Space Sweepers (2021): Ketika Sci-Fi Tak Lagi Minim Emosi

Space Sweepers (2021): Ketika Sci-Fi Tak Lagi Minim Emosi

Sumber: YouTube

Wacana manusia meninggalkan Bumi guna membentuk koloni baru di planet lain tidak berhenti menjadi ladang ide bagi film-film bertema luar angkasa. Berdampingan dengan upaya para ilmuwan menemukan tempat layak huni, layar sinema menghadirkan proyeksi kehidupan masa depan dalam bentuk yang lebih mudah dicerna. Setelah sekian lama film sejenis itu identik dengan Hollywood, Jo Sung-Hee—sutradara asal Korea Selatan—memperkenalkan karyanya sebagai blockbuster luar angkasa pertama Korea, Space Sweepers.

Setelah rilis pada 5 Februari lalu, film berdurasi 2 jam 16 menit ini cukup menarik atensi. Kehadiran nama besar Song Joong-Ki dan Kim Tae-Ri memang memberikan pengaruh besar, tetapi tidak adil rasanya jika menilai ketertarikan publik hanya pada sisi keaktoran. Nyatanya, selain menghadirkan CGI (Computer Generated Imagery) yang gagah, Space Sweepers juga menawarkan garis cerita menarik dan pengalaman menonton fiksi ilmiah yang berbeda.

Berlatar tahun 2092, Space Sweepers berkisah tentang sekelompok pemungut sampah antariksa sebagai efek samping pembangunan kehidupan manusia di luar angkasa. Tae-Ho (Song Joong-Ki), Captain Jang (Kim Tae-Ri), Tiger Park (Jin Seon-Kyu) dan Robot Bubs (diperansuarakan Yoo Hae-Jin) yang semula memburu satelit kedaluwarsa atau reruntuhan antena demi uang, tanpa sengaja bertemu dengan Dorothy (Park Ye-Rin), humanoid berwujud anak perempuan sekaligus senjata pemusnah massal. Karena hal itu, mereka masuk ke dalam kejaran dua pihak yang menginginkan Dorothy dan mengungkap propaganda bisnis kejam James Sullivan (Richard Armitage), pendiri UTS sekaligus pionir kehidupan manusia di Mars.

Space Sweepers bukan sekadar film adu tembak di galaksi Bima Sakti. Sebagai sutradara, Sung-Hee menghadirkan kegamangan dan emosi kompleks manusia pada tokoh-tokohnya: amarah, gembira, bingung, kecewa dan sedih berpadu memainkan perasaan penonton. Beberapa adegan melodrama pada sepanjang cerita membuat film ini terasa lebih dekat dan realistis. Cukup untuk menyamarkan kesan asing yang sering kali timbul pada sebagian audiens kala menyaksikan film berlatar masa depan.

Karakter manusiawi juga secara cermat disisipkan pada setiap tokoh terlibat. Alasan Taeho menjadi sangat materialistis, sisi penyayang dari Tiger Park yang notabene mantan gembong narkoba, mimpi besar Captain Jang hingga cita-cita Robot Bubs untuk berwujud semirip mungkin dengan manusia. Walaupun tentu saja terdapat beberapa hal minor yang terasa kurang dieskplorasi. Semisal identitas James Sullivan sebenarnya. Penonton bisa melihat bahwa sosok antagonis ini merupakan pebisnis yang mendirikan UTS, juga memahami pandangan Sullivan tentang keserakahan manusia. Akan tetapi makhluk apa tepatnya dibalik tubuh manusia Sullivan, tidak tereksplanasi dengan baik.

Di luar itu, Space Sweepers sangat layak untuk mendapatkan tempatnya sendiri di antara deretan film-film pendahulu. Baik sebagai blockbuster Asia maupun film berlatarkan antariksa. Bagi mereka yang mencari teori-teori rumit dalam fiksi seperti ditawarkan Interstellar, barangkali ini bukan pilihan tepat. Akan tetapi, jika ingin menemukan perpaduan apik fiksi ilmiah dan unsur drama, Space Sweepers layak dicoba.

Penulis: Fatimah Vitri Imania
Editor: Baitiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *