Politik Tingkat Tinggi Kampus: Politik Kemahasiswaan

Politik Tingkat Tinggi Kampus: Politik Kemahasiswaan

Awan hitam pekat tengah menyelimuti Universitas Airlangga. Serentetan polemik yang mencuat mulai dari pemilihan ketua pelaksana AMERTA hingga pengadaan jaket BEM Universitas Airlangga adalah penyebabnya. Dua peristiwa memilukan itu sontak mengguncang sivitas akademika Universitas Airlangga bahkan bergulir liar tersiar dan nyaring didengar oleh publik.

Tulisan ini berupaya menawarkan perspektif politik kemahasiswaan atas kepulan kemelut yang membelenggu. Belenggu yang dimaksud adalah fakta kejadian, reportase kejadian oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di Unair, sidang Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) Universitas Airlangga, pernyataan sikap DLM pasca sidang. Dikatakan belenggu, karena dalam hemat penulis, seluruhnya terkesan samar. Mengapa? Karena belum ada yang menggaransi bahwa semua itu diungkap ke publik atas nama kejujuran dan secara jujur. Penulis menilai, kegaduhan yang berkembang berakar dari kontrak politik dan transaksi politik yang tidak menjumpai kesepakatan dan belakangan justru terkesan mengarah pada proyek transisi kepemimpinan politik.

Guna mengurai polemik yang begitu pelik ini membutuhkan dua variabel pendukung yakni teladan politisi mahasiswa dan jalan politik kemahasiswaan. Pertama, teladan politisi mahasiswa adalah sosok yang memiliki segenap integritas moral, intelektual dan politik. Entah siapa dan darimana asal latar belakang fakultas maupun organisasinya, yang pasti sosok itu harus memiliki pandangan dan sikap melampaui orang-orang yang sedang berkontestasi belakangan ini, yang secara moral, intelektual, dan politik senafas dengan spirit excellent with morality. Tiga aspek tersebut dapat diketahui sekaligus dinilai melalui track record kiprahnya di kampus; interaksinya dengan multipersonal yang baik secara privat maupun publik tidak ada perbedaan. Ketiadaan teladan politisi mahasiswa hanya akan memperkeruh keadaan sekaligus memaksa kebenaran terpasung secara politik.

Kedua, dengan menggunakan jalan politik kemahasiswaan yang menitikberatkan mahasiswa sebagai personal-personal yang memiliki BEM Universitas Airlangga (dan kampus) sekaligus menjadikan value excellent with morality sebagai pondasinya. Politik kemahasiswaan merupakan jalan politik berspirit excellent with morality yang hakikat tujuannya adalah kesejahteraan mahasiswa Universitas Airlangga. Politik kemahasiswaan berbeda dengan politik praktis kampus yang tujuannya adalah murni kepemimpinan politik beserta sumber daya kekuasaan untuk orang dan golongan yang mendukungnya; organisasi mahasiswa ekstra kampus, misalnya. Oleh sebab itu, jika jalan politik kemahasiswaan tidak ditempuh untuk menuntaskan polemik ini maka publik harus siap menerima konsekuensinya dengan lapang dada; jatuh di lubang yang sama.

Sikap Penulis: Amerta dan Jaket BEM Unair

Penulis tegas menolak adanya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, sebab tidak ada tradisi luhur dan agama manapun yang mengajarkannya. Namun sayang, fakta hidup berbicara lain, praktik-praktik tersebut ternyata banyak dilakukan oleh para pemegang kendali organisasi mahasiswa di Universitas Airlangga. Termasuk dalam polemik yang menggegerkan jagat Universitas Airlangga ini, dalam pengetahuan penulis, sangat minim dari kolega-kolega yang sedang berkontestasi dewasa ini, terlepas dari noktah prakik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Muhammad Abdul Chaq dan Zinedin Reza saja yang bernasib naas, karena “atraksinya” dibeberkan ke publik. Keduanya dan orang-orang yang berkaitan akhirnya ditelanjangi sambil dibombardir sumpah serapah tanpa ampun, bahkan oleh orang-orang yang tak mengetahui aktivitas yang dimainkan oleh aktor-aktor politik di balik layar dan motifnya mengorkestrasi polemik pengadaan jaket BEM Unair.

Disisi lain, nasib sedikit baik diterima oleh Muhammad Izzuddin atas gaduh pemilihan ketua pelaksana AMERTA, karena tak separah dan setelanjang Muhammad Abdul Chaq dan Zinedin Reza penghakiman publiknya. Padahal, kasusnya juga bernyawa praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Harusnya, publik mengawal kasusnya dan melakukan penghakiman yang sama, karena sama-sama melakukan praktik yang tak direstui oleh nilai agama dan tradisi luhur manapun/apapun.

Jangan sampai terlintas dalam kepala bahwa apa yang dilakukan oleh Muhammad Izzuddin dan kolegannya itu adalah suatu yang normal, jangan!!! Pengawalan dan penuntutan pertanggungjawaban atas pengadaan jaket BEM Unair dan pemilihan ketua pelaksana AMERTA harus sama! Jika berbeda, patut dicurigai (terutama oleh teman-teman yang tidak berorganisasi ekstra kampus) ada motif politik praktis terselubung yang memanfaatkan amunisi kemurkaan publik untuk meraup keuntungan bagi kelompok maupun individu. Memandang dua kasus ini, publik harus menelisik percaturan aktor-aktor politik yang bermain, perjudian politik yang sedang dimainkan.

Prinsipnya, ketika berani berbuat, maka harus berani bertanggung jawab. Muhammad Abdul Chaq, Zinedine Reza, Muhammad Izzuddin dan orang-orang berkaitan yang terlibat menciptakan kegaduhan ini seyogiyanya dengan keberanian moral mengakui kesalahannya (jika memang salah) sebelum “hal hebat lainnya” menghempaskan mereka tanpa tedeng aling-aling. Jikalaupun sulit karena gengsi secara politik, cobalah mengingat proses meraih tahta kekuasaan itu, apakah memang sesuai dengan koridor fair play; excellent with morality. Jika iya, kalian akan sulit mengakuinya, tapi jika tidak, maka tragedi ini haruslah dimaknai sebagai teguran dari Yang Maha Kuasa atas apa yang telah dilakukan sebelumnya. Ketika yang ditanam buruk, maka hasilnya pun buruk. Ketidakjujuran hanya akan semakin menghancurkan bangunan eksistensial personal yang telah dibentuk sedemikian elok oleh lingkungan pertama kali kalian hidup; keluarga.

Sikap dan rekomendasi politik penulis disini jelas dan tegas; pertama, menolak praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme di kampus. Kedua, mengajak sivitas akademika Universitas Airlangga untuk bersikap objektif dan adil terhadap dua kasus yang menggegerkan; pemilihan ketua pelaksana AMERTA dan pengadaan Jaket BEM Unair. Ketiga, mengajak seluruh pihak untuk yang berpolemik untuk jujur dan terbuka dalam proses penyelesaian kasus ini. Keempat, mengajak seluruh pihak, khususnya teman-teman yang tidak berorganisasi ekstra kampus untuk kritis atas fenomena yang terjadi dan terus berkembangan. Kelima, secepatnya menghadirkan pihak ketiga sebagai mediator yang independen atas polemik ini; kepolisian maupun pihak berwenang di kampus.

Penulis menolak diskursus yang berkembang ihwal adanya upaya transisi kekuasaan; kudeta kepemimpinan, penulis lebih mendorong pada perombakan metode pemilihan ketua dan wakil ketua BEM Unair; one man one vote. Penulis merekomendasikan agar BEM Unair dibekukan/vacuum of power, sehingga tersedia waktu dan ruang konsolidasi politik kemahasiswaan yang bisa dikerjakan oleh sivitas akademika Universitas Airlangga untuk memperbaiki muruah BEM Unair dan Unair. Jadi, perbaikannya menyeluruh, jangan setengah-setengah.

Sorotan dan Pesan Lainnya

Bagian akhir tulisan ini menguraikan sorotan dan pesan lainnya terhadap dua kasus  tersebut. Sorotan terkait sekuel-sekuel peristiwa yang penting dan harus dipahami publik, sekaligus menyampaikan pesan pada kawan-kawan yang sedang berada di arena kemelut pemilihan ketua pelaksana AMERTA dan pengadaan jaket BEM Unair.

Pertama, isu pecahnya koalisi BEM Unair. Pertanyaan yang menyeruak adalah, apakah isu perpecahan tersebut karena idealisme yang terusik atau karena buntunya negosiasi transaksi politik oleh pihak-pihak terkait? Publik patut jeli menelaah ini.

Kedua, pelepasan tanggung jawab oleh supporting sistem Muhammad Abdul Chaq. Penulis menilai “pelepasan” karena, bagaimana mungkin saat pencalonan hingga proses pembentukan struktur kepengurusan BEM Unair didukung dalam rupa ide, finansial, dan sumber daya manusia, namun saat tersandurng masalah seolah ditinggalkan(?). Secara politik memang ini dapat dimaklumi sebagai bagian dari dinamika kebijakan politik, namun sangat disayangkan.

Ketiga, dua orang yang sementara terlacak diduga terlibat dalam polemik pengadaan jaket BEM Unair adalah Zamzam Syahara dan Widhi Arif. Keterlibatan Zamzam Syahara terkuak berkat keterangan dari Sinyie Wulandari, sementara Widhi Arif  diketahui  berkat keberanian Achmad Alak membongkar tabiat buruknya. Sejauh ini, Widhi Arif diketahui telah membuat video klarifikasi, namun sayang, video tersebut justru memintal amarah publik lebih hebat lagi, karena ditengarai tidak dilakukan dengan jujur. Karena itu, dua orang ini harus segera memberikan statement publiknya secara jujur dan terbuka atas apa yang telah dilakukan. Kalaupun tidak, biarkan pihak kampus yang berwenang atau kepolisian yang menggelandang keduanya. Disorotan ketiga ini, barangkali kawan-kawan juga ada yang mengalami nasib serupa; ditipu, silahkan membuat laporan baik ke kampus ataupun ke kepolisian.

Keempat, apresiasi dan angkat topi dari penulis untuk Sinyie Wulandari yang secara jujur dan terbuka menceritakan kronologi upaya rekayasa cerita dan percobaan suap. Semoga pihak lainnya segera mengikuti jejak keberanian Sinyie Wulandari.

Kelima, apresiasi tinggi untuk teman-teman DLM yang cukup sigap melakukan pengawasan dengan menyelenggarakan forum untuk polemik pemilihan ketua pelaksana AMERTA dan sidang terbuka terkait pengadaan jaket BEM Unair. Namun, Pernyataan Sikap Sidang Terbuka No.008/DLM-A/UNAIR/VI/2021 menurut penulis terlalu tergesa-gesa, menggebu-nggebu dan tampak dipaksakan. Ketidaksepakatan penulis didasari, karena belum ada vonis resmi baik dari pihak kampus maupun kepolisian (menunggu proses pasca pelaporan). Proyek transisi politik; kudeta kepemimpinan itu berbeda dengan proyek menegakkan kebenaran dan menghukum kebathilan, jangan sampai ada anasir-anasir “hitam” dalam proses “penegakan hukum” ini. Oiya, menurut informasi Pres dan Wapres BEM Unair dua periode itu belum melakukan LPJ-an ya? Entah itu tanggung jawab DLM periode 2020 atau bukan, yang jelas, potensi penyalahgunaan kekuasaan dikepengurusan itu sangat mungkin terjadi.

Keenam, Muhammad Abdul Chaq adalah teman penulis sejak zaman terlunta-lunta di saat mahasiswa baru. Penulis tahu betul siapa Muhammad Abdul Chaq, Ia yang sekarang adalah bukan seperti yang penulis kenal dahulu. Banyak perubahan drastis, besar kemungkinan perubahan itu terjadi karena lingkungan pergaulannya. Pesan penulis ke Muhammad Abdul Chaq adalah agar bersikap jujur atas polemik yang menyeretnya berpijak pada nilai-nilai yang diajarkan oleh lingkungan keluargannya di Jepara dan mengkalkulasikan dengan matang sikap yang akan dilakukannya dengan mengacu pada doktrin organisasinya.

Terakhir, Saya Moch Sholeh Pratama, entah pembaca hendak memandang saya sebagai apa dalam tulisan ini; kader organisasi ekstra kampus, demisioner ketua BEM FIB 2019, calon ketua BEM Unair 2021, mahasiswa Ilmu Sejarah, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, atau apapun. Namun, yang pasti, tulisan ini adalah sikap politik kemahasiswaan dari saya. Tulisan yang mencoba mengingatkan kepada publik agar jeli dan kritis terhadap fenomena ini. Tulisan yang menegaskan permohonan kepada siapapun yang terlibat dalam penyelesaian kasus ini tidak menyelinapkan agenda politik praktis dengan memanfaatkan kemarahan publik untuk meraup keuntungan pribadi atau kelompok. Tetap satu komando dan satu tujuan, menghukum yang bersalah (dan sembari mengejar BEM Unair dua periode yang belum melakukan Laporan Pertanggung Jawabannya). Walaupun benci, tapi harus tetap adil!


Penulis: Moch Sholeh Pratama (Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *