Oleh : Naima Janatin Akbar

Sore itu langit tampak gelap dan hitam. Maklum, gerimis baru saja reda. Di stasiun Paron. Orang-orang berlalu lalang masuk ke ruang tunggu datangnya kereta api. Suasana perpisahan di setiap sudut stasiun semakin kental. Termasuk suasana perpisahan antara aku dengan mas Anjar. Aku biasa memanggil mas Anjar dengan nama mas An.

            Kereta api yang akan dinaiki mas An belum datang. Tapi suasana perpisahan antara aku dengan mas An semakin kental.

Aku sedih. Aku tidak akan bertemu dengan mas An selama setahun. Setahun bukan waktu yang cepat. Sebenarnya tidak hanya aku dan mas An yang sedih. Orang-orang di dekat kami yang akan naik kereta api dan keluarganya yang mengantarkannya juga terlihat sedih karena merasakan suasana perpisahan.

            Matamu menatapku dengan dalam. Aku hanya seperti patung dalam beberapa waktu. Aku tahu, kamu berusaha menguatkan hatiku. Tapi aku ini perempuan, pasti saja jika aku lebih mengutamakan hatiku daripada otakku. Bagiku, sore itu adalah kematian kecil.

            Kamu meraih tanganku dengan pelan. Tanganmu terasa dingin. Hatiku bergetar.   

“Aku…” suaramu tiba-tiba berhenti.

            “Aku pasti pulang, dhik Rena.”

            Aku berusaha memahami kata-katamu. Wajahku menunduk memandangi sepatuku yang kusam. Ah, kusam seperti hatiku sore itu. Sekarang begini saja, siapa yang tidak sedih jika akan berpisah dengan kekasihnya?

            “Mengapa harus ke Jakarta, mas?”

            “Ini sudah jadi pilihanku, dhik. Pulang dari Jakarta aku berharap akan bisa membahagiakan orang tuaku, keluargaku, orang tuamu, keluargamu, dan membahagiakan… kamu.”

            Mas An tersenyum. Senyumnya mas An aku rasakan sebagai senyum paling manis dari sebelum-sebelumnya. Aku lalu menyunggingkan senyumku yang paling manis.

            Ting… Tong… Ting… Tong… Ting… Tong… Bel stasiun berbunyi. Kereta api yang akan dinaiki mas An segera datang. Orang-orang yang akan naik kereta api semakin mendekati tempat berhentinya kereta api. Tapi mas An masih diam di depanku, dan memikirkan kata-kata yang tepat untuk perpisahan sore itu.

Kamu terlihat bingung, lalu membuka tasmu. Ada yang kamu cari di dalam tasmu. Tak lama kemudian, kamu mengeluarkan sebuah barang.

            “Aku titip ini ya, dhik.” suaramu berat.

            “Bunga edelweiss?” tanyaku bingung.

            “Ya, ini bunga edelweiss dari gunung Merbabu. Satu bulan yang lalu saat liburan, aku bersama sahabat-sahabatku mendaki gunung Merbabu. Aku punya dua edelweiss. Yang satu aku bawa, lalu yang satu aku titipkan ke kamu. Anggap saja ini separuh hati,”

            Aku mengangguk.

            “Aku akan sakit jika hanya hidup dengan separuh hati, mas.”

            Tanganmu lalu menggenggam tanganku dengan lembut.

            “Aku yakin jika kita kuat menghadapi ini. Separuh hati ini akan mendekatkan kita. Yakin saja ya?”

            “Ya, mas.”

            Apa ini yang dinamakan rasa cinta? Sampai-sampai kita berusaha untuk mendekatkan hati kita. Tiba-tiba kita sadar, kita telah menjadi tontonan banyak orang. Orang-orang memandangi aku dan mas An dengan rasa sedih. Tak lama kemudian, mas An berangkat ke Jakarta naik kereta api. Air mataku keluar, mataku basah.

            “Aku pasti kangen kamu, mas.” ucapku dalam hati.

***

            Separuh hati itu aku jaga dengan baik, seperti aku menjaga diriku sendiri. Separuh hati itu memang ringan, tapi tanggung jawab saat membawanya berat. Memang, jika rasa kangenku tiba, aku hanya bisa menggenggam separuh hati itu dengan kuat-kuat. Dan benar! Jarakku dengan mas An ada 633 kilometer, tapi aku merasa jika hatiku dan hatinya mas An terasa dekat. Apa benar jika cinta menjadikan jarak yang jauh menjadi dekat? Apa ini benar-benar dinamakan rasa cinta?

Terkadang, separuh hati itu aku ajak bicara.

            “Mas, kamu di Jakarta sedang apa?” tanyaku ke separuh hati itu.

            “Mas, aku ingin kamu pulang ke Ngawi. Mas, aku ingin bertemu denganmu.” ucapku ke separuh hati itu.

            Tapi separuh hati itu tidak menjawab apa-apa dan tidak bergerak sedikit pun.

            Separuh hati itu sering aku bawa kemana-mana. Saat kerja, aku membawa separuh hati itu. Saat bermain ke rumah teman, aku juga membawa separuh hati itu. Bahkan aku sudah berkali-kali membawa separuh hati itu saat di kedai kopi sendirian. Aku bicara apa saja dengannya.

            “Hari ini langit di Ngawi terlihat indah. Di Jakarta keadaannya bagaimana, mas?”

            Separuh hati itu hanya diam. Orang-orang di kedai kopi banyak yang bingung dengan aku. Tapi aku tidak peduli. Ini memang urusanku dengan rasa cintaku.

            “Mbak, anda sedang bicara dengan siapa?” tanya salah satu perempuan setengah baya di kedai kopi.

            “Aku sedang bicara dengan separuh hati, mbak.”

            “Maksudnya?!!”

            “Separuh hati ini aku bawa, lalu separuh hati yang lain dibawa oleh kekasihku yang sekarang sedang ada di Jakarta.”

            Perempuan setengah baya itu semakin bingung. Tidak lama kemudian, ia mundur pelan-pelan lalu pergi. Aku sudah sering mendapat pertanyaan seperti itu.

            Semakin lama, banyak orang yang menganggap aku gila. Orang-orang memang ada-ada saja. Aku tidak gila kok dibilang gila.

            Sebenarnya tidak hanya orang lain. Keluargaku sering bingung jika aku berbicara dengan separuh hati itu. Keluargaku juga menganggap aku gila. Keluargaku bahkan sudah berkali-kali menyuruhku untuk membuang bunga edelweiss itu. Keluargaku tidak ingin jika aku semakin gila. Tapi menurutku, aku ini tidak gila. Aku hanya kangen mas An.

            Aku yakin jika mas An juga kangen ke aku. Hari-hari semakin bertambah. Pasti saja mas An akan pulang menemui aku. Tapi bagaimana jika mas An tidak akan menemui aku? Ah, itu tidak mungkin.

***

            Tanggal-tanggal yang tercetak di kalender terus berganti. Rasa kangenku semakin kental. Setahun ini mas An jarang memberi aku kabar. Mengirim surat hanya sekali. Di surat itu tertulis tentang Jakarta yang indah dan enak sebagai tempat mencari uang. Aku sedih. Mengapa mas An tidak membahas tentang cinta dan separuh hati? Sebenarnya ada apa dengan mas An? Apa mas An masih cinta ke aku?

            Separuh hati itu semakin kusam, sama seperti keadaan hatiku sekarang. Aku takut. Apa mas An benar-benar bisa hidup dengan separuh hati? Aku di sini saja merasa berat karena hidup dengan separuh hati.    

            Pikiran-pikiranku semakin buruk. Hari-hari kemudian aku rasakan semakin sulit. Aku semakin lelah menjaga separuh hati itu. Semakin lama, kamu semakin terasa jauh dari aku. Sebenarnya ada apa, mas?

            “Semoga kamu baik-baik saja, mas. Doaku selalu ada buatmu.”

            Aku masih menjaga separuh hati itu dengan baik.

***

            Setahun lebih enam bulan dari pertemuanku dengan mas An di stasiun Paron. Sekarang sudah benar-benar beda. Sekarang sudah tidak sama dengan dulu. Tiba-tiba aku sadar jika aku memang gila. Aku menangis karena menyadari kegilaanku ini.

            Setiap orang memilih jalan hidupnya masing-masing. Aku di sini, ternyata belum bisa sepenuhnya memahami jalan hidup mas An. Jalan hidupku di Ngawi, sedangkan jalan hidup mas An di Jakarta. Jalan hidup setiap orang sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Malam itu, setelah kamu bekerja selama setahun lebih enam bulan, Fani sahabatku datang ke rumahku. Memberi sebuah kabar. Beberapa hari yang lalu mas An memberikan bunga edelweiss kepada istrinya secara utuh. Ya, kini mas An sudah resmi memiliki istri.

            “Sabar, Ren. Pasti ada jodoh yang lebih baik untukmu,” ucap Fani.

            “Ya, fan. Yang sudah resmi jadi istrinya saja masih bisa ditinggal, apalagi aku yang belum resmi jadi istrinya.” jawabku.

            Aku sudah tidak bisa menjaga lagi separuh hati dari mas An. Aku lalu membuang separuh hati itu. Aku lalu membuang kegilaanku.

            Aku harus kuat menghadapi ini. Aku yakin, jodoh akan memberi aku hati yang utuh, tidak hati yang hanya separuh.

            Separuh hati itu telah mati. Kisah cintaku dengan mas An selesai sampai di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *