Pad Man: Perempuan India Harus Keluar dari “Kekakuan” Tradisi

Pad Man: Perempuan India Harus Keluar dari “Kekakuan” Tradisi


“Hanya 7% wanita di India yang menggunakan pembalut. Saya ingin membuatnya 100%”
Lakshmikant Chauhan

Bila membahas tentang tokoh pahlawan, mungkin kita cenderung mengaitkannya dengan kisah fiksi heroik seperti Superman dan Ironman. Begitupun jika membicarakan penemu besar, nama Thomas Alfa Edison dan Nikola Tesla lebih dari sekadar familier di telinga. Namun ada seorang warga India biasa, yang hidup dalam garis kemiskinan, tetapi ia berhasil menciptakan inovasi yang menyelamatkan jutaan perempuan India. Ia adalah Laksmikant Chauhan.

Film Pad Man menceritakan kisah kehidupan Lakshmi yang menikahi seorang prempuan bernama Gayatri. Setelah beberapa hari menikah, Lakhsmi keheranan karena selama beberapa hari istrinya tidur di luar. Rupanya begitulah tradisi perempuan India ketika mengalami menstruasi. Selama masa itu, mereka akan tidur di luar, bahkan mengenakan kain kotor untuk menyerap darah menstruasi. Karenanya Lakshmi bernisiatif untuk membelikan istrinya pembalut, tapi ia harus mengeluarkan uang yang cukup mahal untuk satu bungkusnya saja. Ia menemukan betapa pentingnya kesehatan perempuan ketika menstruasi.

Sejak Lakhsmi menemukan masalah kesehatan pada istrinya, ia berinisiatif untuk membuat pembalut yang lebih murah dan higienis. Lakshmi mengalami kegagalan beberapa kali dalam eksperimennya sedangkan istrinya tidak mau membicarakan mengenai keadaanya ketika menstruasi karena dianggap tabu. Ia tak menyerah dan mencoba berhubungan dengan mahasiswi kedokteran untuk mengembangkan pembalut buatannya. Ia gagal lagi karena dianggap berselingkuh. Sekali lagi ia tidak menyerah hingga ia mendapatkan masukan mengenai pembalut buatannya. Laksmi mencoba membuatkan pembalut untuk perempuan yang menstruasi untuk pertama kali. Lagi, ia gagal karena menanyakan perempuan mengenai masa menstruasinya dianggap hal mesum dan tabu terlebih pada anak yang baru saja menstruasi. Sejak itu ia mencoba membuat pembalut secara diam-diam dan mencobanya sendiri. Namun tetap saja usahanya gagal dan ia ditangkap warga desa karena dikira mesum menggunakan pembalut perempuan. Lakshmi bahkan dipisahkan dengan istrinya oleh mertuanya. Akhirnya ia kesal dan marah pada semua orang di desanya yang sangat kaku terhadap tradisi dan tidak mau melihat betapa pentingnya kesehatan perempuan. Ia pergi begitu saja dari desa mencari peluang di luar kota.

Sejak peristiwa ia dipermalukan di hadapan banyak orang, Laksmi semakin serius dengan pembuatan pembalut. Sampai-sampai ia hutang uang 90 ribu rupe untuk membuat alat produksi pembalut. Hutang dan tenaga yang ia habiskan akhirnya terbayar. Di suatu hari ia bertemu dengan perempuan bernama Pari. Ia bertemu ketika Pari membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan pembalut. Kebetulan ia bertemu dengan Lakhsmi. Sejak itulah nasibnya membaik. Pari mengajak Lakshmi pada suatu kompetisi inovasi di Delhi dan keberuntungan menimpa Lakshmi. Ia memenangkan lomba tersebut dan mendapatkan uang 200 ribu rupe. Sejak itu pula produknya mulai dikenal di seluruh India dengan pembalut murahnya dan bisa dibeli siapa saja. Berkat inovasi yang ia temukan itu, Lakshmi mendapatkan penghargaan socialentrepenuer di berbagai negara sampai pada puncaknya ia diundang ke New York untuk berbicara di Markas PBB.

Kurang lebih begitulah alur ceita dalam Pad Man. Perjuangan Lakshmi dikemas dengan sederhana dan kocak. Jalan cerita yang memainkan emosi penonton dengan baik dengan membuat penonton turut tertawa dan bersedih. Tak hanya itu, penataan komposisi dan dinamisasi gambar memberikan kesan yang halus dan nyaman di mata.

Penulis: Ranau Alejandro
Editor: Baitiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *