September Hitam merupakan sebuah sebutan untuk bulan September karena sepanjang bulan tersebut terdapat tragedi-tragedi kelam, khususnya pada pelanggaran Hak Asasi Manusia yang ada di Indonesia, yaitu Kasus Pembunuhan Munir, Tragedi Tanjung Priok, Tragedi Semanggi II, dan masih banyak lagi. Pada September Hitam ini, bermunculan aksi serta pergerakan untuk terus memperjuangkan kasus-kasus yang belum tuntas. Hal tersebut sebagai bentuk upaya keadilan bagi keluarga korban yang ditinggalkan atau para masyarakat sering menyebutnya “Menolak Lupa”. Gerakan September Hitam tidak hanya dilakukan oleh pihak keluarga korban, tetapi makin ke sini masyarakat melek akan pentingnya Hak Asasi Manusia sehingga muncul pergerakan-pergerakan dari organisasi maupun mahasiswa. Salah satunya, September Hitam yang dilaksanakan di Pelataran Patung Garuda Mukti Kampus C Universitas Airlangga.

Pada September Hitam tersebut mengusung tema “Menggali Kubur Histori Tragedi Pelanggaran HAM Berat” kegiatan tahunan ini diadakan oleh kolaborasi HRLS FH Unair, AMNESTY Chapter Unair, Aksi Kamisan Surabaya, dan BEM Unair untuk mengenang kejadian-kejadian pelanggaran berat HAM Indonesia di masa lampau. Tak hanya itu, rangkaian dari September Hitam tidak hanya berupa orasi, tetapi ada sebuah penampilan dari Komunitas Titik Nol yang mengemas sastra di dalamnya untuk menyampaikan pesan terkait sebuah keadilan serta memperjuangankan Hak Asasi Manusia di negeri ini.

Komunitas Titik Nol merupakan komunitas Sastra yang berada di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Awal berdirinya komunitas ini bertujuan hanya untuk membahas seperti bedah buku atau kritik sastra pada film, juga sebagai wadah menampung karya berupa tulisan. Namun, semakin banyak anggota yang mempunyai keahilan untuk pentas, seperti membaca puisi, bermain alat musik, dan lain halnya, menjadikan Komunitas Titik Nol berkembang menjadi sebuah komunitas yang bisa menampilkan sebuah musikalisasi puisi sekaligus menvisualisasikannya. Penampilan Komunitas Titik Nol pada September Hitam kali ini adalah musikalisasi dan visualisasikan puisi Wiji Thukul yang berjudul “Istirahatlah Kata-Kata”.

istirahatlah kata-kata

jangan menyembur-nyembur

orang-orang bisu

kembalilah ke dalam rahim

segala tangis dan kebusukan

dalam sunyi yang meringis

tempat orang-orang mengingkari

menahan ucapannya sendiri

tidurlah, kata-kata

kita bangkit nanti

menghimpun tuntutan-tuntutan

yang miskin papa dan dihancurkan

nanti kita akan mengucapkan

bersama tindakan

bikin perhitungan

tak bisa lagi ditahan-tahan

Puisi Wiji Thukul yang berjudul “Istirahatlah Kata-Kata” dipilih sebenarnya menyesuaikan kebutuhan dan kondisi September Hitam dalam rangka mengheningkan cipta. Sajak tersebut bukanlah tanda menyerah, tetapi hanya berhenti sejenak untuk kemudian bergerak lagi. Pun diksi “kata-kata” yang dekat sekali dengan kami sebagai komunitas sastra” ujar Jibril atau kerap sering dipanggil Mas Jai selaku Koordinator Komunitas Titik Nol terkait pemilihan puisi Wiji Thukul tersebut.

Penampilan dari Komunitas Titik Nol membuat para penonton terdiam takjub dengan alunan gitar pada malam hari disertai lantunan yang menyayat hati dari puisi Wiji Thukul dan visualisasi seseorang yang bisu menghampiri para penonton menjadi daya tarik tersendiri. Pembawaan “Istirahatlah kata-kata” sukses ditampilkan oleh Komunitas Titik Nol tidak berupa musikalisasi puisi tetapi sekaligus dengan visualisasinya di September Hitam.

September Hitam yang dilaksanakan di Pelataran Patung Garuda Mukti Kampus C Universitas Airlangga, cukup berbeda dengan tahun sebelumnya karena kali ini berkolaborasi sehingga konsep pun berubah, seperti diakhir acara biasanya terdapat diskusi bersama tetapi sangat disayangkan kali ini tidak ada hanya ditutup dengan simbolik penaburan bunga dan menyalakan lilin di depan Patung Garuda Mukti dilengkapi dengan foto-foto para pejuang yang hilang dan belum mendapatkan keadilan hingga sekarang. Tuntaskan kasus-kasus, Hidup Korban, Jangan Diam, Lawan!

Penulis: Kaila Libina (Kontributor)

Editor: Rumaisya Milhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *