Sumber Gambar: knowyourmeme.com
Tidak jarang kita menemui unggahan di sosial media yang membahas tentang “fakta-fakta” kepribadian seseorang berdasarkan tanggal dan bulan lahir. Sampai-sampai ada yang menjadikan gimmick kepribadian tersebut sebagai representasi diri mereka yang sebenarnya, bahkan juga pada orang lain. Dasar-dasar kepribadian ini diambil dari pengetahuan astrologi atau lebih tepatnya horoskop.
Astrologi merupakan sebuah praktik spiritual dan ilmu pengetahuan yang mencoba memahami dan menjelaskan hubungan antara posisi benda ekstraterestrial dan kehidupan manusia di bumi. Astrologi melibatkan pengamatan posisi benda langit dan interpretasi dari pergerakan dan hubungan antara benda-benda tersebut. Melalui pengamatan dan interpretasi tersebut, astrologi menghasilkan keterangan tentang karakteristik, kejadian dalam hidup, hubungan, hingga masa depan manusia. Salah satu praktik astrologi yang paling terkenal adalah pembacaan horoskop, yaitu praktik yang mencoba untuk memberikan gambaran umum tentang kepribadian dan masa depan seseorang berdasarkan tanggal lahir dan posisi benda-benda langit pada tanggal tersebut. Astrologi berawal dari zaman kuno dan ditemukan pula dalam budaya-budaya kuno seperti Mesir Kuno, Yunani Kuno, dan Romawi Kuno.
Praktik astrologi dipraktikkan oleh hampir seluruh orang di dunia. Hal ini karena bebasnya perkembangan interpretasi orang-orang terhadap astrologi, sehingga astrologi mampu mempenetrasi budaya, entertainment, hingga pop culture dari berbagai kalangan. Bahkan, banyak majalah dan media sosial yang berisi pembahasan mengenai sifat berdasarkan zodiak. Zodiak merujuk pada posisi matahari di antara konstelasi bintang pada saat seseorang lahir. Ada dua belas macam tipe zodiak yang kita ketahui, seperti Aries, Taurus, Gemini, Scorpio, dan lainnya. Setiap zodiak digambarkan memiliki karakteristik umum dan karakteristik unik. Kedua karakteristik inilah yang menjadi tanda kecocokan seseorang dengan zodiak yang dimilikinya. Karakteristik-karakteristik inilah yang membuat pembahasan mengenai zodiak menjadi menarik bagi khalayak dari berbagai platform, pasalnya ada beberapa yang merasa cocok mengenai zodiak dan karakteristiknya, meskipun ada juga yang melenceng jauh. Dari sinilah astrologi menghasilkan deskripsi umum tentang kepribadian seseorang, seperti kelebihan dan kekurangan, preferensi dan kecenderungan, bahkan juga prediksi masa depan.
Jika kita menggunakan rasionalitas dan logika sejenak, tidak ditemukan adanya korelasi atau kausalitas antara penempatan benda langit dengan karakter seseorang. Karakter dan kepribadian seseorang adalah hal yang dinamis, yaitu sesuatu yang berubah-ubah dan terbentuk dari banyak faktor, seperti lingkungan dan pengalaman hidup yang bisa terus berubah seiring dengan berjalannya waktu. Para ilmuwan juga sepakat bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa sifat seseorang tergantung pada zodiak mereka. Banyak penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa astrologi tidak dapat dipercaya sebagai metode yang akurat untuk memprediksi kepribadian atau masa depan seseorang. Ketidakkonsistenan zodiak dalam menggambarkan kepribadian seseorang menghasilkan keraguan yang besar dalam penelitian yang bersifat ilmiah.
Ada beberapa alasan mengenai sifat-sifat zodiak yang bisa mirip dengan kepribadian kita, yaitu karena adanya bias konfirmasi yang menyamakan karakter yang sama pada zodiak tertentu dengan yang ada pada diri kita dan menutup mata pada karakter lainnya yang tidak sama. Sehingga, situasi tersebut akan menciptakan kondisi semu bahwa zodiak mampu mewakili karakter kita. Bahasa yang digunakan pada pembahasan zodiak cenderung terlalu luas dan samar, sehingga konklusi dan interpretasi akhir diserahkan kembali kepada pembaca mengenai karakternya. Diksi yang digunakan juga cenderung mengarahkan pembaca ke arah ketidakpastian, seperti kata “kadang” yang seringkali menempati barisan kalimat mengenai pembahasan karakter dan zodiak.
Penjelasan mengenai kenapa banyak orang mengadopsi astrologi memiliki banyak variasi jawaban. Menurut Keinan Giora, seorang ahli psikologi menyatakan bahwa ketika masyarakat atau individu berada di bawah tekanan atau ancaman, orang-orang lebih cenderung beralih ke astrologi dan kepercayaan epistemis lainnya yang tidak berdasar. Ada pula jenis individu yang cenderung lebih mudah percaya kepada astrologi. Ida Andersson, seorang akademisi dari Lund University melakukan riset bahwa individu dengan karakteristik yang narsistik cenderung lebih percaya terhadap astrologi. Ditambah lagi dengan kerangka kalimat pembahasan yang menggunakan kalimat dengan konotasi positif, maka perasaan tervalidasi pada seseorang yang narsistik akan cenderung naik.
Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri meski astrologi bukan sebuah ilmu, namun Astrologi mampu menjadi sebuah alat bersosialisasi yang bagus. Bercanda sambil membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan astrologi tentu menjadi cara yang bagus untuk bersosialisasi. Menjadi suatu kesalahan jika mengasumsi buta kepribadian seseorang berdasarkan hal yang tidak bisa mereka kontrol, dalam hal ini adalah waktu kelahiran. Suatu kesalahan pula jika melimitasi diri sendiri untuk terlalu memvalidasi apa yang dibahas oleh astrologi. Manusia adalah makhluk yang dinamis, tidak bisa dikotak-kotakan secara pasti karena setiap individu pasti memiliki keunikannya sendiri.
Penulis: Nico Gilang
Editor: Fira Ila Maula