Oleh : Aisyah Ananda
Angkasa abu, merpati besi, dan selongsong peluru
Granat bundar menyaru serupa batu
Lubang tembakan di dinding seindah pola sofa beludru
Debum ledakan, gaung bangunan runtuh, pekik tangis terdengar selazim lagu
Serbuk mesiu terayak angin bersembunyi di antara pasir
Moncong senapan terjaga waspada menunggu pelatuk dipantik
Sembilu di hati mengoyak habis semua harap sisa kemarin
Ditumpuk lagi ditumpuk, benih rasa untuk bertahan esok hari
Tertumpuk lagi tertumpuk, mayat-mayat dengan daging terkoyak dan hilang nadi
Oh Tuhan…
Agaknya warta kami kurang miris didengar, hingga dongeng ini sering tidak terhiraukan
Bagian mana lagi penderitaan yang harus didefinisikan?
Perlukah kami tuturkan jumlah rumah yang diterjang kemunafikan?
Besaran rasa putus asa yang hanya mampu digambarkan oleh tetes air mata?
Atau mesti kami tulis ulang sejarah terkutuk ini dengan darah saudari yang dihunus kerambit tajam pada sebuah pilar berlafal Tuhan?
Kalian tidak memberi kami banyak kesempatan
Jika saja kebenaran berlidah tajam
Sudikah engkau menyediakan sedikit waktu untuk menambal luka dan menyulam bilik perlindungan?
Kami sendiri, membisiki nyanyian semangat untuk bisa berdiri
Berdetak dalam sempit berontak dalam cekik
Buih-buih khayalan mengasuh benak tetap pulih
Sekalipun angan tergantung tinggi di langit kusam ataupun busuk membumi
Biarkan kami hidup! Seperti manusia lain yang bervisi
Jikalau terlalu utopis pikiran ini
Maka bunuhlah kami ketika jenuh mulai mengecup sendi untuk memerangi