Kronologi Dugaan Penipuan Pengadaan Jaket BEM Unair, Rugi Hingga Puluhan Juta

Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) dibuat gempar dengan video yang diunggah Menteri Ekonomi Kreatif BEM Unair 2021 melalui akun instagram pribadinya pada Rabu (16/6). Dalam unggahan tersebut, Achmad Alak menyebut jika pihaknya diduga telah mengalami penipuan atas pengerjaan jaket seragam BEM Unair.

Alak dalam wawancara langsung bersama LPM Mercusuar menyatakan kasus tersebut terjadi setelah kementerian Ekraf menjalankan program kerja tahunan untuk membuat jaket BEM Unair Februari lalu.

Diketahui, Zinedine Reza, Inspektorat Jenderal BEM Unair menjadi orang yang merekomendasikan tender kepada Alak. Setelahnya, Zinedine mengenalkan Widhi Arif Budiman kepada Alak yang mengaku sebagai perwakilan vendor.

Alak mengaku sempat bingung. Namun,  Zinedine mengerahkan pengerjaan jaket itu kepada Widhi Arif Budiman.

“Dalam menentukan pilihan vendor itu saya sebenarnya sempat bingung karena ada beberapa vendor yang justru harganya bersaing, namun saya diarahkan oleh mas Zinedine kepada mas Widhi,” ungkap Alak pada Rabu (16/6).

Kemudian, dengan terpaksa Alak menyetujui rekomendasi dari Zinedine disusul dengan penyusunan Memorandum of Understanding (MoU) antara Alak dan Widhi. Alak mengirimkan uang tanda jadi sebesar 3 juta dan pembayaran termin pertama sebesar 17 juta 40 ribu rupiah.

Dalam prosesnya, Widhi tidak berkomitmen dengan apa yang tertera pada MoU, sehingga Alak sempat meminta untuk datang ke tempat pengerjaan jaket. Mengetahui hal itu, Widhi tidak menghendaki, bahkan setelahnya ia tidak dapat dihubungi.

 “Saya meminta kejelasan pada Widhi dan Zinedine namun tidak ada solusi konkrit,” tambah Alak.

Ia mengaku telah meminta Zinedine dan Chaq untuk membantunya bertemu dengan Widhi karena petinggi BEM Unair itu yang merekomendasikan sekaligus mengenalnya. Akan tetapi, permintaan itu tidak kunjung dipenuhi.

Selanjutnya, Alak meminta Chaq untuk membantu mencari jalan keluar. Chaq memberikan opsi dengan melakukan peminjaman uang kepada Dirmawa demi mengganti uang yang hilang dibawa Widhi.

Dalam kondisi tersebut, Alak menolak lantaran merasa hal itu bukan langkah yang tepat untuk penyelesaian masalah, terlebih uang hasil pinjaman dari Dirmawa akan diganti menggunakan anggaran BEM.

Alak bersikeras menilai uang jaket yang dibayarkan melalui kantong mahasiswa itu harus jelas ke mana dan harus kembali.

“Opsi peminjaman uang kepada Dirmawa untuk mengganti uang yang dibawa lari oleh Widhi itu ditawarkan oleh Chaq dan Zinedine, namun saya bingung karena saya rasa uang jaket yang dibayarkan melalui kantong mahasiswa itu haruslah jelas kemana dan harus kembali,” tegasnya.

 “Saya juga sempat tanyakan cara untuk mengembalikan uang pinjaman Dirmawa itu, namun dijawab dapat ditutup dengan anggaran kegiatan proker yang lain. Saya rasa itu bukan cara yang baik,” imbuh Alak.

Namun, setelah Alak berkonsultasi dengan Dirmawa, ternyata dikonfirmasi bahwa Chaq telah meminjam uang sebesar 20 juta kepada Dirmawa dengan alasan kementerian Ekonomi Kreatif mengalami musibah.

Alak juga mendapati informasi bahwa uang tersebut telah cair kurang lebih sejak tanggal 3 Juni. Akan tetapi Alak mengaku tidak pernah menerima uang sebesar 20 juta sebagai biaya pembuatan jaket.

“Setelah saya berkonsultasi dengan Dirmawa, ternyata Chaq tetap meminjam uang dengan alasan Kementerian Ekraf terkena musibah dan mencairkan uang sebesar 20 juta,” jelas Alaq.

“Saya kecewa karena tidak pernah diberitahu dan tidak pernah tahu kemana uangnya sekarang. Setelahnya saya mencari dan menggali informasi tentang Widhi, Zinedine, dan Chaq, ternyata mereka semua saling mengenal dan teman dekat,” pungkasnya.

Tak kunjung mendapat titik terang, Alak pun melaporkan kejaddian tersebut ke Polrestabes Surabaya. Alak juga mengajak seluruh mahasiswa untuk turut mengawal kasus pengerjaan jaket BEM Unair agar tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.

Penulis: Primanda Andi Akbar
Editor: Risma D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *