajukan Alak masih ditunggu-tunggu kalangan mahasiswa dan diharap dapat menjadi solusi penyelesaian yang adil.

Penulis: Tata Ferliana
Editor: Risma D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *