Situasi Klarifikasi Ketua BEM Unair 2018 Terkait Hilangnya Data Mahasiswa FPK (MERCUSUAR/Fitri)
Reporter : Lailatul Fitriani
Editor : Annisa Fitriani
Galuh Teja Sakti, Ketua BEM Unair 2018 sekaligus koordinator panitia pindah memilih Pemilu 2019 memberikan klarifikasi terkait kerancuan dan hilangnya data mahasiswa pindah memilih. Klarifikasi berlangsung di ruang C402 Fakultas Perikanan dan Kelautan, Kamis siang (18/04) yang dijembatani oleh Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) FPK.
Pada kesempatan tersebut, Teja yang didampingi oleh beberapa panitia pindah memilih menceritakan kronologi hilangnya data formulir A5 hingga alasan beberapa mahasiswa pindah memilih tidak bisa mencoblos. Sebelumnya, Teja menyampaikan bahwa dirinya hanya ingin memperjuangkan hak-hak mahasiswa rantau agar bisa mencoblos.
“Saya ingin memperjuangkan hak-hak anak rantau yang dulu tidak bisa mencoblos. Saya ingin memperjuangkan itu semua supaya teman-teman di sini bisa mencoblos. Tapi apadaya, saya hanya manusia biasa, panitia pun hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, di sini saya ingin mengklarifikasi apa yang terjadi,” tuturnya.
Data Mahasiswa FPK Hilang
Pada tanggal 1 Maret, panitia BEM Unair menutup pendaftaran pindah memilih. Hasilnya, setelah dilakukan perekapan selama sebelas hari terdapat sekitar 2700 pendaftar. Hingga pada tanggal 11 Maret, Teja menyerahkan semua data termasuk data mahasiswa FPK ke KPU. Setelah itu, KPU menyatakan data-data yang lolos. Teja pun menjelaskan bagaimana data bisa dianggap lolos dan tidak.
“Jadi, data yang tertera dalam format excel yang kita serahkan kepada KPU akan disamakan dengan data pada form kertas kecil-kecil yang mahasiswa isi diawal pendaftaran. Jika kedua data tidak sama maka akan dieliminasi,” jelasnya.
“Nah, permasalahannya, data pada kertas kecil-kecil teman-teman itu tidak ada. Padahal sudah kita sisipkan. Data excel itu juga sudah disisipkan di sana semuanya. Ternyata setelah dikembalikan, kita rinci satu-satu ternyata data yang kolektif-kolektif itu tidak ada, data teman-teman FPK tidak ada,” tambahnya.
Sebelumnya, Teja mengatakan bahwa dirinya telah mengumpulkan panitia BEM Unair dan menanyakan apakah telah mencatat data mahasiswa FPK. Salah satu panitia menjawab dengan yakin telah mencatat dan melakukan proses input data karena dirinya ingat ada fotokopi KTP mahasiswa FPK yang berukuran A4.
Akhirnya, panitia BEM Unair mengkonfirmasi kepada BLM FPK terkait data yang hilang dan meminta untuk mengirim ulang per tanggal 7 April. Teja pun menghubungi pihak KPU Surabaya dan PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) Mulyorejo terkait data yang hilang. “Saya menelepon KPU Surabaya jika data kolektif dari satu fakultas, yaitu FPK tidak ada dan bahkan petugas KPU mengingat bahwa ada fotokopian KTP berukuran A4 yang sudah diinputkan,” jelas Teja. Keesokan harinya, tanggal 8 April data mahasiswa FPK kembali dikirim ke panitia untuk segera diproses.
Data Mahasiswa Unair Tercampur Data Seluruh Warga Mulyorejo
Hingga tanggal 14 April, data form A5 milik mahasiswa Unair belum ada. Teja pun terus menanyakan kejelasannya. Sebelumnya, pada Jumat (12/4) Teja meminta data ke Kecamatan Mulyorejo, namun dokumen yang diberikan bukan form A5 melainkan dokumen berupa potongan kertas kecil.
“Saya mikir, form A5 itu bentuknya tidak seperti ini, tapi bapaknya bilang jika itu sudah benar. Lalu ada petugas KPU yang bilang jika itu bukan A5 dan dicarikanlah form A5 anak Unair. Ketika dicarikan itu ketemu hanya sedikit tidak sampai 1000. Setelah dicari lagi, akhirnya ketemu satu boks. Terus ada tambahan lagi. Ketika saya tanya kok banyak, Beliau mengatakan jika data mahasiswa Unair campur dengan data seluruh warga Mulyorejo dan beliau mengatakan tidak sanggup menyortir semuanya,” papar Teja.
Minggu malam (14/4) panitia BEM Unair pun menyortir satu per satu untuk memisahkan data milik mahasiswa Unair dengan data warga. Setelah dihitung, data mahasiswa Unair hanya sekitar 2400. “Saya langsung lapor ke KPU, tapi mereka menjawab tidak tahu karena itu tanggung jawab PPK Mulyorejo. Saya tanya ke PPK Mulyorejo. Mereka bilang pasti ada cuma itu datanya campur. Kita cari itu, tapi tetap datanya anak FPK tidak ada,” ungkapnya.
Form A5 tanpa Nomor TPS dan Kelurahan
Jumat (12/4) Teja sempat bersitegang dengan PPK Mulyorejo terkait data yang belum selesai-selesai. Pihak PPK mengatakan siap bertanggung jawab jika sampai ada data yang hilang. “Ternyata beneran kejadian. Minggunya, data morat marit. Ada yang sudah tertera nomor TPSnya, ada yang belum, ada juga yang tidak tertera kelurahannya. Ketika ditanyakan, PPK menjawab itu urusannya KPU. Saya heran kok dilempar-lempar. KPU bilang PPK, PPK bilang KPU,” ujar Teja.
Ketika Teja menanyakan nasib mahasiswa yang form A5 nya tidak ada nomor TPS maupun kelurahannya, PPK menjawab bisa memilih bebas atau pindah tempat saja. “Yowis, Mas, sampean cari, sampean bisa memilih bebas itu atau pindah sana ke Sukolilo.”
“Saya bilang kalau saya dapat mandat dari KPU Surabaya untuk ke Mulyorejo. Dan beliau jawab kalau beliau berhak menolak. Loh, ya saya katakan kalau panitia atau pejabat KPU tidak berhak menolak data dan mempersusah teman-teman yang hendak memilih,” pungkas Teja.
Akhirnya, PPK Mulyorejo memfasilitasi Ketua BEM Unair 2018 untuk bertemu PPS (Panitia Pemungutan Suara) Mulyorejo dan disepakati bahwa mahasiswa Unair yang belum ada nomor TPS dan kelurahannya dapat mencoblos di kelurahan yang ada di Mulyorejo namun menjadi pilihan terakhir.
Dalam klarifikasinya, Teja juga menyebutkan ada beberapa kejanggalan. Pada Selasa (16/4), Teja kembali mencari data mahasiswa yang hilang ke KPU Surabaya dari jam 12 siang hingga jam 8 malam. Bu Ani, salah satu panitia mengatakan bahwa data milik mahasiswa Unair sudah diserahkan dari tanggal 10 April ke PPK Mulyorejo, tapi Teja baru diberi datanya pada Minggu (14/4).
Bu Ani juga mengatakan bahwa data yang dikirim sudah sesuai abjad untuk memudahkan, namun data yang diterima Teja tidak berurutan. “Mas, kemarin itu sudah saya urutkan datanya dari A-Z satu kardus biar sampean mudah karena saya juga alumni Unair, saya memudahkan teman-teman Unair juga,” ungkap Bu Ani seperti dituturkan Teja. Dari pencarian yang dibantu KPU Surabaya, ketemu lah 50 dari 350 data.
Teja mengatakan telah melapor kejadian ini kepada Bawaslu Surabaya dan telah diproses. “Kemarin Bawaslu juga menentukan kebijakan bagi siapapun yang ingin mencoblos bisa menggunakan E-KTP. Jadi saya umumkan itu,” ujar Teja.
Terakhir, Teja meminta maaf kepada seluruh warga Unair terutama mahasiswa FPK. “Kami sudah mengusahakan. Dengan kerendahan hati, saya minta maaf terutama kepada mahasiswa FPK dan seluruh warga Unair. Saya siap dikritik karena ini tanggung jawab saya,” tutupnya.